Nurdin menghilang! Bocah kecil berpipi ranum itu benar-benar seperti hilang ditelan bumi. Sejak pagi tadi hingga kini menjelang maghrib, para pemuda dikampung kecil itu terus menyisir seluruh sudut dusun hingga telaga diperbatasan, disusul dengan turunnya para bapak ikut mencari kemana hilangnya cucu tunggal Mbah Dayat , perempuan tua yang kemudian hanya bisa menangis pilu sambil terus menerus memanggil nama cucu kesayangannya. Rasanya sangat tidak mungkin kalau Nurdin kemudian mampu berjalan hingga perbatasan telaga di arah utara, atau berhasil menebus kebun karet milik Juragan Dibyo yang begitu gelap juga menyeramkan yang lalu akan menghubungkan dua kampung lewat jalan setapaknya? Atau anak itu diculik? Tapi untuk apa? Nurdin bukan anak orang kaya, apalagi bapaknya sudah mulai terkena gejala sakit pikiran sejak ditinggal sang istri tiga tahun yang lalu, sedangkan Mbah Dayat hanyalah seorang pengayam bambu bakal bilik.
Tapi bisa jadi orang yang cukup terpukul akan kepergian Nurdin adalah, Innah, gadis kecil berwajah molek kawan sebangku Nurdin di Sekolah Dasar. Bagi Innah Nurdin sudah menduduki hatinya lebih dari sekedar sahabat, bahkan selama ini rasa sayang pada sosok mungil Nurdin begitu terus menerus tercipta dihati Innah, ada apakah, apakah hilangnya Nurdin ada hubungannya dengan kejadian malam itu?
*
Wajah Nurdin masih tergambar begitu jelas dibenak Innah. Dia masih ingat bagaimana kawan sepermainannya itu lalu begitu terkejut mendengar berita yang disampaikan Innah sebelum pelajaran seni rupa dimulai.
“Hah?” Nurdin begitu terkejut mendengar cerita Innah ,”Masak sih?”
Innah menganggukan kepalanya yang dihiasi dua buah kepang berpita merah jambu pada Nurdin yang duduk tepat disampingnya, sambil merogoh-rogoh tas- lalu mengeluarkan dua buah kaleng crayon.
“He-eh!” tegas Innah lagi, seraya menyodorkan satu kaleng crayon pada Nurdin. Innah paham betul kalau Nurdin tidak pernah punya sebatang crayon dengan warna apapun untuk dibawa serta pada pelajaran seni rupa setiap Senin pagi dikelasnya. Minggu lalu Bu Tini telah menghukumnya, Nurdin mengaku tidak mengumpulkan tugas menggambar karena bukunya tertinggal. Tapi Nurdin tidak pernah bisa membohongi Innah, dan Innah tidak pernah memberikan kesempatan padanya untuk berbohong.
“Tapi untuk apa?” Nurdin kembali bertanya sambil meraih kaleng crayon pemberian Innah.
Gadis itu mengangkat kedua pundaknya tinggi-tinggi,”Gak tahu.”
“Ya sudah Din, “ lanjut Innah ketika melihat kawannya terdiam, “Nanti malam kamu kerumahku saja!”
“Ah, gak ah!” tolak Nurdin cepat- cepat, “Nanti aku diusir bapakmu lagi kayak kemarin!”
Kali ini Innah langsung mengatupkan bibirnya rapat-rapat , benar juga, Innah tidak pernah mau kalau kejadian petang itu terulang kembali dirumahnya.Dia takut pada bapak, dan terlalu takut untuk membantahnya. Ibu bilang bapak itu gila, kalau sudah kesal sama satu orang, turunan orang itupun juga akan dibenci, sampai cucu atau cicitnya meski mereka tidak paham tentang konflik dari para leluhurnya. ”Jadi kalau tidak mau dapat masalah dengan bapakmu, lebih baik ikuti semua permintaannya,” begitu pesan ibu.
“Eh, “ tiba-tiba Innah menjerit kecil ,”Bapak pergi ke Cirebon Din!”
“Hah?” wajah Nurdin cerah bercampur kaget, “Masak sih Nah?”
Innah mengangguk , senyum kemenangan tersungging dibibir mungilnya.
“Emang ngapain?” Nurdin bertanya tidak percaya.
Kali ini Innah mengangkat pundaknya tinggi-tinggi, sambil tersenyum lebar penuh kemenangan seraya mengedipkan mata kirinya, “Gak tahu deh,pokoknya pergi jauh ke Cirebon tadi pagi!”
