Saturday, September 18, 2004

NURDIN

Nurdin menghilang! Bocah kecil berpipi ranum itu benar-benar seperti hilang ditelan bumi. Sejak pagi tadi hingga kini menjelang maghrib, para pemuda dikampung kecil itu terus menyisir seluruh sudut dusun hingga telaga diperbatasan, disusul dengan turunnya para bapak ikut mencari kemana hilangnya cucu tunggal Mbah Dayat , perempuan tua yang kemudian hanya bisa menangis pilu sambil terus menerus memanggil nama cucu kesayangannya. Rasanya sangat tidak mungkin kalau Nurdin kemudian mampu berjalan hingga perbatasan telaga di arah utara, atau berhasil menebus kebun karet milik Juragan Dibyo yang begitu gelap juga menyeramkan yang lalu akan menghubungkan dua kampung lewat jalan setapaknya? Atau anak itu diculik? Tapi untuk apa? Nurdin bukan anak orang kaya, apalagi bapaknya sudah mulai terkena gejala sakit pikiran sejak ditinggal sang istri tiga tahun yang lalu, sedangkan Mbah Dayat hanyalah seorang pengayam bambu bakal bilik.
Tapi bisa jadi orang yang cukup terpukul akan kepergian Nurdin adalah, Innah, gadis kecil berwajah molek kawan sebangku Nurdin di Sekolah Dasar. Bagi Innah Nurdin sudah menduduki hatinya lebih dari sekedar sahabat, bahkan selama ini rasa sayang pada sosok mungil Nurdin begitu terus menerus tercipta dihati Innah, ada apakah, apakah hilangnya Nurdin ada hubungannya dengan kejadian malam itu?


*

Wajah Nurdin masih tergambar begitu jelas dibenak Innah. Dia masih ingat bagaimana kawan sepermainannya itu lalu begitu terkejut mendengar berita yang disampaikan Innah sebelum pelajaran seni rupa dimulai.
“Hah?” Nurdin begitu terkejut mendengar cerita Innah ,”Masak sih?”
Innah menganggukan kepalanya yang dihiasi dua buah kepang berpita merah jambu pada Nurdin yang duduk tepat disampingnya, sambil merogoh-rogoh tas- lalu mengeluarkan dua buah kaleng crayon.
“He-eh!” tegas Innah lagi, seraya menyodorkan satu kaleng crayon pada Nurdin. Innah paham betul kalau Nurdin tidak pernah punya sebatang crayon dengan warna apapun untuk dibawa serta pada pelajaran seni rupa setiap Senin pagi dikelasnya. Minggu lalu Bu Tini telah menghukumnya, Nurdin mengaku tidak mengumpulkan tugas menggambar karena bukunya tertinggal. Tapi Nurdin tidak pernah bisa membohongi Innah, dan Innah tidak pernah memberikan kesempatan padanya untuk berbohong.
“Tapi untuk apa?” Nurdin kembali bertanya sambil meraih kaleng crayon pemberian Innah.
Gadis itu mengangkat kedua pundaknya tinggi-tinggi,”Gak tahu.”

“Ya sudah Din, “ lanjut Innah ketika melihat kawannya terdiam, “Nanti malam kamu kerumahku saja!”
“Ah, gak ah!” tolak Nurdin cepat- cepat, “Nanti aku diusir bapakmu lagi kayak kemarin!”
Kali ini Innah langsung mengatupkan bibirnya rapat-rapat , benar juga, Innah tidak pernah mau kalau kejadian petang itu terulang kembali dirumahnya.Dia takut pada bapak, dan terlalu takut untuk membantahnya. Ibu bilang bapak itu gila, kalau sudah kesal sama satu orang, turunan orang itupun juga akan dibenci, sampai cucu atau cicitnya meski mereka tidak paham tentang konflik dari para leluhurnya. ”Jadi kalau tidak mau dapat masalah dengan bapakmu, lebih baik ikuti semua permintaannya,” begitu pesan ibu.

“Eh, “ tiba-tiba Innah menjerit kecil ,”Bapak pergi ke Cirebon Din!”
“Hah?” wajah Nurdin cerah bercampur kaget, “Masak sih Nah?”
Innah mengangguk , senyum kemenangan tersungging dibibir mungilnya.
“Emang ngapain?” Nurdin bertanya tidak percaya.
Kali ini Innah mengangkat pundaknya tinggi-tinggi, sambil tersenyum lebar penuh kemenangan seraya mengedipkan mata kirinya, “Gak tahu deh,pokoknya pergi jauh ke Cirebon tadi pagi!”

Kemudian tiba- tiba pintu kelas terbuka lebar, seketika kelas yang ribut kembali menjadi tenang, seorang wanita bertubuh gemuk dengan konde besar dikepalanya memasuki ruangan, berjalan lurus menuju meja guru, lalu berdiri memandangi seluruh siswa didalam kelas yang sudah mengatupkan bibirnya rapat-rapat, “ Selamat pagi anak-anak, keluarkan buku gambar kalian, kita akan mulai pelajaran seni rupa sekarang.” Dua bocah itu lalu tersenyum geli sambil menutupi mulut mereka agar suaranya tidak sampai terdengar ditelinga guru galak bertubuh besar itu, sedang matahari pagi yang masuk dari jendela kelas membuat kedua anak itu tampak bercahaya ,seolah-olah persahabatan mereka akan abadi selamanya.

Kenapa bapak bisa masuk televisi nanti malam? Nurdin bertanya – tanya dalam hati.Dia masih ingat kejadian dimalam itu, waktu segerombolan orang asing bertamu kerumahnya, kemudian tiba- tiba rumah kecilnya itu mulai terasa begitu sempit dan sesak. Orang – orang asing itu mengenakan pakaian bagus dengan tubuh menebarkan semerbak harum yang belum pernah Nurdin cium sebelumnya. Nurdin tidak pernah melihat rupa mereka dikampung ini, mereka pasti datang dari jauh. Dari sekitar lima orang tamu asing yang datang hanya satu orang yang samar – samar dikenali oleh Nurdin, dia adalah pak Dedeh, orang-orang didusun itu menyebutnya dengan ‘ si orang pintar’ dan mungkin paling ‘ pintar dan mempan ‘ dikampung itu. Tapi kenapa pak Dedeh ada disini? Sebelumnya lelaki separuh baya itu tidak pernah perduli untuk mendatangi gubuk tua Nurdin dan bapaknya, apa lelaki berambut putih itu berniat menyembuhkan pikiran bapak yang kata orang sudah mulai sakit? Lalu mereka mau membayar pak Dedeh dengan apa? Jangankan uang, untuk menyajikan kopi bagi para tamupun mereka tidak mampu, toples kopi didapur tidak pernah lagi dipenuhi dengan bubuk kopi sama seperti gentong beras yang tidak pernah penuh lagi seperti dulu sewaktu ibu masih tinggal bersama mereka.
Satu-satunya lampu pijar kecil yang tergantung diruang tamu menjadi penerang ‘rapat’ mendadak dirumah Nurdin. Dengan penuh perjuangan Nurdin berusaha mengusir kantuk yang mulai menggelayuti kedua matanya yang sesekali terpejam. Dari balik tirai lusuh kamarnya , bocah cilik itu terus berusaha agar tetap terjaga dan mencoba untuk mencuri-curi pembicaraan mereka diruang tamu, tapi sia-sia, mata Nurdin hanya bertahan hingga waktu menunjukan hampir pukul 23.00.
Suara riuh diluar rumah membuat Nurdin terjaga dari tidurnya. Tidak disangka hari sudah pagi, dimana bapak? Lalu buru-buru lelaki kecil itu berlari menghambur keluar rumah, tapi disana sudah tidak ada siapa-siapa, yang tersisa tinggal jejak dua tapak mobil diatas tanah becek dengan sedikit asap kebul ditambah segerombolan anak kecil yang sejak tadi berdiri mengkerubung didepan rumah gubuk itu yang lalu langsung berlari menghampiri Nurdin.”Din, bapakmu mau dibawa kemana?” tanya mereka berdesakan, “Bapakmu kenapa Din?”
“Din, bapakmu dibawa ke kantor polisi ya?” mereka terus mendesak Nurdin yang hanya diam sambil menatap lurus jalan becek itu. Airmata seketika membuncah begitu saja membasahi pipinya, lalu bocah itu berlari masuk sambil meraung panjang.
“Kunaon kaseeep?” Mbah Dayat tergopoh-gopoh muncul dari dapur mendengar cucunya menangis.
“Baapppaakkk,” panggil Nurdin sambil terus menangis dan merapatkan tubuhnya pada kaki kursi.
Dengan penuh kasih sayang Mbah Dayat meraih tubuh Nurdin dan membiarkan cucunya itu menangis dalam pelukannya, “Eh, keun wae atuh bapak cari uang.Cup, cup.”
Tapi Nurdin tetap menangis dan terus memanggil nama bapaknya, dia tidak mau lagi bapak pergi seperti ibu yang lalu tidak pernah kembali.


Tak sabar Nurdin menantikan malam, dia benar – benar penasaran dengan cerita Innah pagi tadi dikelas. Apa benar bapak akan masuk televisi malam ini? Selepas Isya , Nurdin sudah mengendap- ngendap mencari sosok Mbah Dayat, Nurdin berharap mbahnya sudah tertidur di dipan tua kamar bapak seperti hari-hari yang lalu . Dan ternyata dugaannya tidak salah, perempuan tua berambut putih dengan konde kecilnya itu sudah lelap di dipan milik bapak, suara nafasnya begitu teratur dan nyenyak, tubuhnya yang kurus dibalut kain tampak nyaman diatas dipan. Sambil menahan sorak gembiranya, bocah cilik itu menirukan gaya penyanyi dangdut dengan bergoyang – goyang lalu berjingkat-jingkat meninggalkan rumah, berlari menembus malam bertabur bintang dengan senyum menuju rumah sahabatnya, Innah.
Cukup lelah berlari diburu kegembiraan yang terlalu, hingga Nurdin tak sanggup menahan luapan bahagianya saat dari kejauhan atap rumah Innah yang besar sudah nampak menyambut. Tanpa mengindahkan nafasnya yang tersenggal lelaki mungil itu berlari terus mendekati rumah Innah, tubuhnya terlihat bercahaya dibalik jaket rajutnya yang berwarna kuning, wajahnya yang tampan terlihat begitu segar dengan butiran-butiran keringat yang mulai nampak diantara hidung dan pipi ranumnya.

Tapi langkahnya terhenti, saat dilihat segerombolan bapak sedang asyik bergolek- golek dibawah gelapnya langit tepat didepan pagar rumah Innah. Bercanda dan tertawa dengan suara besar yang menakutkan, menurut Nurdin. Dia hampir terjatuh saat terkejut akan pemandangan didepannya.
“Hai, anak siapa ini?” goda seorang bapak berbadan gemuk yang bergolek dengan dada telanjang dan perut buncit, disusul tawa para bapak yang kemudian memandangi Nurdin kecil yang seperti tenggelam dibalik jaket rajut kuningnya. Merasa terkejut dan takut, Nurdin menggeleng- gelengkan kepalanya dengan kencang lalu berlari tak tentu arah mencoba mengenyahkan tawa mereka yang terus mengiang ditelinga Nurdin. Kelelahan yang luar biasa akhirnya menghentikan langkah terburu Nurdin,namun tiba-tiba dia teringat akan gang kecil dibelakang rumah Innah. Gang kecil itu adalah jalan sempit menuju pasar, tapi bukan pasar tujuan Nurdin, dia teringat bahwa dinding gang itu adalah dinding rumah Innah, dan dia ingat kalau dinding itu berjendela. Tanpa pikir panjang Nurdin kembali berlari diatas sepatu talinya.

