Yang tersisa tinggal sebuah pohon bunga Bougenvile ,berdiri rapuh diantara sederet pohon tanaman hias lainnya yang sudah mati. Pohon bunga Bougenvile itu terlihat begitu berjuang mempertahankan keindahan dan keanggunan rupanya pada suasana yang sudah begitu sepi dan kosong. Aku masih berdiri didepan pintu pagar besi berkarat, menyeret langkah berat seolah –olah terlalu takut untuk berhadapan dengan setan - setan dari masa lalu.
Dan seperti biasa, cahaya matahari pagi jatuh dengan hangat ditemani angin sejuk yang menyapu daratan. Tidak ada yang berubah pada tempat ini, sebuah rumah mungil dibangun diujung jalan jauh dari keramaian, dengan cat tembok yang sudah mulai usang berwarna salem,dilengkapi dua jendela dengan warna merah tua dan sebuah pintu kayu yang menjadi pintu perpindahan dua dunia. Dua buah kursi teras dari besi tampak mulai memiliki karat pada kaki-kakinya seolah –olah menyimpan sejuta cerita dan rahasia. Rumah ini sudah lama kosong, aku sendiri tidak tahu kemana perginya mereka. Dua hari yang lalu , mbak Jovie yang menelephoneku untuk mengabarkan perihal kekosongan rumah di Bogor ini. Mbak Jovie adalah kakak dari ibu tiriku, wanita yang dinikahi ayah empat belas tahun yang lalu.
“ Apa ? “ tanyaku bingung, “ Bagaimana maksudnya mbak Jovie?”
“ Soff, mbak tanya kemana pindahnya ayahmu, juga Laras ibu tirimu?” ulangnya,
“ Rumah di Bogor itu kosong, kemarin mbak kesana dan kata tetangga- tetangga disana mereka sudah pindah sekitar setahun tahun yang lalu,” lanjutnya.
Aku terdiam.
Setahun yang lalu?
Semakin aku melangkah mendekati pintu rumah, seolah-olah semakin terdengar jelas riang tawa cekikik adik – adik tiriku ,suaranya beradu menggema pada dinding –dinding yang rapuh yang mungkin seolah tak mampu lagi untuk menampung kisah baru dari penghuninya.Aku masih ingat mereka dengan jelas ,mereka dengan ciri khas mereka sendiri –sendiri, mereka dengan gaya mereka sendiri – sendiri mempertahankan dunia mereka diantara detuman histeris jeritan jiwa para orangtua. Mereka yang selalu tertawa dalam segala suasana, menyegarkan nafas yang selalu terulang kembali pada titik jenuh tiada berkesudahan. Kutundukan kepalaku menatap sebuah kunci tunggal pada telapak tanganku yang begitu pucat.Kunci yang tidak berubah dan tidak pernah berkarat, kokoh , fungsinya lebih mirip sebuah flashdisk dengan ribuan memory mengenai tawa dan airmata. Aku masih berharap kala mendorong pintu ini terbuka,masih akan kulihat senyum Laras yang selalu sibuk dibalik meja makan menghidangkan berupa hidangan, dan hanya itu yang selalu diulangnya padaku , “ Ayo makan dulu,” hanya itu selalu. Atau pasti aku akan menangis saat tidak kutemukan lagi adik – adikku menghambur menyeruak kearahku, berceloteh sahut diantara sahutan yang lain, menomor satukan diri dari adik atau kakaknya sekedar memintakan sebuah keinginan untuk dikabulkan, “Jalan – jalan ya !” pinta mereka, atau si Bagus akan mendorong kakak –kakaknya lalu meraih tanganku untuk mendatangi sepeda barunya,” Lihat deh aku bisa mengendarai sepeda roda dua,” ujarnya bangga. Tapi yang jelas kerinduanku tiada berkesudahan pada si sulung Maya, yang selalu berdiri malu –malu dari kejauhan,tubuhnya semakin langsing menginjak usianya yang ke tiga belas.Dia hanya tersenyum, sambil menuruti perintah ibunya untuk segera mengisi teko beling dengan air dingin. Sedang ayah tetap seperti biasanya sibuk membersihkan pigura-pigura diatas kayu penompang kaki lumpuhnya.
Tapi semua kosong begitu pintu kayu itu berderit menampakan isi rumah yang dijatuhi sinar-sinar bidang dari langit – langit yang bolong juga dari ventilasi – ventilasi ruang makan.Tidak ada suara ,kecuali hanya bayang – bayang dari masa lalu yang berkelebat sesekali.