Kemudian tiba- tiba pintu kelas terbuka lebar, seketika kelas yang ribut kembali menjadi tenang, seorang wanita bertubuh gemuk dengan konde besar dikepalanya memasuki ruangan, berjalan lurus menuju meja guru, lalu berdiri memandangi seluruh siswa didalam kelas yang sudah mengatupkan bibirnya rapat-rapat, “ Selamat pagi anak-anak, keluarkan buku gambar kalian, kita akan mulai pelajaran seni rupa sekarang.” Dua bocah itu lalu tersenyum geli sambil menutupi mulut mereka agar suaranya tidak sampai terdengar ditelinga guru galak bertubuh besar itu, sedang matahari pagi yang masuk dari jendela kelas membuat kedua anak itu tampak bercahaya ,seolah-olah persahabatan mereka akan abadi selamanya.
Kenapa bapak bisa masuk televisi nanti malam? Nurdin bertanya – tanya dalam hati.Dia masih ingat kejadian dimalam itu, waktu segerombolan orang asing bertamu kerumahnya, kemudian tiba- tiba rumah kecilnya itu mulai terasa begitu sempit dan sesak. Orang – orang asing itu mengenakan pakaian bagus dengan tubuh menebarkan semerbak harum yang belum pernah Nurdin cium sebelumnya. Nurdin tidak pernah melihat rupa mereka dikampung ini, mereka pasti datang dari jauh. Dari sekitar lima orang tamu asing yang datang hanya satu orang yang samar – samar dikenali oleh Nurdin, dia adalah pak Dedeh, orang-orang didusun itu menyebutnya dengan ‘ si orang pintar’ dan mungkin paling ‘ pintar dan mempan ‘ dikampung itu. Tapi kenapa pak Dedeh ada disini? Sebelumnya lelaki separuh baya itu tidak pernah perduli untuk mendatangi gubuk tua Nurdin dan bapaknya, apa lelaki berambut putih itu berniat menyembuhkan pikiran bapak yang kata orang sudah mulai sakit? Lalu mereka mau membayar pak Dedeh dengan apa? Jangankan uang, untuk menyajikan kopi bagi para tamupun mereka tidak mampu, toples kopi didapur tidak pernah lagi dipenuhi dengan bubuk kopi sama seperti gentong beras yang tidak pernah penuh lagi seperti dulu sewaktu ibu masih tinggal bersama mereka.
Satu-satunya lampu pijar kecil yang tergantung diruang tamu menjadi penerang ‘rapat’ mendadak dirumah Nurdin. Dengan penuh perjuangan Nurdin berusaha mengusir kantuk yang mulai menggelayuti kedua matanya yang sesekali terpejam. Dari balik tirai lusuh kamarnya , bocah cilik itu terus berusaha agar tetap terjaga dan mencoba untuk mencuri-curi pembicaraan mereka diruang tamu, tapi sia-sia, mata Nurdin hanya bertahan hingga waktu menunjukan hampir pukul 23.00.
Suara riuh diluar rumah membuat Nurdin terjaga dari tidurnya. Tidak disangka hari sudah pagi, dimana bapak? Lalu buru-buru lelaki kecil itu berlari menghambur keluar rumah, tapi disana sudah tidak ada siapa-siapa, yang tersisa tinggal jejak dua tapak mobil diatas tanah becek dengan sedikit asap kebul ditambah segerombolan anak kecil yang sejak tadi berdiri mengkerubung didepan rumah gubuk itu yang lalu langsung berlari menghampiri Nurdin.”Din, bapakmu mau dibawa kemana?” tanya mereka berdesakan, “Bapakmu kenapa Din?”
“Din, bapakmu dibawa ke kantor polisi ya?” mereka terus mendesak Nurdin yang hanya diam sambil menatap lurus jalan becek itu. Airmata seketika membuncah begitu saja membasahi pipinya, lalu bocah itu berlari masuk sambil meraung panjang.
“Kunaon kaseeep?” Mbah Dayat tergopoh-gopoh muncul dari dapur mendengar cucunya menangis.
“Baapppaakkk,” panggil Nurdin sambil terus menangis dan merapatkan tubuhnya pada kaki kursi.
Dengan penuh kasih sayang Mbah Dayat meraih tubuh Nurdin dan membiarkan cucunya itu menangis dalam pelukannya, “Eh, keun wae atuh bapak cari uang.Cup, cup.”
Tapi Nurdin tetap menangis dan terus memanggil nama bapaknya, dia tidak mau lagi bapak pergi seperti ibu yang lalu tidak pernah kembali.