Gang kecil itu begitu gelap, satu-satunya sinar yang menerangi sebagian kecil lorong panjang itu hanyalah cahaya yang keluar dari jendela rumah Innah.
”Yeaaahh!!” Nurdin menjerit gembira sambil memutar tubuhnya, dan mendekati gang itu dengan berjalan layaknya seorang pemabuk. “Ole-ole-ole-ole,” luapan kegembiraan keluar dari senandung kecilnya. Lalu lelaki kecil itu berdiri tepat dibawah jendela rumah Innah, bibir mungilnya tanpa perduli meneriakan nama sahabatnya berulang – ulang, “Innah, Innah, woii!!” Kepala Innah segera muncul dari dalam jendela dengan wajah penuh keterkejutan, “Hei, kenapa disitu??!!” Nurdin tertawa geli mendengar pertanyaan Innah yang begitu cemas.
“Dari sini saja deh,” jawab Nurdin sambil menahan tawanya, “Ambilkan aku kursi dong untuk melihat televisimu dari sini!”
Innah langsung mengangguk dengan cepat.
Sebuah kursi plastik terjulur dari dalam jendela, sedang suara televisi terdengar makin nyaring hingga menembus dinding pembatas gang. “Cepat sudah mulai dari tadi tuh acaranya,” perintah Innah pada Nurdin yang tengah sibuk mengatur posisi berdiri kursi.
“Iya, iya, “Nurdin mengangguk sambil mencoba berdiri diatas kursi plastik itu, kemudian tangan kecilnya berusaha menggapai bibir jendela rumah Innah
“Sini aku bantu,” Innah lalu meraih punggung tangan Nurdin dan mencoba menahan bahunya yang sudah sampai didaun kusen jendela, “Cepat sedikit.”
Tapi Nurdin tidak menghiraukan ucapan Innah, matanya menatap lurus pada layar televisi yang menampilkan sosok bapak disana. Tanpa perlu bertanya lagi dia sudah tahu kalau itu bapak, bapaknya yang selalu datang dalam mimpi dan mengusik malam-malamnya , bapaknya yang selalu dirindukan Nurdin meski apapun kata orang tentang penyakit pikiran yang mulai menggelayuti si duda pikun itu. Meski kata orang dia punya penyakit pikiran, tapi nyatanya bapak tidak pernah menertawai Nurdin atau memukulnya, walaupun hari-harinya hanya dihabiskan diatas kursi reyot sambil memandangi jalan dari pagi hingga petang, lalu masuk untuk berbaring saat gelap mulai turun menutup semua yang menyilaukan mata.
“Bapak…”bisik Nurdin tidak percaya, dan tiba tiba dia terkejut bukan kepalang hampir terjatuh dari kursi tempatnya berdiri , saat dilihat sang bapak meloncat – loncat bak orang kesurupan, lalu merangkak layaknya seekor macan didepan televisi. Kedua anak kecil itu terdiam menganga menahan keterkejutannya.
“Bapakmu malam – malam begitu ada dikuburan Din, “ bisik Innah gelisah. Tapi Nurdin tidak menjawab ucapan Innah yang lebih mirip pertanyaan. Dia terus menatap nanar televisi saat dilihatnya bapak kembali melompat-lompat kemudian seperti menyerang ,lalu menjerit seperti orang kesakitan.
Samar - samar dari kejauhan terdengar suara motor seperti mendesing begitu saja ditelinga dan pikiran Innah. Tanpa menunggu, perempuan mungil itu menjerit sambil membalikkan tubuhnya memeluk erat kepala dan mencoba menarik punggung Nurdin merapat pada tembok, tapi semua sia-sia. Suara jeritan panjang memecah keheningan malam diluar, “Nuuuurrrdddiiinnnn!!!” tapi kawannya itu sudah terjatuh dari kursi disusul suara berdetum begitu keras.Sebuah motor menabrak tubuh mungil Nurdin dari gang sempit itu.
Nurdin segera dilarikan kerumah sakit terdekat. Dirawat selama hampir satu minggu, dan kembali dengan perban tebal dikepalanya. Tubuhnya yang mungil melangkah terbata-bata seturunnya dari becak, pagi itu. Dan pelukan rindu menghambur dari Innah begitu saja pada sosok mungil Nurdin yang kembali dengan mengenakan baju baru berwarna merah lengkap dengan celana panjang baru berwarna coklat. “Apakah kamu baik-baik saja?” suara Innah begitu khawatir disusul tangis yang sudah tidak terbendung lagi , Innah sungguh-sungguh merasa kejadian malam itu sepenuhnya adalah tanggungjawabnya. Lalu dipandanginya lekat-lekat mata jernih Nurdin yang hanya membalas tangis itu dengan seringai tipis dibibirnya, “Aku tidak apa-apa.” Lalu Innah kembali memeluknya erat-erat, dan menggeleng dengan rasa bersalah, “Maafkan aku, maafkan aku ya Din!”


“Nurdin pergi mbah!” jerit Nurdin dari depan pintu pada Mbah Dayat yang masih sibuk menyusun kayu bakar didapur sore itu.
“Kemana ?!” Mbah Dayat terkejut mendengar cucunya sudah mau pergi lagi, padahal baru pulang dari Rumah Sakit tadi pagi.
“Nanti juga Nurdin pulang, main sebentar kok!” jawab Nurdin sambil merogoh saku celananya, memastikan kalau uang pemberian bapaknya tidak lupa dibawa

*

Tertatih – tatih Nurdin berjalan menahan rasa sakit yang mulai menyerang kedua kakinya. Kepalanya terasa begitu pening, dia berjalan terlalu jauh sore itu. Tapi wajahnya tiba – tiba tersenyum bercampur lelah yang ternyata tidak sia-sia. Lelaki kecil itu terus melangkah , sedang kedua tangannya memegang nampan berisi kembang tujuh rupa serta beberapa butir telur ayam kampung. Matanya menyapu pemakaman yang sepi itu, hari hampir gelap, lalu dengan lantang dia menjerit , “Terima kasih yaaa!!!”
“Terima kasihhh,”ulangnya, “Sekarang Nurdin punya baju baru dan banyak uang!!”
Suara lantangnya menggema terbentur dinding – dinding pemakaman yang begitu sepi dan mulai berkabut.
“Terimakasihh, Nurdin sayang sama kaliannnn!!Terimakasihhhh!” ulangnya girang tanpa sadar hari mulai gelap.



DI ATAS MEJA PERSEGI EMPAT

Seharusnya akang belum pulang jam segini. Tapi kalau bukan akang , siapa yang berjingkat- jingkat didapur disusul terdengar seperti suara seseorang membuka lemari makanan? Laras mencoba bangkit dari tidurnya sambil menahan berat dari perutnya yang tengah buncit. Sekilas matanya melirik pada jam dinding yang menggantung ditembok kamarnya, “ Baru jam sebelas , masak akang sudah pulang?”
Dengan rasa ingin tahu Laras berjalan hampir tanpa suara menuju dapur. Rumah kecil yang dia kontrak bersama Kang Wawan seketika terasa begitu luas , kosong dan dingin.Perempuan itu menggigil sedikit, menahan senyap yang merayapi kaki telanjang diatas ubin putih tempatnya melangkah menuju suara aneh itu. Sambil menyentuh ujung perutnya yang tengah mengandung janin berusia empat bulan Laras memiringkan kepalanya, melihat akang sedang berjingkat-jingkat membuka tutup rice cooker didekat lemari makan, “Akang ?” Seperti terkejut lelaki itu lalu membalikan tubuhnya, lalu tersenyum ,”Masak apa nih neng geulis?”
“Akang gak kerja?” buru-buru Laras menghampiri suaminya yang terlihat hanya mengenakan kaos singlet putih dengan celana panjang berwarna hitam, tanpa alas kaki.
Lelaki berwajah bersih itu menggeleng sambil masih tersenyum, “ Sekali – kali libur gak papa dong, akang lapar!”
“Ya kalau mau libur gak usah berangkat dari tadi pagi dong,” gumam Laras mencoba mengusir rasa gelisah yang tiba-tiba muncul begitu saja disusul tendangan halus dari perutnya yang seperti detak kejutan dirongga hati.

“Ini lo kang, ada ikan kuning sama sambal terasi,” Laras membuka pintu lemari makan , lalu mengeluarkan se piring lauk ikan kuning dan satu buah piring kecil berisi sambal terasi. Kemudian mereka duduk berhadapan diatas meja makan persegi diruang makan yang satu atap dengan dapur . Mereka selalu makan bersama diatas meja persegi berukuran 80 x 80 cm.itu, duduk berhadap-hadapan sambil tersenyum.Kala menikmati makan siang mereka duduk tepat dibawah langit-langit dapur yang tanpa warna, sehingga matahari telihat begitu saja memancar menerangi wajah – wajah mereka. Sedang kala malam, bulan bertengger mengintip dari eternit transparant tepat diatas kepala mereka, membawa cahaya pada hidangan sederhana yang tidak berubah bentuknya dengan menu tadi siang.
“Kenapa akang gak berangkat kerja hari ini?” perempuan itu kembali bertanya sambil mulai menumbuk-numbuk lembut bahu suaminya.
“Ah, “ Kang Wawan berusaha menelan makanannya, “ Minta istirahat saja hari ini , menemani istri tercinta.”
Laras terkejut, pipinya langsung bersemu merah, sambil mengkulum bibirnya yang tiba-tiba tersenyum ,Laras mencoba membuat raut wajahnya seperti marah . Tapi kemudian lebih mirip dengan wajah para remaja yang bersemu saat digoda sang pacar, “Ah , setiap hari juga nemani.Ya , gak pagi, sore dan malam. “
Lelaki itu tertawa, “Iya, ya.”
“Kang, “ tiba – tiba wajah Laras kembali serius, “ Kalau bisa mah cari kerja yang lain sajalah. Kerja dengan Bang Tibron mah agak kurang bagus kelihatannya.”
Wawan terdiam, dipandanginya wajah Laras dalam – dalam. Apakah istrinya paham akan perasaaan gelisahnya?Bahwa dia merasa sangat tersiksa dengan pekerjaan ini? Bahwa sejak pertama dia akhirnya harus bekerja dengan Bang Tibron , perasaannya begitu gundah tak menentu, dirinya seperti semakin masuk pada ruangan gelap tanpa suara, tidak ada kejelasaan selain rasa takut yang terlalu.Tanpa sadar Wawan membelai kepala istrinya, mata mereka bersimborok.
“Ada apa kang?” tiba-tiba Laras merasakan getaran yang begitu aneh berdesir disekujur tubuhnya.
Suaminya menggeleng sambi tersenyum, “Kenapa kau tiba – tiba mengkhawatirkan pekerjaan akang?”
Seperti tak mampu menjawab Laras menarik dirinya agak menjauh dari Wawan, “Lah, akang kan sudah lihat dengan mata kepala kang sendiri, bagaimana Bang Tibron itu, dia kalau sudah malam suka mabuk-mabukan diujung gang, “
“Suka judi lagi, kayak orang gila!” tambahnya tanpa ragu-ragu.