Tubuhku terhempas diatas kursi kayu meja kerja ayah yang terletak disudut ruangtamu, debunya begitu tebal meski meja itu sudah benar – benar kosong tanpa selembarpun sisa sebuah pekerjaan. Dulu kami biasa berbicara diatas meja ini, diatas meja ini juga kami bermain catur hingga larut malam,diatas meja ini juga kami bertengkar saling menyudutkan dengan ribuan hujatan atas kebodohan masing –masing, yang akhirnya hanya melukai perasaan tiap- tiap jiwa dari kami. Sebuah senyum lepas dibibirku saat teringat akan sosok ayah, diatas kaki lumpuhnya dia masih bisa tertawa , masih bisa marah ,membentak ,dan juga menangis. Aku tidak pernah menyalahkan dia, karena perasaan jatuh cinta untuk kedua kalinya itu. Aku juga paham bahwa rumah tangga yang dibangunnya bersama ibu lebih banyak melahirkan ketidak tentraman dibalik meruahnya sebuah kejayaan dan kilauan yang menutupi sebongkah perasaan hitam kelamnya sebuah kekecewaan. Aku tidak pernah mengerti isi sebuah jiwa dari ayah.
Tidak bertanggungjawab, kurang ajar dan setan alas.itu yang ada dikepalaku dulu tentang ayah. Bagaimana mungkin dia meninggalkan ibu yang begitu cantik dan baik? Lari dengan seorang perempuan dari perkampungan yang tidak pernah jelas asal –usulnya,bagaimana tingkat pendidikannya, seberapa jauh keadaan keluarganya? Gila! Aku memutuskan segala yang menjadi dasar atas kehancuran keluarga ini adalah dia, dan akibat segala kesintingan pola pikirnya! Tapi apakah memang demikian? Apakah memang cinta dilahirkan untuk memecahkan sebuah ketenangan,memburamkan segala arti keindahan dan menjerumuskan makna ketentraman dari fungsi cinta itu yang sesungguhnya?
“ Jadi ayah tidak tentram dengan ibu ?” tanyaku padanya saat kami akhirnya bisa duduk berdampingan menunggui ibu yang terbaring di Rumah Sakit karena mengalami luka pada dinding lambungnya waktu itu. Lelaki itu hanya tersenyum pahit. “ Ayah, “bisikku sambil menatap lelaki yang sudah tinggal serumah lagi dengan kami itu ,” Jika kalian tidak bisa saling mencintai setidaknya janganlah kalian saling menyakiti.”
Tapi bisikan itu tidak menyelesaikan masalah. Semua benar –benar berubah. Usaha bunuh diri,jeritan ditengah malam dari kamar ibu, hentakan dan pemberontakan dari sebuah jiwa yang begitu tersiksa.semua begitu mengesalkan dan memuakan,menjijikan. Aku anggap mereka berdua adalah orang gila,ibuku yang mulai gila dengan minuman, dan ayahku yang mulai gila dengan pikirannya yang tidak pernah aku pahami.
Ingatanku kembali pada kisah lalu, dimana dengan lusuh aku mendatangi rumah kecil ayah dan istrinya ini. Waktu itu rumah kecil ini begitu indah dihiasi bunga – bunga yang berkembang , tersenyum dan bernyanyi,terutama bunga Bougenvile itu. Dari dalam terdengar tertawa geli para bocah disusul tertawa hangat ayah,jeritan khawatir seorang perempuan dipadukan canda.
“ Soffie?” ayah berdiri terkesima didepan pintu saat ditemuinya aku mendorong pintu itu terbuka lebar. Aku seperti anak singa yang telah terluka parah.
Itu permintaanku padanya, aku memintanya untuk pulang kerumah ibu barang sehari atau dua hari, sekedar untuk mengajak ibu bicara. Memintanya untuk membujuk ibu menghentikan kebiasaan minumnya, dan menghentikan kebiasaannya main lelaki atau apalah yang wajib dilakukannya untuk bisa mengembalikan rasa mencintai dirinya sendiri pada ibu! Besoknya ayah pulang , dan kembali tiga hari kemudian dalam sebuah berita ,bahwa dia dipukuli orang hingga harus diopname di Rumah Sakit. Lalu dia menjadi lumpuh seumur hidup.
“ Aku akan pindah ke Kuala Lumpur,” ujar ibu saat kutemui dia tengah mengemasi barang – barangnya sambil menghembuskan asap rokok dari bibirnya.