Tak sabar Nurdin menantikan malam, dia benar – benar penasaran dengan cerita Innah pagi tadi dikelas. Apa benar bapak akan masuk televisi malam ini? Selepas Isya , Nurdin sudah mengendap- ngendap mencari sosok Mbah Dayat, Nurdin berharap mbahnya sudah tertidur di dipan tua kamar bapak seperti hari-hari yang lalu . Dan ternyata dugaannya tidak salah, perempuan tua berambut putih dengan konde kecilnya itu sudah lelap di dipan milik bapak, suara nafasnya begitu teratur dan nyenyak, tubuhnya yang kurus dibalut kain tampak nyaman diatas dipan. Sambil menahan sorak gembiranya, bocah cilik itu menirukan gaya penyanyi dangdut dengan bergoyang – goyang lalu berjingkat-jingkat meninggalkan rumah, berlari menembus malam bertabur bintang dengan senyum menuju rumah sahabatnya, Innah.
Cukup lelah berlari diburu kegembiraan yang terlalu, hingga Nurdin tak sanggup menahan luapan bahagianya saat dari kejauhan atap rumah Innah yang besar sudah nampak menyambut. Tanpa mengindahkan nafasnya yang tersenggal lelaki mungil itu berlari terus mendekati rumah Innah, tubuhnya terlihat bercahaya dibalik jaket rajutnya yang berwarna kuning, wajahnya yang tampan terlihat begitu segar dengan butiran-butiran keringat yang mulai nampak diantara hidung dan pipi ranumnya.
Tapi langkahnya terhenti, saat dilihat segerombolan bapak sedang asyik bergolek- golek dibawah gelapnya langit tepat didepan pagar rumah Innah. Bercanda dan tertawa dengan suara besar yang menakutkan, menurut Nurdin. Dia hampir terjatuh saat terkejut akan pemandangan didepannya.
“Hai, anak siapa ini?” goda seorang bapak berbadan gemuk yang bergolek dengan dada telanjang dan perut buncit, disusul tawa para bapak yang kemudian memandangi Nurdin kecil yang seperti tenggelam dibalik jaket rajut kuningnya. Merasa terkejut dan takut, Nurdin menggeleng- gelengkan kepalanya dengan kencang lalu berlari tak tentu arah mencoba mengenyahkan tawa mereka yang terus mengiang ditelinga Nurdin. Kelelahan yang luar biasa akhirnya menghentikan langkah terburu Nurdin,namun tiba-tiba dia teringat akan gang kecil dibelakang rumah Innah. Gang kecil itu adalah jalan sempit menuju pasar, tapi bukan pasar tujuan Nurdin, dia teringat bahwa dinding gang itu adalah dinding rumah Innah, dan dia ingat kalau dinding itu berjendela. Tanpa pikir panjang Nurdin kembali berlari diatas sepatu talinya.
Gang kecil itu begitu gelap, satu-satunya sinar yang menerangi sebagian kecil lorong panjang itu hanyalah cahaya yang keluar dari jendela rumah Innah.
”Yeaaahh!!” Nurdin menjerit gembira sambil memutar tubuhnya, dan mendekati gang itu dengan berjalan layaknya seorang pemabuk. “Ole-ole-ole-ole,” luapan kegembiraan keluar dari senandung kecilnya. Lalu lelaki kecil itu berdiri tepat dibawah jendela rumah Innah, bibir mungilnya tanpa perduli meneriakan nama sahabatnya berulang – ulang, “Innah, Innah, woii!!” Kepala Innah segera muncul dari dalam jendela dengan wajah penuh keterkejutan, “Hei, kenapa disitu??!!” Nurdin tertawa geli mendengar pertanyaan Innah yang begitu cemas.
“Dari sini saja deh,” jawab Nurdin sambil menahan tawanya, “Ambilkan aku kursi dong untuk melihat televisimu dari sini!”
Innah langsung mengangguk dengan cepat.
Sebuah kursi plastik terjulur dari dalam jendela, sedang suara televisi terdengar makin nyaring hingga menembus dinding pembatas gang. “Cepat sudah mulai dari tadi tuh acaranya,” perintah Innah pada Nurdin yang tengah sibuk mengatur posisi berdiri kursi.
“Iya, iya, “Nurdin mengangguk sambil mencoba berdiri diatas kursi plastik itu, kemudian tangan kecilnya berusaha menggapai bibir jendela rumah Innah
“Sini aku bantu,” Innah lalu meraih punggung tangan Nurdin dan mencoba menahan bahunya yang sudah sampai didaun kusen jendela, “Cepat sedikit.”