“Kau benar sayang ,” Wawan meraih tubuh istrinya, mendekapnya sebentar sambil mencium ubun-ubun wanita yang dicintainya itu, nafasnya begitu dalam tertahan diatas kepala Laras, seketika Laras membeku.
“Akang , akang baik-baik saja kan?” Laras menatap bingung suaminya.
“Ya!” tiba-tiba Kang Wawan menjawab dengan tegas sambil memberikan tanda hormat pada Laras.Istrinya kembali terkejut, lalu tersenyum simpul.

“Mau kemana?” Wawan langsung berdiri terkejut dari kursi makan melihat istrinya beranjak pergi meninggalkannya sendiri dimeja makan persegi itu.”Laras !” ulangnya sambil berusaha meraih tubuh istrinya dari balik meja. Kaki meja makan itu lalu terangkat sedikit , gelas minum Wawan terguling begitu saja, lalu jatuh membentur lantai hingga pecah berantakan disusul seperti suara meledak menusuk telinga.
“Kenapa kang?!!” Laras begitu terkejut lalu buru-buru mendekati suaminya, “Ada apa kang?!”
“Kamu mau kemana?” ulang Wawan terengah-engah.
“Laras mau angkat jemuran kang!” tiba-tiba Laras merasa kalau dia harus menangis, kalau dia harus menjerit sekeras mungkin. Ada sesuatu yang masih menggumpal dibatinnya, menyumbat hatinya seperti hendak meledak. “Kenapa jadi begini kang? “ bibir perempuan itu gemetar sambil memandangi pecahan gelas dilantai, lalu tanpa pikir panjang dia langsung jongkok memunguti pecahan gelas itu .
Kang Wawan kemudian ikut jongkok disebelah istrinya. “Neng, “ Wawan kemudian menyentuh punggung tangan Laras. Dia senang memanggil Laras dengan panggilan Neng, dengan begitu seolah –olah dia telah menegaskan pada perempuan itu , bahwa dia selalu cantik kapanpun dan dimanapun.
“Kang!” tiba-tiba Laras berbalik menatap tajam mata suaminya, lalu digenggamnya bahu Wawan kuat – kuat, “ Gelas sekecil ini kenapa suaranya begitu keras dan besar?!”
Wajah mereka seketika memucat. “Ada apa kang?! “ desak Laras sambil terus menatap mata suaminya.”Katakan kang ada apa?!!”
“Hush!” Wawan menepis gelisah Laras, “Kamu terlalu berlebihan!”
“Aku perempuan kang!” elaknya , “Perasaan perempuan tidak bisa dibohongi!”
Wawan menggeleng, sambil tersenyum,“Tidak ada apa-apa, biar akang bantu membersihkan pecahan gelas ini.”
Tapi perempuan itu tetap diam, matanya kosong menatap pecahan gelas dilantai yang sedikit demi sedikit telah diangkat satu persatu oleh Wawan. “Jangan pernah berpikir yang tidak – tidak. Tetaplah tenang kalau memang ada sesuatu yang membuatmu risau istriku.”
“ Neng, “lanjutnya, “ Kalau memang nantinya terjadi sesuatu yang tidak pernah kita harapkan, Neng harus percaya, bahwa itu sudah kehendak Allah. Jalani saja peran yang Allah berikan itu baik-baik. Jangan menentang takdir.”
Kali ini Laras seperti dikejutkan oleh kalimat yang diucapkan Kang Wawan, tanpa sadar dia telah berdiri memandangi suaminya. Mulutnya tidak mampu bersuara, matanya mulai berair sehingga Wawan semakin tidak jelas dimatanya, buram. “Kematian, jodoh dan rejeki itu ditangan Allah. Ingat, tidak ada kematian yang tidak wajar didunia ini. Semua wajar apapun keadaannya, sebab hanya Allah-lah yang berkuasa atas nyawa segala mahluk hidup didunia ini.”
Perempuan itu tak bergeming sama sekali. Suara Kang Wawan seperti bergema ditelinganya, terus menyusup terbentur- bentur dikepalanya, lalu seperti jatuh pada lorong yang panjang menyisakan gema yang terus menerus membuat perih kedua bola matanya,”A-apa maksud akang?”
“Tidak ada, “jawab Wawan singkat, “Akang hanya tidak ingin Neng cengeng , gara-gara terhanyut perasaan. “
Laras menggeleng , itu tidak benar. Perasaan ini berbeda! Apakah karena dia sedang mengandung sehingga rasanya begitu peka dan mudah gelisah ? Benarkah dia terlalu berlebihan hari ini?
Wawan menempelkan tangannya pada perut buncit Laras, lalu tersenyum. “ Kau adalah seorang ibu yang kuat, itu sebabnya Allah mengijinkan kita punya anak,” bisiknya. Laras menundukan kepalanya ,airmata terjatuh diatas perut buncit itu. “Banyak loh orang yang sudah nikah sampai lima tahun tapi belum dikasih anak sama Allah, padahal kata dokter baik suami atau istrinya sehat,” tambah lelaki itu lagi.
“Jaga baik – baik ya anak kita,” Suara wawan tiba – tiba seperti berbisik, disusul suara tangisan panjang dari luar rumah dan ribut – ribut yang begitu bising dan mengejutkan.

“Larasss!!” seorang perempuan berlari sambil menjerit menuju rumahnya , diikuti banyak kerumunan orang berduyun – duyun dibelakangnya. “Larassssss!” ulangnya. Tanpa pikir panjang Laras langsung lari keluar rumah menghampiri Titin , kakak iparnya.
“Aya naon teh?” tanyanya bingung sambil menahan tubuh perempuan yang menghambur begitu saja dipelukannya, “Teh, aya naon?”
Perempuan itu begitu berkeringat, tubuhnya basah dengan bibir gemetar membiru.Kepalanya menggeleng – geleng kencang, disusul jeritan panjang melolong, “Ya, gustiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii!!!”
“Kunaonnn??” ulang Laras tak mengerti,”Astagfirullah.Aya naonn??”
Titin menggeleng kencang sambil menangis, “ Wawan!Wawan!”
“Wawan?” Laras mengenyitkan dahinya , lalu dia langsung berbalik menatap orang yang berkerumun dibelakangnya, “Kenapa??” Tapi semua diam.”Aya naonnn??” tapi semua tetap membisu.

“Digebukan ku massa,” Titin merintih.
Mata Laras langsung mendelik terkejut, “Jangggaaaannnnn!!”
Tanpa menghiraukan pelukan erat kakak iparnya Laras berlari menerobos masuk kerumah, “Akangggg!!” jeritnya, disusul beberapa orang yang berusaha menahannya dan menenangkan perempuan muda itu.”Tenang, masyallah, istighfar!”
“Akang!” panggil Laras, “ Akangggg!!” Perempuan itu memanggil kesal suaminya, “Akang gak mungkin dipukulin masa.Akang tadi lagi makan disini!” tegasnya.
“Masyallah ,Laras!” kali ini Titin baru menyadari bahwa keterkejutan itu lebih memukul istri dari adiknya, “Istighfar, astagfirullahhh.Laras!!”

“Tidak teh, “ Laras berbalik menatap kakak iparnya penuh dengan airmata, “Akang baru makan disini sama Laras. Tadi teh!!
Titin menggeleng, sambil mendekati sosok Laras, lalu dipeluknya perempuan muda itu yang kemudian menangis keras dipelukannya, “ Metromini Bang Tibron nubrukan bocah dihareup. Lantas langsung di amukan ku massa…”
“Ulahhh!!” jerit Laras, “ Astagfirullah. Ulahhh!! “
Titin berusaha memeluk Laras kuat – kuat, yang berusaha melepaskan dirinya dari tubuh Titin.
“Awas! Awas, Laras mau berdiri!!” ujar Laras menepis lengan Titin. Lalu perempuan yang tengah mengandung itu tertatih – tatih menghampiri tong sampah didekat lemari makan, tidak ada pecahan gelas disana, bahkan meja makan persegi itu bersih , tidak ada piring bekas makan tersisa disana.
Lalu dia pingsan begitu saja.

*
“Suami saya meninggal, “ rintihnya, “ Dipukuli massa.” Tiba-tiba Laras seperti merasakan sakit yang mengkerubungi tubuh suaminya. Sakit, menjerit minta tolong, menyebut nama Allah berkali – kali.Matanya nanar mencari-cari jalan selamat,berlari sekencang mungkin, mencoba menyelamatkan diri.
“Ehem..” jawab perempuan didepannya dengan dehaman sambil terus menantap wajah pucat Laras.
“Dia tidak bersalah, dia hanya kenek. Kenek Bang Tibro yang masih buron sampai sekarang!” Laras melanjutkan pilunya tanpa berani menatap lawan bicaranya, dia terus menunduk sambil meremas – remas rok bercorak garis-garis coklat itu.
“Baiklah, “ perempun didepannya itu menyudahi cerita Laras, ”Mulai besok bekerjalah disini.Pekerjaan anda cukup membuat kopi untuk tamu dan seluruh karyawan dikantor ini. Untuk menyapu dan mengepel biar saja Ujang yang melakukannya selama anda tengah hamil.”

“Eh, “ panggil perempuan itu lagi, “ Diujung sana ada rak payung, ambilah sebab diluar terik sekali. Jaga baik – baik anak dijaninmu.”