“ Kuala Lumpur?” aku mengernyitkan dahiku,
“Kau bertanggungjawab penuh akan rumah ini nona , aku akan terus mengirimimu uang pada rekeningmu, dan aku berikan Nunik untukmu, “ tambahnya sambil menunjuk pembantu muda kami yang ikut repot mengemasi barang.
“ Bu,aku mau tahu siapa yang menyakiti ayah waktu dia kemari kemarin?” tanyaku, memang itu intinya aku mendatangi rumah ini lagi, sekedar menantang keberaniannya untuk menjawab dari apa yang menjadi tindakan pengecutnya.
Perempuan itu langsung mengangkat alisnya tinggi – tinggi,” Hati – hati dengan mulutmu nona cantik!”
‘”Tapi ibu bisa beli semua dengan uang,” sanggahku.
“ Aku tidak bisa membeli ayahmu, apa itu belum jelas dimatamu bodoh?” dia balik menyerangku .
“ Aku beritahu padamu nona , aku mencintai ayahmu dan tidak pernah bisa menyakitinya, tapi bisa jadi orang –orang yang mencintaiku sakit hati atas apa yang dilakukan oleh ayahmu,” tambahnya, “ Terhadap aku.”
Kepalaku serasa berputar. Aku masih ingat dengan paman Vincent, dia adalah paman yang begitu sering datang kerumah ini.Menjenguk ibu dan aku. Bukan sekali dua kali kudengar dia geram dan ingin menghabisi ayah. Tapi aku sendiri tidak perduli, kenapa aku harus perduli dengan mereka yang tidak perduli dengan aku? Apakah ini adalah sebuah kewajiban dan hutang yang harus dibayar karena mereka telah melahirkan aku kedunia,memberikan aku kesempatan melihat warna dan coraknya bumi yang penuh dengan rentetan inspirasi? Huh, orangtua gila.
Lalu dia menghisap dalam – dalam rokoknya, dan berbicara ,” Aku akan menikah disana dengan Peter, dan menetap disana.”
Aku tetap berdiri dikamar ibu tanpa reaksi.kadang aku berpikir kamar tidur ini terlalu luas untuk ditiduri sendiri, tapi ibu tidak pernah mengajakku untuk tidur bersamanya. Selain dia sering berpergian kerumah tanpa aku tahu kapan dia kembali, dan ketika aku tahu dia kembali,dia lebih senang mengunci diri didalam kamar dan mabuk. Aku rasa itu adalah penderitaan, dan saat aku mencoba mengingatkannya dia hanya tersenyum sambil menepuk –nepuk pipiku bertahan menahan pening kepalanya sisa mabuk semalam, “ Anak bodoh,selesaikan sekolahmu dan berjuanglah untukku.Jangan sampai aku dengar mereka bilang aku tidak bisa didik anak,setelah tidak bisa didik suami!” Matanya menatapku diatas kelopaknya yang mulai mengantuk .
Dan ketika kopernya sudah siap, dengan lega dia duduk diatas ranjang mewahnya,meraih ponsel dibawah bantal dan berbicara dengan bahasa Inggris pada lelaki yang disebut-sebutnya sebagai Peter. “ I’ m ready Peter, where are you now?” ibu bertanya dengan aksen yang tepat, “ Oke,five minutes again, don’t be late!” .
Mataku tidak berkedip sedikitpun, tidak sulit mungkin bagi ibu untuk mencari pria lain dalam hidupnya untuk mengusir sepi, dia memiliki wajah yang cantik, tingkat kecerdasan luar biasa , dan uang yang cukup untuk hidup diatas kemewahan.
“ Aku mencintai ayahmu sampai mati, “ ujarnya tiba –tiba seolah –olah dia paham bahwa aku tengah memikirkannya, “ Mengertilah sayang, kalau aku terus disini, aku bisa gila karena membutuhkannya.” Itu sudah terjadi padamu, bisikku dalam hati. “ Ijinkan aku pergi oke? Urus rumah ini baik –baik, jangan kau ledakan! “ dia tertawa kecil, “ Dasar anak tunggal selalu berat untuk ditinggalkan!” Aku tersenyum mendengar dia mencoba menghibur dirinya sendiri,lalu tanpa sadar kuulurkan tanganku menggenggam tangannya yang pucat, jari manisnya masih dilingkari cincin emas buah pernikahannya dulu dengan ayah, “ Baik-baiklah disana , aku tidak akan mengecewakanmu.” Dia lalu memandangi wajahku dan tersenyum, kemudian mengangguk, “ I know when you were born , you wont disappointed me.” Lalu suara klakson mobil terdengar nyaring dari pintu pagar, tergopoh-gopoh Nunik berlari menuruni untuk membuka pagar. “ Pasti Peter,” ujar ibu sambil menjinjing kopernya turun menyusul Nunik.