Tapi Nurdin tidak menghiraukan ucapan Innah, matanya menatap lurus pada layar televisi yang menampilkan sosok bapak disana. Tanpa perlu bertanya lagi dia sudah tahu kalau itu bapak, bapaknya yang selalu datang dalam mimpi dan mengusik malam-malamnya , bapaknya yang selalu dirindukan Nurdin meski apapun kata orang tentang penyakit pikiran yang mulai menggelayuti si duda pikun itu. Meski kata orang dia punya penyakit pikiran, tapi nyatanya bapak tidak pernah menertawai Nurdin atau memukulnya, walaupun hari-harinya hanya dihabiskan diatas kursi reyot sambil memandangi jalan dari pagi hingga petang, lalu masuk untuk berbaring saat gelap mulai turun menutup semua yang menyilaukan mata.
“Bapak…”bisik Nurdin tidak percaya, dan tiba tiba dia terkejut bukan kepalang hampir terjatuh dari kursi tempatnya berdiri , saat dilihat sang bapak meloncat – loncat bak orang kesurupan, lalu merangkak layaknya seekor macan didepan televisi. Kedua anak kecil itu terdiam menganga menahan keterkejutannya.
“Bapakmu malam – malam begitu ada dikuburan Din, “ bisik Innah gelisah. Tapi Nurdin tidak menjawab ucapan Innah yang lebih mirip pertanyaan. Dia terus menatap nanar televisi saat dilihatnya bapak kembali melompat-lompat kemudian seperti menyerang ,lalu menjerit seperti orang kesakitan.
Samar - samar dari kejauhan terdengar suara motor seperti mendesing begitu saja ditelinga dan pikiran Innah. Tanpa menunggu, perempuan mungil itu menjerit sambil membalikkan tubuhnya memeluk erat kepala dan mencoba menarik punggung Nurdin merapat pada tembok, tapi semua sia-sia. Suara jeritan panjang memecah keheningan malam diluar, “Nuuuurrrdddiiinnnn!!!” tapi kawannya itu sudah terjatuh dari kursi disusul suara berdetum begitu keras.Sebuah motor menabrak tubuh mungil Nurdin dari gang sempit itu.
Nurdin segera dilarikan kerumah sakit terdekat. Dirawat selama hampir satu minggu, dan kembali dengan perban tebal dikepalanya. Tubuhnya yang mungil melangkah terbata-bata seturunnya dari becak, pagi itu. Dan pelukan rindu menghambur dari Innah begitu saja pada sosok mungil Nurdin yang kembali dengan mengenakan baju baru berwarna merah lengkap dengan celana panjang baru berwarna coklat. “Apakah kamu baik-baik saja?” suara Innah begitu khawatir disusul tangis yang sudah tidak terbendung lagi , Innah sungguh-sungguh merasa kejadian malam itu sepenuhnya adalah tanggungjawabnya. Lalu dipandanginya lekat-lekat mata jernih Nurdin yang hanya membalas tangis itu dengan seringai tipis dibibirnya, “Aku tidak apa-apa.” Lalu Innah kembali memeluknya erat-erat, dan menggeleng dengan rasa bersalah, “Maafkan aku, maafkan aku ya Din!”
“Nurdin pergi mbah!” jerit Nurdin dari depan pintu pada Mbah Dayat yang masih sibuk menyusun kayu bakar didapur sore itu.
“Kemana ?!” Mbah Dayat terkejut mendengar cucunya sudah mau pergi lagi, padahal baru pulang dari Rumah Sakit tadi pagi.
“Nanti juga Nurdin pulang, main sebentar kok!” jawab Nurdin sambil merogoh saku celananya, memastikan kalau uang pemberian bapaknya tidak lupa dibawa
*
Tertatih – tatih Nurdin berjalan menahan rasa sakit yang mulai menyerang kedua kakinya. Kepalanya terasa begitu pening, dia berjalan terlalu jauh sore itu. Tapi wajahnya tiba – tiba tersenyum bercampur lelah yang ternyata tidak sia-sia. Lelaki kecil itu terus melangkah , sedang kedua tangannya memegang nampan berisi kembang tujuh rupa serta beberapa butir telur ayam kampung. Matanya menyapu pemakaman yang sepi itu, hari hampir gelap, lalu dengan lantang dia menjerit , “Terima kasih yaaa!!!”
“Terima kasihhh,”ulangnya, “Sekarang Nurdin punya baju baru dan banyak uang!!”
Suara lantangnya menggema terbentur dinding – dinding pemakaman yang begitu sepi dan mulai berkabut.
“Terimakasihh, Nurdin sayang sama kaliannnn!!Terimakasihhhh!” ulangnya girang tanpa sadar hari mulai gelap.
No comments:
Post a Comment