*






BESOK MASIH ADA MATAHARI

Timur sudah menunggunya hampir satu jam diruang tamu. Dia tidak menyalahkan lampu diruangan itu, cahaya hanya datang dari lampu gantung diatas meja ruang makan yang tidak dibatasi tembok apapun menuju ruang tamu.Sampai Devan masuk membuka pintu ruang tamu, lalu dia berdiri terkejut melihat Timur duduk disana, diatas kursi rodanya.
“ Kamu belum tidur ?” tanya Devan sambil melempar sepatu berhak dua senti itu kearah rak sepatu disisi pintu. Dengan sepatu fantofel itu Devan tampak lebih cantik, tubuhnya nampak lebih langsing dan tegap.Tapi Timur hanya diam, dia tidak menjawab pertanyaan istrinya yang baru tiba dirumah pukul delapan malam itu. Timur tidak bergerak sedikitpun dari kursi rodanya, kedua matanya berkedip begitu saja tanpa arti, kedipan yang Devan tidak pernah mengerti.
Sambil melepas kancing jas kerjanya, Devan melangkah menuju lemari pendingin, lalu meraih kotak susu cair dari dalam dan menegaknya begitu saja tanpa gelas,
” Pekerjaanku belum selesai, tidurlah lebih dulu,” ujar Devan sambil menghempaskan tubuhnya ke sofa diruang tamu yang gelap itu, memejamkan matanya sambil menarik nafas panjang – panjang. Tapi Timur tetap tidak menjawab apapun, lelaki muda itu duduk diam dikursi rodanya, tanpa mengeluarkan sepatah katapun.Devan membuka matanya, lalu menatap Timur yang masih duduk terpaku menghadap pintu ruang tamu. Perempuan cantik itu mengangkat bahunya tinggi – tinggi, lalu membuang nafasnya begitu saja.
“ Apa hidangan malam ini ? “ dengan riang dia melangkah ke meja makan, dan mengangkat tudungsaji.Catering datang dengan teratur, hidangannya selalu memuaskan, ada buah segar atau kadang – kadang ada rujak, ditambah makanan pokok bergizi dan snack. Tidak sia – sia rasanya Devan memilih catering itu dan selalu membayar tepat pada waktunya, mereka sama – sama puas. Mata Devan menatap sepotong besar pudding pisang coklat. “ Wah, pudding pisang coklat kesukaanmu!” Devan tersenyum , lalu sambil berdendang dia menuju lemari makan dan mengambil sebuah piring kecil, perlahan dipotongnya pudding pisang coklat itu sambil terus menikmati aroma coklatnya yang khas.
“ Ini, pudding pisang coklat kesukaan mu,” Devan menyodorkan piring mungil itu, “ Kenapa pudding ini belum kau sentuh ?” Timur terkejut, rupanya lelaki muda itu sedang melamun.Tapi Timur memalingkan wajahnya, mencoba mengusir wajah Devan dari matanya. Devan menarik nafasnya kecewa, “Begitu,” ujarnya sambil memiringkan kepalanya.
Ada apalagi? Apakah mungkin sebaiknya kami bicara? Tapi bicara untuk apa? Kenapa harus bicara, kenapa harus membicarakan lagi hal – hal yang selalu dikatakan sebagai masalah? Kenapa harus membesar – besarkan sebuah masalah yang lagi - lagi tentang itu?! Bosan, ketidak puasan, kekalahan? Kenapa? Kenapa lagi kita harus membicarakan tentang ‘ penat ‘ ? Sedangkan sudah cukup berat penat – penat yang lain sudah sesak dikepala dan dihati?? Kenapa lagi kita harus menambah hal- hal yang hanya akan menarik emosi dan menaikan tensi darah kita. ‘Aku sudah pusing,’ erang Devan dalam hati. Tapi perempuan itu lebih memilih tersenyum , meski pahit rasanya.
Dia mencoba relaks di atas sofanya, merenggangkan otot – ototnya yang begitu tegang dan letih sepulang dari kantor seharian. Tanpa disangka rambutnya yang pendek sudah hampir sebahu. Sudah berapa lama dia tidak memperhatikan dirinya, tidak ke salon atau tidak mencoba untuk memperhatikan berat badannya yang terus menerus menurun dari hari ke hari. Diraihnya sebuah jepit rambut dari meja mungil di pinggir sofa itu, meja mungil tempat foto – foto mereka berderet dihiasi bingkai yang tiada berkesudahan. Wajahnya tampak lebih terang dan ringkas. Kemudian dia duduk tegak disofa, siap mendengar kembali keluhan dan armarah yang sering Timur jeritkan padanya seperti kemarin – kemarin. Dan biasanya Devan hanya menganggapinya dengan diam. Devan telah belajar banyak untuk menerapkan power of listening pada dirinya, meski diapun ingin menjerit jika dia mampu. Tapi Timur tetap diam.
“ Adakah ibu telephone ?” tanya Devan mencoba membawa Timur masuk dunia nyata, bahwa dia tidak hidup sendiri.
Timur membalikan tubuhnya, lalu menatap Devan , istrinya yang cantik. Devan tidak berubah, wajahnya tetap cantik meski belakangan ini dia agak pucat. Kulitnya putih dengan bahu yang tetap tegap seperti dulu, bahu yang yang lebih cocok diberikan pada seorang lelaki daripada seorang perempuan. Tatapan Timur begitu dalam, entah ada apa dalam pikirannya . Sesekali dia menutup matanya, dan membukanya perlahan.
“ Well, tidak ada jawaban,” Devan menjawab pertanyaannya sendiri,” Oke,” lalu dia mengambil kesimpulan sendiri , dan kembali tersenyum dan menganggukan kepalanya sebagai tanda ‘ mengerti’.
“ Bagaimana dengan berita koran pagi ini?” kali ini Devan melangkah menuju meja kerjanya , sebuah meja yang dilengkapi seperangkat komputer. Didekat meja itu terdapat sebuah kursi santai, kursi malas yang biasa Timur pakai untuk membaca koran sambil menemani Devan bekerja dulu, sewaktu kecelakaan itu belum terjadi lalu melumpuhkan kaki Timur. Devan mengangkat koran yang tergeletak rapih begitu saja dikursi milik Timur itu, dia membacanya sekilas lalu mencibir, mengangkat bahu sambil menatap suaminya yang masih memandanginya dengan bisu. “ Tidak ada berita yang menarik dimatamu, atau tidak ada yang menarik dimatamu,” lalu Devan melempar koran itu ke tempat sampah plastik diujung ruangan.
“ Mati!” suara Devan memecahkan keheningan yang ada, “ Gelap!” tambahnya penuh kemarahan. “ Tidak ada berita, tidak ada ibu, tidak adalagi makanan yang bisa kau makan, “ tambahnya, “ Semua sudah habis, gelap, kiamat.” Devan berdiri tegak melawan suaminya, “ Bukankah begitu ?” dia bertanya sambil memiringkan kepalanya.
“ Biar kubantu kau mematikan duniamu, “ ujar Devan sambil bergegas menuju pesawat telephone, lalu mencabut kabel telephone dengan puas. “ You see? “ Timur terkejut melihat istrinya, sepatah kata hendak keluar dari bibirnya, tapi dia hanya diam sambil menutup matanya. “ Kita akan berhenti langganan koran, tidak usah lagi terima telephone dari siapapun, kalau perlu besok aku panggil tukang untuk menutup jendela – jendela rumah mungil kita, agar tidak seekor burungpun bisa melihat wujudmu, “ Devan berlari menghampiri jendela ruang tamu mereka dan merapatkan tirainya, “ Bagaimana, setuju ? “ tanyanya tajam.”Kita tidak usah lagi langganan catering, dan ..” Devan melompat ke arah pesawat televisi mereka, “ Televisi ini kita berikan saja pada mbok Minah tukang cuci kita, tokh kau juga tidak pernah menontonnya, apalagi aku
Aku tidak pernah menonton televisi sepulang kerja, mataku terlalu lelah,” ujarnya sambil memandangi pesawat televisi itu, “ Ya kan?!” Lalu tiba – tiba dia diam, kembali membalikan tubuhnya dan menatap Timur yang masih menutup matanya rapat – rapat.
“ Lihat ini ,” lanjutnya sambil melangkah kearah pesawat telephone yang kabelnya berantakan begitu saja, “ Sebaiknya ini kita hancurkan saja.” Lalu Devan melempar benda itu hingga terbentur dinding dan hancur berantakan.
“ Devan!” pekik Timur. Wajahnya memucat , matanya nanar bertanya – tanya.
“ Kenapa?” Devan balik bertanya, “ Bukankah kau tidak membutuhkan itu lagi? Dan aku memang tidak membutuhkannya, aku punya ponsel, aku seharian dikantor, dan kau juga tidak pernah memakai telephone itu untuk menelephoneku dikantor.Bukankah kau telah melumpuhkan segala yang kau punya ? Tidak hanya kaki , tapi kau juga melumpuhkan tangan, telinga dan mulutmu?
Bahkan hati dan akal sehat mu?” tanya Devan pada suaminya.
Timur memejamkan matanya lagi, sakit sekali rasanya jiwa ini, hancur rasanya seluruh hidupnya karena kelumpuhan kaki ini. “ Sudahlah, mulai malam ini aku akan tidur disofa, “ Devan kembali menghempaskan tubuhnya disofa, lalu merebahkan tubuhnya. Dia ingin menjerit, menjerit sekeras mungkin pada suaminya. Kenapa kamu begitu lemah? Kenapa kau buta? Kenapa kau lumpuhkan semua indera mu??Ah! tidak ada gunanya. Devan menutup matanya, mencoba menahan perih yang mulai merambat dimatanya, panas dan bisa jadi akan keluar airmata dari sana. “ Untuk apa tidur bersama, setiap kali kucoba memelukmu, kau selalu memalingkan wajah. Kau pikir aku siapa?” bisik Devan, sambil kembali tersenyum pahit.
Timur terdiam, lalu perlahan ditariknya kedua kursi rodanya, menghampiri Devan yang terbaring disofa. Tangannya terlalu gemetar untuk menyentuh rambut dan kening istrinya. Dua tahun mereka baru menikah, terlalu banyak mimpi yang telah mereka buang, terlalu banyak mimpi Devan yang tidak tercapai, anak, piknik keluarga, mengantar sekolah si buyung. Tapi dia begitu kuat , dia memiliki bahu yang tidak pantas dimiliki seorang perempuan, bahu yang terlalu tegap.Timur merapatkan tubuhnya kearah Devan yang terkulai begitu saja menahan sesak. Tangan gemetar itu akhirnya mampu membelai kepala Devan. Devan membuka matanya terkejut.Timur memberinya senyum,
“ Apa kabarnya kantormu hari ini ?” tanyanya lembut.
Devan menatap mata Timur yang menahan tangis, perlahan diraihnya tangan Timur dan ditariknya kepipi, lalu dia menggeleng sedih, “ Pak Ronny memarahiku habis – habisan, ada satu arsip yang hilang entah dimana.Padahal aku selalu mengunci lemari arsip, kecuali dia sendiri yang telah lupa, sebab aku yakin ak telah memberikan padanya arsip itu!” tangis itu akhirnya meledak. Timur mencoba meraih tubuh istrinya, lalu memeluknya penuh kehangatan. “ Jangan berhenti langganan koran, aku masih ingin menulis , “ bisik Timur, “ Jangan kau berikan televisi itu pada Mbok Minah, aku masih ingin nonton Tinny toons.” Devan mengangkat dagunya dari pelukan Timur, lalu tersenyum.” Aku masih ingin pudding pisang coklat, “ tambah Timur, “ Heran perut ini kok tidak lumpuh seperti kakiku.” Mereka tertawa seketika, lalu mata mereka bersimborok, rindu itu terlalu lama dipendam.
“ Aku mencintaimu, “ Timur meraih wajah Devan lalu menciumnya dalam – dalam, “ Maafkan aku.” Devan terdiam, lalu menganggukan kepalanya,
“ Tahukah kamu, “ ujar perempuan cantik itu, “ Cinta tidak hanya di bibir.” Devan menyentuh bibir Timur, “ Itu yang aku lakukan, aku bukan pujangga..” Devan lalu kembali menyandarkan kepalanya didada Timur.
“Jangan tidur di sofa ya, “ bisik Timur , “ Aku mau menciumimu sampai pagi.”
Tawa Devan terdengar geli, “ Begitu ya ?”
“ Iya , “ jawab Timur singkat.

*



Biografi singkat penulis :
Lahir tahun 1980, bulan September tanggal 2. Tulisannya telah banyak dimuat komunitas penulis cyber pada site www.penulislepas.com, dan majalah Islam Al – Mihrab Semarang.