Lalu aku tidak sanggup untuk hidup sendiri. Sekali dua kali aku berkunjung ke Bogor, bukan kota yang harus ditempuh berjam –jam, Jakarta - Bogor cuma makan beberapa menit dengan kereta api. Sekali seminggu berkunjung kerumah yang nyaman,kecil dan hangat.
Biasanya adik –adik tiriku akan mengambur kearahku, berceloteh riang, sedang ayah tersenyum hangat menganggukan kepala dan melambaikan tangan isyarat ‘ halo ‘diatas penyanggahnya. Dia tidak lagi bekerja, sehari –hari dia membantu Laras, istrinya menjalankan usaha pesanan katering. Bukan katering besar –besaran,cuma menerima pesanan kue tart,tumpeng dan berdagang snack yang dititipkan dari toko ke toko. Hal yang paling aku sukai adalah kala malam menjelang, aku akan berbaring terlentang diantara keempat adik kecilku diatas ranjang besar,kemudian membacakan sebuah buku dongeng bergambar besar.
Hidup akan menjadi sulit kalau keadaan terus menerus seperti ini, anak – anak semakin besar dengan kebutuhan yang semakin meningkat baik dari kwalitas maupun nilai nominalnya. Aku pernah membicarakan ini pada ayah,sambil menitipkannya uang sebelum aku kembali ke Jakarta untuk menyelesaikan program diplomaku. Kuliah bukan sesuatu yang berharga dimataku, ini lebih condong pada janji yang pernah aku ‘iya’kan pada ibu. Bebas! Mau pilih study jenis apapun,aku tidak perduli,yang penting lulus dan bekerja untuk mengisi kekosongan hidup.
Liburan kuliah aku habiskan dirumah mungil itu, aku bahagia punya keluarga,bangga dan begitu berarti saat bisa kudengarkan si sulung Maya menarikku kedalam kamar saat usai makan siang,lalu dengan malu – malu dia menyodorkan sebuah surat didalam amplop merah jambu.
“Apa ini ?” tanyaku bingung.
Tapi dia hanya tersenyum dan tersipu malu dan berbisik, “ Aku dapat ini dari Soleh.”
“ Soleh?” tanyaku tambah bingung,
‘He-eh, dia ketua osis disekolah,” jawabnya sambil mengkulum bibir mungilnya.
Ah, dia menunjukan padaku sebuah surat cinta.
Semua begitu jelas dimataku. Rumah ini dan bunga Bougenvile itu. Laras sangat suka bercocok tanam, saat liburan itu berlangsung sering kupandangi dia mengurusi tanaman – tanaman hiasnya ,menggemburkan tanah dipot dengan golok sambil bercerita,
“Bougenvil itu paling mudah dirawat, “ ujarnya sambil terus berjuang menggemburkan tanah si mawar menganggapi pertanyaanku tentang bunga Bougenvile, “Kita tinggal mengambil batangnya dan menancapkannya pada tanah,dia pasti tumbuh, dan bunganya bagus – bagus meski tidak harum!” Aku mengangguk sambil duduk diatas kursi besi teras yang waktu itu belum berkarat sama sekali.
“Ayahmu aku ajari untuk mencintai tumbuhan, “ tambahnya, “ Belakangan ini ayahmu jadi pendiam,untunglah kau datang menghidupkan sepinya.” Laras terus bicara tanpa memandang kearahku,rambutnya yang ikal bergoyang-goyang saat dia menarik pot bunga Bougenvile sedikit merapat kepagar,”Sebentar lagi dia berbunga ,akan indah dipandang dari luar, rumah kita seperti rumah impian!” Aku tersenyum.
“ Bagaimana si kembar ?”tanyaku saat teringat dengan Bagus, adik kembarku. Bagus lebih pendiam dari saudara kembarnya Akbar.Bagus lebih banyak diam sambil membaca atau menemani si bungsu tidur , dibandingkan dengan Akbar yang kulitnya sampai hitam karena banyak bermain layang –layang dan bermain bola dilapangan bersama kawan-kawan.