BUNGA BOUGENVILE

Yang tersisa tinggal sebuah pohon bunga Bougenvile ,berdiri rapuh diantara sederet pohon tanaman hias lainnya yang sudah mati. Pohon bunga Bougenvile itu terlihat begitu berjuang mempertahankan keindahan dan keanggunan rupanya pada suasana yang sudah begitu sepi dan kosong. Aku masih berdiri didepan pintu pagar besi berkarat, menyeret langkah berat seolah –olah terlalu takut untuk berhadapan dengan setan - setan dari masa lalu.
Dan seperti biasa, cahaya matahari pagi jatuh dengan hangat ditemani angin sejuk yang menyapu daratan. Tidak ada yang berubah pada tempat ini, sebuah rumah mungil dibangun diujung jalan jauh dari keramaian, dengan cat tembok yang sudah mulai usang berwarna salem,dilengkapi dua jendela dengan warna merah tua dan sebuah pintu kayu yang menjadi pintu perpindahan dua dunia. Dua buah kursi teras dari besi tampak mulai memiliki karat pada kaki-kakinya seolah –olah menyimpan sejuta cerita dan rahasia. Rumah ini sudah lama kosong, aku sendiri tidak tahu kemana perginya mereka. Dua hari yang lalu , mbak Jovie yang menelephoneku untuk mengabarkan perihal kekosongan rumah di Bogor ini. Mbak Jovie adalah kakak dari ibu tiriku, wanita yang dinikahi ayah empat belas tahun yang lalu.
“ Apa ? “ tanyaku bingung, “ Bagaimana maksudnya mbak Jovie?”
“ Soff, mbak tanya kemana pindahnya ayahmu, juga Laras ibu tirimu?” ulangnya,
“ Rumah di Bogor itu kosong, kemarin mbak kesana dan kata tetangga- tetangga disana mereka sudah pindah sekitar setahun tahun yang lalu,” lanjutnya.
Aku terdiam.
Setahun yang lalu?

Semakin aku melangkah mendekati pintu rumah, seolah-olah semakin terdengar jelas riang tawa cekikik adik – adik tiriku ,suaranya beradu menggema pada dinding –dinding yang rapuh yang mungkin seolah tak mampu lagi untuk menampung kisah baru dari penghuninya.Aku masih ingat mereka dengan jelas ,mereka dengan ciri khas mereka sendiri –sendiri, mereka dengan gaya mereka sendiri – sendiri mempertahankan dunia mereka diantara detuman histeris jeritan jiwa para orangtua. Mereka yang selalu tertawa dalam segala suasana, menyegarkan nafas yang selalu terulang kembali pada titik jenuh tiada berkesudahan. Kutundukan kepalaku menatap sebuah kunci tunggal pada telapak tanganku yang begitu pucat.Kunci yang tidak berubah dan tidak pernah berkarat, kokoh , fungsinya lebih mirip sebuah flashdisk dengan ribuan memory mengenai tawa dan airmata. Aku masih berharap kala mendorong pintu ini terbuka,masih akan kulihat senyum Laras yang selalu sibuk dibalik meja makan menghidangkan berupa hidangan, dan hanya itu yang selalu diulangnya padaku , “ Ayo makan dulu,” hanya itu selalu. Atau pasti aku akan menangis saat tidak kutemukan lagi adik – adikku menghambur menyeruak kearahku, berceloteh sahut diantara sahutan yang lain, menomor satukan diri dari adik atau kakaknya sekedar memintakan sebuah keinginan untuk dikabulkan, “Jalan – jalan ya !” pinta mereka, atau si Bagus akan mendorong kakak –kakaknya lalu meraih tanganku untuk mendatangi sepeda barunya,” Lihat deh aku bisa mengendarai sepeda roda dua,” ujarnya bangga. Tapi yang jelas kerinduanku tiada berkesudahan pada si sulung Maya, yang selalu berdiri malu –malu dari kejauhan,tubuhnya semakin langsing menginjak usianya yang ke tiga belas.Dia hanya tersenyum, sambil menuruti perintah ibunya untuk segera mengisi teko beling dengan air dingin. Sedang ayah tetap seperti biasanya sibuk membersihkan pigura-pigura diatas kayu penompang kaki lumpuhnya.

Tapi semua kosong begitu pintu kayu itu berderit menampakan isi rumah yang dijatuhi sinar-sinar bidang dari langit – langit yang bolong juga dari ventilasi – ventilasi ruang makan.Tidak ada suara ,kecuali hanya bayang – bayang dari masa lalu yang berkelebat sesekali.

Tubuhku terhempas diatas kursi kayu meja kerja ayah yang terletak disudut ruangtamu, debunya begitu tebal meski meja itu sudah benar – benar kosong tanpa selembarpun sisa sebuah pekerjaan. Dulu kami biasa berbicara diatas meja ini, diatas meja ini juga kami bermain catur hingga larut malam,diatas meja ini juga kami bertengkar saling menyudutkan dengan ribuan hujatan atas kebodohan masing –masing, yang akhirnya hanya melukai perasaan tiap- tiap jiwa dari kami. Sebuah senyum lepas dibibirku saat teringat akan sosok ayah, diatas kaki lumpuhnya dia masih bisa tertawa , masih bisa marah ,membentak ,dan juga menangis. Aku tidak pernah menyalahkan dia, karena perasaan jatuh cinta untuk kedua kalinya itu. Aku juga paham bahwa rumah tangga yang dibangunnya bersama ibu lebih banyak melahirkan ketidak tentraman dibalik meruahnya sebuah kejayaan dan kilauan yang menutupi sebongkah perasaan hitam kelamnya sebuah kekecewaan. Aku tidak pernah mengerti isi sebuah jiwa dari ayah.
Tidak bertanggungjawab, kurang ajar dan setan alas.itu yang ada dikepalaku dulu tentang ayah. Bagaimana mungkin dia meninggalkan ibu yang begitu cantik dan baik? Lari dengan seorang perempuan dari perkampungan yang tidak pernah jelas asal –usulnya,bagaimana tingkat pendidikannya, seberapa jauh keadaan keluarganya? Gila! Aku memutuskan segala yang menjadi dasar atas kehancuran keluarga ini adalah dia, dan akibat segala kesintingan pola pikirnya! Tapi apakah memang demikian? Apakah memang cinta dilahirkan untuk memecahkan sebuah ketenangan,memburamkan segala arti keindahan dan menjerumuskan makna ketentraman dari fungsi cinta itu yang sesungguhnya?
“ Jadi ayah tidak tentram dengan ibu ?” tanyaku padanya saat kami akhirnya bisa duduk berdampingan menunggui ibu yang terbaring di Rumah Sakit karena mengalami luka pada dinding lambungnya waktu itu. Lelaki itu hanya tersenyum pahit. “ Ayah, “bisikku sambil menatap lelaki yang sudah tinggal serumah lagi dengan kami itu ,” Jika kalian tidak bisa saling mencintai setidaknya janganlah kalian saling menyakiti.”
Tapi bisikan itu tidak menyelesaikan masalah. Semua benar –benar berubah. Usaha bunuh diri,jeritan ditengah malam dari kamar ibu, hentakan dan pemberontakan dari sebuah jiwa yang begitu tersiksa.semua begitu mengesalkan dan memuakan,menjijikan. Aku anggap mereka berdua adalah orang gila,ibuku yang mulai gila dengan minuman, dan ayahku yang mulai gila dengan pikirannya yang tidak pernah aku pahami.

Ingatanku kembali pada kisah lalu, dimana dengan lusuh aku mendatangi rumah kecil ayah dan istrinya ini. Waktu itu rumah kecil ini begitu indah dihiasi bunga – bunga yang berkembang , tersenyum dan bernyanyi,terutama bunga Bougenvile itu. Dari dalam terdengar tertawa geli para bocah disusul tertawa hangat ayah,jeritan khawatir seorang perempuan dipadukan canda.
“ Soffie?” ayah berdiri terkesima didepan pintu saat ditemuinya aku mendorong pintu itu terbuka lebar. Aku seperti anak singa yang telah terluka parah.

Itu permintaanku padanya, aku memintanya untuk pulang kerumah ibu barang sehari atau dua hari, sekedar untuk mengajak ibu bicara. Memintanya untuk membujuk ibu menghentikan kebiasaan minumnya, dan menghentikan kebiasaannya main lelaki atau apalah yang wajib dilakukannya untuk bisa mengembalikan rasa mencintai dirinya sendiri pada ibu! Besoknya ayah pulang , dan kembali tiga hari kemudian dalam sebuah berita ,bahwa dia dipukuli orang hingga harus diopname di Rumah Sakit. Lalu dia menjadi lumpuh seumur hidup.

“ Aku akan pindah ke Kuala Lumpur,” ujar ibu saat kutemui dia tengah mengemasi barang – barangnya sambil menghembuskan asap rokok dari bibirnya.
“ Kuala Lumpur?” aku mengernyitkan dahiku,
“Kau bertanggungjawab penuh akan rumah ini nona , aku akan terus mengirimimu uang pada rekeningmu, dan aku berikan Nunik untukmu, “ tambahnya sambil menunjuk pembantu muda kami yang ikut repot mengemasi barang.
“ Bu,aku mau tahu siapa yang menyakiti ayah waktu dia kemari kemarin?” tanyaku, memang itu intinya aku mendatangi rumah ini lagi, sekedar menantang keberaniannya untuk menjawab dari apa yang menjadi tindakan pengecutnya.
Perempuan itu langsung mengangkat alisnya tinggi – tinggi,” Hati – hati dengan mulutmu nona cantik!”
‘”Tapi ibu bisa beli semua dengan uang,” sanggahku.
“ Aku tidak bisa membeli ayahmu, apa itu belum jelas dimatamu bodoh?” dia balik menyerangku .
“ Aku beritahu padamu nona , aku mencintai ayahmu dan tidak pernah bisa menyakitinya, tapi bisa jadi orang –orang yang mencintaiku sakit hati atas apa yang dilakukan oleh ayahmu,” tambahnya, “ Terhadap aku.”
Kepalaku serasa berputar. Aku masih ingat dengan paman Vincent, dia adalah paman yang begitu sering datang kerumah ini.Menjenguk ibu dan aku. Bukan sekali dua kali kudengar dia geram dan ingin menghabisi ayah. Tapi aku sendiri tidak perduli, kenapa aku harus perduli dengan mereka yang tidak perduli dengan aku? Apakah ini adalah sebuah kewajiban dan hutang yang harus dibayar karena mereka telah melahirkan aku kedunia,memberikan aku kesempatan melihat warna dan coraknya bumi yang penuh dengan rentetan inspirasi? Huh, orangtua gila.
Lalu dia menghisap dalam – dalam rokoknya, dan berbicara ,” Aku akan menikah disana dengan Peter, dan menetap disana.”
Aku tetap berdiri dikamar ibu tanpa reaksi.kadang aku berpikir kamar tidur ini terlalu luas untuk ditiduri sendiri, tapi ibu tidak pernah mengajakku untuk tidur bersamanya. Selain dia sering berpergian kerumah tanpa aku tahu kapan dia kembali, dan ketika aku tahu dia kembali,dia lebih senang mengunci diri didalam kamar dan mabuk. Aku rasa itu adalah penderitaan, dan saat aku mencoba mengingatkannya dia hanya tersenyum sambil menepuk –nepuk pipiku bertahan menahan pening kepalanya sisa mabuk semalam, “ Anak bodoh,selesaikan sekolahmu dan berjuanglah untukku.Jangan sampai aku dengar mereka bilang aku tidak bisa didik anak,setelah tidak bisa didik suami!” Matanya menatapku diatas kelopaknya yang mulai mengantuk .
Dan ketika kopernya sudah siap, dengan lega dia duduk diatas ranjang mewahnya,meraih ponsel dibawah bantal dan berbicara dengan bahasa Inggris pada lelaki yang disebut-sebutnya sebagai Peter. “ I’ m ready Peter, where are you now?” ibu bertanya dengan aksen yang tepat, “ Oke,five minutes again, don’t be late!” .
Mataku tidak berkedip sedikitpun, tidak sulit mungkin bagi ibu untuk mencari pria lain dalam hidupnya untuk mengusir sepi, dia memiliki wajah yang cantik, tingkat kecerdasan luar biasa , dan uang yang cukup untuk hidup diatas kemewahan.
“ Aku mencintai ayahmu sampai mati, “ ujarnya tiba –tiba seolah –olah dia paham bahwa aku tengah memikirkannya, “ Mengertilah sayang, kalau aku terus disini, aku bisa gila karena membutuhkannya.” Itu sudah terjadi padamu, bisikku dalam hati. “ Ijinkan aku pergi oke? Urus rumah ini baik –baik, jangan kau ledakan! “ dia tertawa kecil, “ Dasar anak tunggal selalu berat untuk ditinggalkan!” Aku tersenyum mendengar dia mencoba menghibur dirinya sendiri,lalu tanpa sadar kuulurkan tanganku menggenggam tangannya yang pucat, jari manisnya masih dilingkari cincin emas buah pernikahannya dulu dengan ayah, “ Baik-baiklah disana , aku tidak akan mengecewakanmu.” Dia lalu memandangi wajahku dan tersenyum, kemudian mengangguk, “ I know when you were born , you wont disappointed me.” Lalu suara klakson mobil terdengar nyaring dari pintu pagar, tergopoh-gopoh Nunik berlari menuruni untuk membuka pagar. “ Pasti Peter,” ujar ibu sambil menjinjing kopernya turun menyusul Nunik.


Lalu aku tidak sanggup untuk hidup sendiri. Sekali dua kali aku berkunjung ke Bogor, bukan kota yang harus ditempuh berjam –jam, Jakarta - Bogor cuma makan beberapa menit dengan kereta api. Sekali seminggu berkunjung kerumah yang nyaman,kecil dan hangat.
Biasanya adik –adik tiriku akan mengambur kearahku, berceloteh riang, sedang ayah tersenyum hangat menganggukan kepala dan melambaikan tangan isyarat ‘ halo ‘diatas penyanggahnya. Dia tidak lagi bekerja, sehari –hari dia membantu Laras, istrinya menjalankan usaha pesanan katering. Bukan katering besar –besaran,cuma menerima pesanan kue tart,tumpeng dan berdagang snack yang dititipkan dari toko ke toko. Hal yang paling aku sukai adalah kala malam menjelang, aku akan berbaring terlentang diantara keempat adik kecilku diatas ranjang besar,kemudian membacakan sebuah buku dongeng bergambar besar.

Hidup akan menjadi sulit kalau keadaan terus menerus seperti ini, anak – anak semakin besar dengan kebutuhan yang semakin meningkat baik dari kwalitas maupun nilai nominalnya. Aku pernah membicarakan ini pada ayah,sambil menitipkannya uang sebelum aku kembali ke Jakarta untuk menyelesaikan program diplomaku. Kuliah bukan sesuatu yang berharga dimataku, ini lebih condong pada janji yang pernah aku ‘iya’kan pada ibu. Bebas! Mau pilih study jenis apapun,aku tidak perduli,yang penting lulus dan bekerja untuk mengisi kekosongan hidup.
Liburan kuliah aku habiskan dirumah mungil itu, aku bahagia punya keluarga,bangga dan begitu berarti saat bisa kudengarkan si sulung Maya menarikku kedalam kamar saat usai makan siang,lalu dengan malu – malu dia menyodorkan sebuah surat didalam amplop merah jambu.
“Apa ini ?” tanyaku bingung.
Tapi dia hanya tersenyum dan tersipu malu dan berbisik, “ Aku dapat ini dari Soleh.”
“ Soleh?” tanyaku tambah bingung,
‘He-eh, dia ketua osis disekolah,” jawabnya sambil mengkulum bibir mungilnya.
Ah, dia menunjukan padaku sebuah surat cinta.

Semua begitu jelas dimataku. Rumah ini dan bunga Bougenvile itu. Laras sangat suka bercocok tanam, saat liburan itu berlangsung sering kupandangi dia mengurusi tanaman – tanaman hiasnya ,menggemburkan tanah dipot dengan golok sambil bercerita,
“Bougenvil itu paling mudah dirawat, “ ujarnya sambil terus berjuang menggemburkan tanah si mawar menganggapi pertanyaanku tentang bunga Bougenvile, “Kita tinggal mengambil batangnya dan menancapkannya pada tanah,dia pasti tumbuh, dan bunganya bagus – bagus meski tidak harum!” Aku mengangguk sambil duduk diatas kursi besi teras yang waktu itu belum berkarat sama sekali.
“Ayahmu aku ajari untuk mencintai tumbuhan, “ tambahnya, “ Belakangan ini ayahmu jadi pendiam,untunglah kau datang menghidupkan sepinya.” Laras terus bicara tanpa memandang kearahku,rambutnya yang ikal bergoyang-goyang saat dia menarik pot bunga Bougenvile sedikit merapat kepagar,”Sebentar lagi dia berbunga ,akan indah dipandang dari luar, rumah kita seperti rumah impian!” Aku tersenyum.
“ Bagaimana si kembar ?”tanyaku saat teringat dengan Bagus, adik kembarku. Bagus lebih pendiam dari saudara kembarnya Akbar.Bagus lebih banyak diam sambil membaca atau menemani si bungsu tidur , dibandingkan dengan Akbar yang kulitnya sampai hitam karena banyak bermain layang –layang dan bermain bola dilapangan bersama kawan-kawan.
“ Hahaha,mereka lucu sekali,meski kembar sifat mereka sangat jauh berbeda!” jawabnya dengan bangga, “ Kalau Bagus dekat dengan adiknya, dan Akbar lebih dekat dengan kawan – kawan regu sepak bolanya!” Kamipun tertawa .

Kesibukan kuliah dan mencari pekerjaan rupanya cukup menyita waktuku, aku tidak sempat lagi untuk pulang, bahkan aku dipadati kesibukan saat mendapati tawaran training sebagai rekan assisten editor disebuah perusahaan besar yang bergerak dibidang penerbitan.Lalu dengan ucapan terimakasih tanpa ujung aku memberhentikan pembantuku Nunik dan memutuskan menjual rumah ibu untuk pindah ke lokasi yang dekat dengan kantor.Mengusir sepi dari rumah yang terlalu besar untuk ditinggali sendiri,mencoba melupakan ibu yang telah meninggal di Malaysia karena penyakit kanker hatinya. Malam itu Maya menelephone keponselku untuk mengabari kalau ayah masuk Rumah Sakit karena meminum racun serangga! Dan langsung dengan kereta malam aku menyusul ayah di Rumah Sakit Bogor.


Mataku menyapu setiap sudut rumah yang sudah kosong itu. Sejuta kenangan tersingkap dibalik debu pada lantai, menyisakan tapak- tapak masa lalu yang tidak mengerti kemana arah dimasa depan. Aku masih ingat bagaimana saat itu tengah malam aku menemukan Maya asyik dengan rokoknya dihalaman belakang jemuran, saat semua pergi ke Rumah Sakit mengurus ayah. “ Gila, apa yang kau lakukan?” bentakku marah sambil menampar wajahnya , dia terkejut bukan main.
“ Kak Soffie, aku kira, “ ujarnya gugup.
“Kau kira aku ikut ke Rumah Sakit?” tantangku, tapi dia tidak membalas, dia diam dibalik keterkejutannya.

“Usaha bunuh diri bukan ide yang bagus untuk lari dari masalah,” ujarku pada ayah yang terbaring lemah siang itu diranjang besi Rumah Sakit.
“ Sekarang aku melukai semua orang,” bisiknya bertahan,”Aku bertanggungjawab atas kematian ibumu.”
“Katakan padaku,apa fungsiku disini??” tambahnya.
Aku mencibir ,” Pertanyaan dan pernyataan yang bodoh.”
Dia terdiam lagi.
“ Tidak,dan aku tahu benar Laras berselikuh!” tambahnya, “ Dia selingkuh!”
Aku menggeleng,” Pemikiran bodoh lainnya.”
“Dia tidak selingkuh,” tambahku.
“ Kau yang bodoh,apa yang didapatkan dari aku? Si lumpuh dan miskin? Buka matamu Soff!!” dia mulai berargumentasi. Sedang aku menatapnya dengan diam, aku telah terbiasa dengan keadaan aneh-aneh yang dibuat para orangtua atau oleh para wanita pada khususnya.

“ Bisa jadi ibu memang selingkuh, “ ujar Maya saat mengantarku kestasiun untuk kembali ke Jakarta sore itu, “ Rumah sekarang lebih mirip neraka,kakak tahu itu?”
Aku memandanginya dengan kesal,” Tunggu saja sebentar lagi, akan kubawa ayah dan kalian ke Jakarta kalau memang ibumu berselingkuh!”
*

Tanpa sadar aku menyentuh perlahan kursi ayah, mencoba membelai kembali kerinduan yang tiada bertepi,akan kehangatan dan kebingungan dari pola pikirnya. Tiba –tiba ponselku berdering,telephone dari kantor pusat.

Dengan berat kutinggalkan jejak langkahku pada lantai sisa –sisa hidup yang lalu, dan berhenti tepat didepan pot bunga Bougenvile. Bunga itu tersenyum hangat padaku,seolah-olah membuktikan bahwa dia telah menepati janjinya untuk membuat rumah ini tetap indah meski apapun yang terjadi.Dengan gagah kuraih sebuah golok dibawah pot itu menyerupai ibu anak- anak, golok yang biasa dipakai Laras untuk menggemburkan tanah, lalu kuhunuskan golong itu pada batang bunga Bougenvile.

Tanpa menoleh lagi kebelakang kubawa serta batang bunga Bougenvile pergi bersamaku , berharap dia memberikan keindahan seperti apa yang pernah dia berikan untuk rumah ayah.