“ Hahaha,mereka lucu sekali,meski kembar sifat mereka sangat jauh berbeda!” jawabnya dengan bangga, “ Kalau Bagus dekat dengan adiknya, dan Akbar lebih dekat dengan kawan – kawan regu sepak bolanya!” Kamipun tertawa .
Kesibukan kuliah dan mencari pekerjaan rupanya cukup menyita waktuku, aku tidak sempat lagi untuk pulang, bahkan aku dipadati kesibukan saat mendapati tawaran training sebagai rekan assisten editor disebuah perusahaan besar yang bergerak dibidang penerbitan.Lalu dengan ucapan terimakasih tanpa ujung aku memberhentikan pembantuku Nunik dan memutuskan menjual rumah ibu untuk pindah ke lokasi yang dekat dengan kantor.Mengusir sepi dari rumah yang terlalu besar untuk ditinggali sendiri,mencoba melupakan ibu yang telah meninggal di Malaysia karena penyakit kanker hatinya. Malam itu Maya menelephone keponselku untuk mengabari kalau ayah masuk Rumah Sakit karena meminum racun serangga! Dan langsung dengan kereta malam aku menyusul ayah di Rumah Sakit Bogor.
Mataku menyapu setiap sudut rumah yang sudah kosong itu. Sejuta kenangan tersingkap dibalik debu pada lantai, menyisakan tapak- tapak masa lalu yang tidak mengerti kemana arah dimasa depan. Aku masih ingat bagaimana saat itu tengah malam aku menemukan Maya asyik dengan rokoknya dihalaman belakang jemuran, saat semua pergi ke Rumah Sakit mengurus ayah. “ Gila, apa yang kau lakukan?” bentakku marah sambil menampar wajahnya , dia terkejut bukan main.
“ Kak Soffie, aku kira, “ ujarnya gugup.
“Kau kira aku ikut ke Rumah Sakit?” tantangku, tapi dia tidak membalas, dia diam dibalik keterkejutannya.
“Usaha bunuh diri bukan ide yang bagus untuk lari dari masalah,” ujarku pada ayah yang terbaring lemah siang itu diranjang besi Rumah Sakit.
“ Sekarang aku melukai semua orang,” bisiknya bertahan,”Aku bertanggungjawab atas kematian ibumu.”
“Katakan padaku,apa fungsiku disini??” tambahnya.
Aku mencibir ,” Pertanyaan dan pernyataan yang bodoh.”
Dia terdiam lagi.
“ Tidak,dan aku tahu benar Laras berselikuh!” tambahnya, “ Dia selingkuh!”
Aku menggeleng,” Pemikiran bodoh lainnya.”
“Dia tidak selingkuh,” tambahku.
“ Kau yang bodoh,apa yang didapatkan dari aku? Si lumpuh dan miskin? Buka matamu Soff!!” dia mulai berargumentasi. Sedang aku menatapnya dengan diam, aku telah terbiasa dengan keadaan aneh-aneh yang dibuat para orangtua atau oleh para wanita pada khususnya.
“ Bisa jadi ibu memang selingkuh, “ ujar Maya saat mengantarku kestasiun untuk kembali ke Jakarta sore itu, “ Rumah sekarang lebih mirip neraka,kakak tahu itu?”
Aku memandanginya dengan kesal,” Tunggu saja sebentar lagi, akan kubawa ayah dan kalian ke Jakarta kalau memang ibumu berselingkuh!”
*
Tanpa sadar aku menyentuh perlahan kursi ayah, mencoba membelai kembali kerinduan yang tiada bertepi,akan kehangatan dan kebingungan dari pola pikirnya. Tiba –tiba ponselku berdering,telephone dari kantor pusat.
Dengan berat kutinggalkan jejak langkahku pada lantai sisa –sisa hidup yang lalu, dan berhenti tepat didepan pot bunga Bougenvile. Bunga itu tersenyum hangat padaku,seolah-olah membuktikan bahwa dia telah menepati janjinya untuk membuat rumah ini tetap indah meski apapun yang terjadi.Dengan gagah kuraih sebuah golok dibawah pot itu menyerupai ibu anak- anak, golok yang biasa dipakai Laras untuk menggemburkan tanah, lalu kuhunuskan golong itu pada batang bunga Bougenvile.
Tanpa menoleh lagi kebelakang kubawa serta batang bunga Bougenvile pergi bersamaku , berharap dia memberikan keindahan seperti apa yang pernah dia berikan untuk rumah ayah.
No comments:
Post a Comment