DIATAS HUMA KEBUN JAGUNG


Burhan masih menahan rasa sakit pada rahang kanannya. Kali ini nyerinya begitu terasa sampai ke dasar hati. Bisa jadi yang terluka bukan hanya gusi di sebelah kanan itu saja atau bisa jadi yang hancur bukan hanya gerahamnya, tapi hati juga rangka jiwanya mungkin ikut hancur dan runtuh. Satu pukulan ringan mendarat lagi di geraham lelaki muda itu, bapaknya, Narto memang paling jago dalam hal memukul, tidak di lapangan –di rumah, bahkan kali inipun di dalam rumah Pak RT dia tetap berniat menghabisi Burhan, putra satu-satunya itu, entah memang hobinya memukul atau memang cita – citanya jadi petinju tidak kesampaian, tapi yang jelas hobinya itu tidak disukai Burhan dan ibunya, Ummi, yang sudah hampir 7 tahun lari ke Jakarta untuk bekerja jadi pembantu rumah tangga karena sudah tidak tahan lagi tinggal bersama Narto.
“ Ibumu itu memang pelacur! “ teriaknya penuh armarah, Narto terus mengumpat dan melepaskan amarahnya, sedang Pak RT berusaha menariknya menjauh dari Burhan. “Ibunya pelacur dan anaknya jadi sepertimu, tak tahu diuntung memang punya anak sepertimu!” Narto terus menghujat, sambil mencoba kembali meraih Burhan dan berniat kembali menghajarnya
Tapi kali ini pukulan bapak bukan karena hal sepele yang biasa dihadapi Burhan sehari – hari, bukan urusan uang yang kurang untuk beli minuman, atau urusan tidak ada hidangan untuk makan, urusan ini menyangkut nama ibunya yang Burhan sendiri tidak mengerti.
Pagi tadi, sekitar pukul sembilan, Rosmini pulang dari Jakarta. Wah, ributnya seluruh orang kampung berduyun – duyun menyambut kepulangan gadis itu yang tiba dengan baju mentereng dan rupa yang jauh sama sekali berbeda, lebih ‘medok’, wajahnya jauh lebih cantik, apalagi sekarang leher dan telinganya dihiasi gandul – gandul emas. Tidak terasa tujuh tahun sudah berlalu, Rosmini akhirnya pulang ke kampung, dulu tujuh tahun yang lalu dia pergi ke Jakarta bersama Ummi , untuk mencari uang bagi keluarga di kampung , “Ketimbang di rumah saja gak ada penghasilan lebih baik sambil cari uang meski jadi pembantu rumah tangga yang penting bisa ngirim uang tiap bulan sama yang dirumah!” ujarnya dulu sambil membujuk Ummi pergi ke Jakarta.
Ribut-ributnya kepulangan gadis itu sampai juga di telinga Narto, maklumlah rumah mereka tidak terlalu jauh, apalagi satu kampung, biar dari ujung ke ujung asal satu kampung pasti semua gosip sampai dengan selamat dan merata. Tanpa mandi dan cuci muka lelaki itu dengan sarung dan kaos bututnya ikut berlari – lari menghampiri rumah Rosmini, bukan untuk menyambutnya , tapi untuk mencari tahu kabar istrinya, Ummi. Semua orang kampung tahu kalau Narto dulu tergila – gila dengan seorang gadis bernama Ummi, lelaki yang dulunya kerja di pabrik sepatu itu memang pantang menyerah, apalagi wajahnya memang lumayan ganteng. Malam minggu pertama bertandang kerumah si gadis dibawanya oleh – oleh duren, besok Minggu bawa rambutan, besoknya lagi bawa ubi sama singkong, pokoknya buat calon mertua kegirangan! Kontan gadis semata wayang Bu Janah itu kelimpungan, setiap Sabtu sepulangnya bekerja dari pabrik tenun, pasti wajah pemuda ganteng itu sudah nampang di teras rumahnya. Semakin sering Narto bertandang kerumahnya, semakin rajin gadis manis itu pergi mengaji, bagaimana tidak, gadis itu sudah dengar banyak gosip kalau lelaki tampan yang gemar memberikan oleh – oleh pada ibunya itu suka minum – minuman keras. Sebenarnya Ummi senang dengan kedatangan Narto setiap Sabtu, selain gemar memberikan oleh –oleh, lelaki itu suka memberikan uang jajan buat ibunya, maklum bapak sudah meninggal sejak Ummi berusia 12 tahun, gara – gara demam berdarah! Waktu lamaran itu datang hati Ummi tak tentu arahnya, bingung, takut dan gembira campur aduk jadi satu. Perempuan berkulit pulit itu jadi was-was kalau ketemu calon suaminya itu, “Bilang saja saya gak dirumah bu!” ujarnya dari balik pintu kamar, lalu biasanya dia mengendap – ngendap pergi ke mesjid lewat pintu belakang. Tapi atas saran Kang Haris, akhirnya Ummi mengajak Narto bicara terus terang tentang rasa cinta dan rasa gelisahnya terhadap kebiasaan minum lelaki yang juga anak semata wayang dikeluarganya. Dan sejak malam pertemuan mereka itu di huma kebun jagung, Narto berjanji akan berhenti minum – minum, “ Ha ha ha, aku minum hanya karena kesepian saja, sejak berjumpa denganmu aku sudah jarang minum kok,” kilahnya.
Rumah reyot Rosmini benar – benar penuh oleh orang – orang sekampung, anak – anak kecil sudah ngantri minta uang jajan sambil mengagumi pakaian Ros, pakaian milik orang Jakarta! Tapi Narto punya urusan penting yang tidak bisa disuruh untuk mengantri, dari kejauhan sudah terlihat wajah Pak Narto, kontan orang – orang yang bergombol memilih untuk menyingkir dari pada berurusan dengan pemabuk. Tergopoh – gopoh Narto mendesak – desak untuk masuk. “ Keur naon Kang ??” Rosmini tampak terkejut melihat Narto tiba –tiba sudah muncul didepannya , wajahnya terlihat sekali baru bangun tidur apalagi rambutnya masih berdiri begitu. Dia paham betul watak Narto ini, selain gemar mabuk, kabarnya Narto suka memukuli Burhan, Narto - Burhan dan Ummi itu memang gosip paling hangat dikampung kabupaten Cianjur itu.
“ Mana istriku?” Tanya Narto sambil celingukan kanan kiri , mencoba – coba mengintip isi rumah. Rosmini tidak mengacuhkan lelaki itu, dia tetap asyik menghitung – hitung uang ribuan untuk dibagikan pada anak – anak yang sudah pada ngantri di depannya. “Mana istriku??!” kali ini Narto menyingkirkan anak – anak yang mengantri, anak – anak itu langsung menjerit dan terjatuh sambil memanggil nama ibunya, sedang Rosmini terkejut bukan kepalang begitu tahu Narto sudah menyambar kerah bajunya, “Astaga! Apa- apaan kamu ,To?” Hampir gadis itu jatuh dari kursinya,
“ Buuuu! Ibuuu!” kontan Rosmini menjerit – jerit memanggil ibunya yang sedang repot membuka oleh – oleh makanan dari Jakarta di dapur.
“ Eh, eh , eh !” pekik ibunya sambil mendorong Narto hingga terjatuh, “ Aya naon iyeuh! Heh!”
Narto berusaha berdiri dari jatuhnya, lalu kembali menghampiri Rosmini , “ Apa salahku menanyakan istriku?”
Perempuan menor itu mencibir , “ Mana aku tahu istrimu dimana, memang aku babysitter nya?!”
Plak! Satu tamparan mendarat di pipi Rosmini, terkejut bukan kepalang, Ibu Rosmini langsung menjerit ketakutan, disusul jeritan Rosmini sendiri sambil mendorong jatuh lelaki yang hampir tua itu. “ Tolong!” jerit Ibu Rosmini sambil berlari keluar rumah minta bantuan, “ Tolong!!” Kontan pagi itu Narto langsung digiring kerumah Pak RT .
Husin, salah seorang pemuda dikampung itu mencari – cari Burhan untuk memberitahukan kalau bapaknya berurusan di rumah Pak RT. Burhan anak yang rajin, pagi – pagi dia sudah pergi ke rumah Kang Haris, disana dia membantu Kang Haris membuat beragam kerajinan tangan dari manik – manik, bukan pekerjaan rumit yang diberikan Kang Haris pada Burhan, Burhan cukup memasukan butiran manik – manik kedalam benang kenur , mengikatnya, lalu memasukannya lagi satu persatu. Kang Haris selalu membayar hasil kerja Burhan, setiap hari Kang Haris memberikan Burhan uang sebesar sepuluh ribu rupiah, untuk beli beras dan sayuran. Kang Haris sudah kenal dengan Ummi sejak dulu sebelum dia menikah, usia mereka hampir sama, tapi Kang Haris sudah menikah lebih dulu sebelum Ummi mengenal Narto, menjaga Burhan sepertinya sudah menjadi amanah bagi Kang Haris.
“ Han, bapakmu dibawa kerumah Pak RT!” Husin tergesa- gesa menghampiri Burhan yang sedang tekun memilah manik – manik, lalu dengan teliti memasukannya ke benang. “ Apa?” Burhan terkejut mendengar berita bapaknya dibawa ke rumah Pak RT , juga terkejut karena Husin muncul tiba-tiba diteras. “ Naha kitu ?” Burhan buru – buru meletakan pekerjaan tangannya lalu mendekat pada Husin. “ Ah, ikut sajalah ke rumah Pak RT, dia habis menghajar Teh Mimin!” jawab Husin. Dan dengan segera setelah pamit dengan Kang Haris, Burhan mencari bapaknya di rumah Pak RT.
Rumah Pak RT, dikerumuni banyak orang, di ruang tamu tampak Narto, Rosmini atau yang biasa dipanggil Mimin, dan ibunya serta seorang tetangga, bapaknya Husin, Pak Jono.Tampak dari kejauhan Pak RT sedang mengajak orang – orang itu untuk menjelaskan duduk perkaranya.
“Jadi kamu di Jakarta sudah jarang bertemu dengan istri Pak Narto ini?” Pak RT mencoba bertanya lagi . Rosmini mengangguk, sambil melirik melihat Burhan menaiki tangga teras menuju ruang tamu. “ Nah ini Burhan datang pak, Burhan lebih bisa diajak bicara pak ,” lanjut perempuan muda itu sambil tersenyum melihat Burhan datang. “ Duh , kasepnya,” dia mendecak kagum melihat Burhan yang sudah menginjak usia lewat dari remaja, semakin tampan saja kolaborasi ayah dan ibunya begitu nampak nyata di wajah Burhan. Tapi tiba – tiba Rosmini terdiam, seketika dia teringat akan sahabatnya Ummi. Dia tidak berani memberikan surat titipan kawannya itu pada Burhan didepan Narto.
“ Lah, Teh Mimin, ibu mana?” Burhan bertanya serta merta. Rosmini kali ini tambah bingung, apakah dia harus menjawab pertanyaan Burhan didepan Narto. Sebuah amplop berisi uang titipan Ummi dilengkapi surat yang isinya mungkin akan menyakiti hati Narto yang sebenarnya begitu terluka hatinya karena ditinggal Ummi, juga Burhan yang masih membutuhkan ibunya? “ Anu pak, saya permisi sebentar , mau kebelakang, “ tiba – tiba Rosmini menggeliat – geliat seperti menahan pergi ke belakang untuk buang air kecil. “ Oh ya, silahkan, “ Pak RT segera meluluskan permintaan Rosmini sambil menyuruh istrinya membuatkan satu gelas air putih.
Tanpa pikir panjang Rosmini langsung mengambil amplop yang dimasukan ke saku celananya sejak tadi, tanpa perduli dia merobek ujung amplop itu, mengeluarkan uang ratusan ribu dari dalamnya dan memasukannya kedalam saku celananya sendiri, hingga dalam amplop itu hanya tersisa kertas surat saja isinya. “ Ah jangan pakai amplop,” bisiknya tergesa, lalu segera kembali ke ruangan Pak RT.
“ Bagaimana Min, anda benar – benar tidak berkomunikasi lagi dengan Ummi?” Pak RT bertanya lagi. Rosmini mengangguk sambil menyodorkan kertas surat dari Ummi untuk Burhan, “ Saya minta maaf Burhan, Ummi hanya menitipkan ini .” Tanpa perduli Narto langsung merebut lipatan kertas surat yang disodorkan Rosmini. Semua terdiam, Rosmini menutup telinganya, sedang dengan mata panas dan hati tercabik – cabik Narto membaca setiap barisan tulisan istrinya, wanita yang sampai detik ini ditunggu – tunggu kepulangannya. Wanita yang masih dia cintai. Semua diam, Pak RT sendiri tidak bisa melarang Narto membaca surat dari istrinya.
Tiba – tiba lelaki itu bangkit dari duduknya, dan langsung mencengkram baju Burhan, dan memukulinya. Semua menjerit, Pak RT segera berusaha menarik Narto menjauh dari anaknya, semua orang didalam ruang tamu Pak RT menjerit – jerit ketakutan, orang - orang yang menonton sejak tadi langsung masuk dan menolong Pak RT menenangkan Narto. Narto langsung lari meninggalkan rumah Pak RT sambil menjerit – jerit, entah apa yang terjadi. Burhan langsung berdiri hendak menyusul bapaknya, tapi Rosmini langsung meraih tangannya, “ Ini ada titipan uang dari Ibumu, “ ujarnya sambil menyerahkan uang ratusan ribu dengan canggung pada Burhan. Burhan terkesima, lalu langsung memasukan uang itu ke saku, dan mengejar Narto sambil menahan sakit pada gerahamnya.
Narto tidak ditemukan dimanapun, tidak di rumah, juga di warung kopi tempatnya biasa memasang nomor buntut. Apa isi surat itu? Kenapa bapak harus lari dan menghilang.Hari itu jam sudah menunjukan hampir pukul dua belas, cuaca sangat terik , panasnya menggigit kulit. Burhan terus memanggil – manggil nama bapaknya, dan langkahnya terhenti saat dia melihat bapaknya sedang berdiri di sisi huma reyot di kebun jagung tak jauh dari kampung . Lelaki yang sudah hampir tua itu berdiri gemetar sambil memegang tiang bambu yang dipasang untuk menopang huma itu. Burhan mendekatinya perlahan, “ Pak?” dengan lembut Burhan menyentuh pundak bapaknya. Tapi Narto diam, dia tidak lagi memukul Burhan, bahkan dia tidak menjawab pertanyaan Burhan. Dia diam dan tenggelam dalam pikirannya sendiri, di huma bilik ini dulu Narto dan Ummi sering memandangi matahari tenggelam, di huma ini juga mereka berjanji akan selalu setia. Di huma tua ini Narto memberikan Ummi setangkai mawar dan berjanji berhenti minum. Lelaki itu lalu menangis. “Kami janji selalu setia, “ tiba – tiba suara Narto terdengar gemetar. Burhan terkejut , dia tidak pernah melihat bapaknya menangis, bahkan dulu waktu Ibu pergi, bapaknya tidak menangis sedikitpun. Tubuh lelaki tua itu tiba – tiba berguncang hebat, lalu menangis begitu keras. Buru – buru Burhan memeluk tubuh bapaknya yang kurus, “ Istighfar pak, ada apa?” Tapi lelaki itu hanya menangis , suaranya begitu menyayat, mulutnya seperti mengatakan sesuatu tapi yang keluar hanya suara tangis.
Adzan bergema, tangis Narto tidak berhenti. “ Pak , tenanglah, nyebut pak,” Burhan mencoba menenangkan bapaknya. Tapi Narto menggeleng, air mata terus mengalir tanpa henti sedang tubuhnya seperti kejang – kejang karena demam tinggi. Burhan langsung menarik pundak bapaknya, seketika tubuh bapaknya melemas dan jatuh begitu pada pelukan Burhan. “Pak, Pak?!” panggil Burhan sambil menahan tubuh bapaknya yang sudah tidak lagi bernyawa.
Sebuah photo keluarga bahagia terselip dalam surat itu, Ummi tersenyum ceria sambil memangku dua anaknya, sedang seorang lelaki berdarah bule tampak bangga berdiri dibelakang mereka.



Keterangan tambahan :
Teteh : panggilan kakak perempuan bagi masyarakat seputar Pasundan. Kakang/Kang : panggilan untuk laki-laki. Keur Naon : Hendak apa , Nanaoan yeuh : ada apa ini.

Biografi singkat penulis :
Yeanny Suryadi, lahir tahun 1980 di Bandung bulan September tanggal 2. Beberapa karya tulisnya telah dimuat majalah Islam lokal (edisi cetak ), Al – Mihrab Semarang, dikomentari secara hangat oleh JJ Kusni, sedang karya tulis lainnya dimuat pada media elektronik www.penulislepas.com , juga pada milist panggung.







































MESIN CUCI DIUJUNG RUANGAN

Ini sudah keterlaluan, berani – beraninya Adam memukulnya. Jangankan memukul, dulu – dulu bahkan dia tidak pernah berani membentaknya sekalipun, tapi sekarang? Seingat Farah selama ini dia belum pernah mengajukan permintaan apapun pada suaminya itu. Dia telah melakukan segala tugasnya sebagai istri dengan baik, mulai dari mengurus rumah, menghidangkan makanan, menyiapkan pakaian kerja Adam, hingga dia menurut saja saat Adam melarangnya untuk bekerja dikantor dari perusahaan kawan ayahnya . Jadi bukanlah keputusan yang tepat untuk membentak Farah lalu berani memukulnya gara- gara urusan mesin cuci!
“ Tidak bisakah kamu tidak lagi meributkan urusan mesin cuci??” Adam memandang kesal istrinya yang kembali mengungkit masalah niatnya untuk mengkredit mesin cuci sore itu.
“ Tapi mas, “ Farah mengelak , “ Aku tidak pernah minta apa – apa sebelumnya dengan mas!”
Adam menahan nafasnya, itu memang benar, sejak pacaran dulu sampai sekarang mereka menikah hampir satu tahun , istrinya , Farah tidak pernah meminta apapun. Farah memang pengertian, kondisi ekonomi keluarga ini belum stabil, biaya kontrak rumah, dan cicilan hutang untuk acara pernikahan setahun yang lalu harus dipikirkan dan diselesaikan secara baik – baik, semasa berpacaranpun Farah selalu maklum kalau Adam hanya mengajaknya lagi – lagi piknik ke telaga, tempat yang tidak banyak makan ongkos biaya , “ Iya sayang, tapi apakah kebutuhan itu sudah benar – benar mendesak?”
Apa sih beratnya mencuci pakaian hanya dari sepasang suami istri yang belum punya anak? Seharian cuma pakai baju kantor, sampai dirumah lepas kemeja cukup bersalin dengan kaos oblong tipis dan sarung, sedang Farah? Tidak ada acara kekantor, jadi tidak akan mencuci jas atau blazer, sehari – hari pakai daster atau kaos dan celana pendek. Mudahkan? Sekarang sudah banyak detergent yang ampuhnya luar biasa, cukup rendam , kucek – kucek sedikit , selesai, dibilas dan dijemur.Aneh! Kenapa lagi – lagi istrinya meributkan urusan mesin cuci, mesin cuci lagi?!
Tapi bagi Farah ini bukan perkara tenaga, tapi ini urusan harga diri! Harga diri Adam sendiri! Jadi wajar – wajar saja kalau permintaan ini harus diperjuangkan, tokh dia tahu Adam masih punya simpanan uang yang bisa dikatakan cukup untuk membayar kredit uang muka mesin cuci!
“ Uang tabungan??” sambil memelototi istrinya Adam bertanya bingung, petang itu saat kembali ditemukannya sang istri meributkan urusan mesin cuci.
“ Iya, mas, uang tabungan mas kan cukup untuk bayar uang muka,” kilah Farah.
“ Lalu kalau salah satu dari kita ada yang jatuh sakit? Mau bayar dokter atau Rumah Sakit dari mana,” tanya Adam tak habis pikir.
“ Mas, “ Farah langsung memotong kalimat yang akan diucapkan Adam lagi, “ Kalau urusan sakit kan ada ayah, kok repot amat sih??”
Inilah yang mengesalkan bagi Adam. Memang dipikirnya aku tidak mampu bayar dokter kalau misalkan Farah atau dirinya sakit? Meski hanya bekerja sebagai staf design grafis disebuah perusahaan percetakan kecil , bukan berarti dia tidak bisa menyisihkan uang kesehatan sedikit untuk istrinya, tidak perlu minta – minta bantuan mertua! Sudah cukup mertuanya itu melakukan penghinaan padanya dulu, dan itu tidak boleh terulang kembali saat Farah sudah menjadi istrinya. Dia adalah kepala keluarga, keluarga ini adalah miliknya dan Farah, bagi Adam, mertua adalah orang ketiga atau keempat, tidak perlu ikut – ikutkan mengatur perkara intern keluarganya meski dengan alasan ‘kebaikan’ atau apapun namanya itu, “ Aku masih punya harga diri Rah!”
Nah itu dia, harga diri! Justru dibenak Farah sekarang ini dia sedang memperjuangkan harga diri suaminya, tidakkah Adam mengerti bahwa mesin cuci ini berhubungan keras dengan harga dirinya?
“ Mas, dengar dulu, “ potong istrinya.
“ Kalau memang urusannya benar, patut diperjuangkan Rah, “ tolak Adam, “ Tapi ini bukan hal yang bagus untuk kau paksa!”
“ Mas!” balas Farah kecewa , “ Aku selama ini tidak pernah minta apa – apa pada mas, aku ikhlas menerima mas apa adanya mas.”
“ Apa maksudmu ??” kali ini Adam tersinggung, seketika semua beban seperti menyerangnya, hutang dari pinjaman uang pesta pernikahannya kemarin, belum lagi urusan kontrakan rumah, menabung kalau nanti sang istri hamil, mengurus uang untuk bayi, kesehatan, biaya listrik dan air! Apa harus lagi ditambah dengan permintaan aneh – aneh??
“ Mas, mas dengar dulu, “ Farah mencoba menarik kata- katanya.
“ Apa maksudmu bicara begitu, aku tahu aku miskin, aku juga tidak memaksa kau untuk menikah dengan lelaki miskin macam aku!” kali ini semua emosi meluap begitu saja, “ Aku sudah bosan dihina oleh keluarga bapakmu! Sudah ampun aku tahan segala pikiran bejatnya!”
“ Mas!” Farah meninggikan suaranya, “ Dengar dulu!”
Hilang sudah nafsu Adam untuk menikmati teh hangat buatan istrinya, semua palsu! “ Dengar apa? Apa yang harus kudengarkan untuk memuaskan nafsumu??”
Seperti ditampar rasanya wajah Farah dikatakan sedemikian rupa, nafsu!! Nafsu yang mana, dia rela tinggal dirumah kontrakan rusak seperti ini bersama Adam, dia rela mengurungkan niatnya untuk tidak bekerja meski gelar sarjana sudah ditangan demi menjaga nama baik Adam didepan ayahnya, dia rela mengurungkan segala keinginannya untuk membeli perabot rumah tangga lebih dari ini! Dia rela hidup sederhana bersama Adam, berani betul Adam mengatainya demikian, nafsu?!
“ Nafsu mana mas!” kali ini Farah berbalik memelototi Adam, “ Nafsu apa mas! Jawab mas!” Ini benar – benar tidak adil, Adam buta akan dirinya, Adam tidak berperasaan! “ Mas pikir pakai kepala mas sendiri, apa ini nafsu? Kalau aku memang orang yang penuh nafsu aku tidak memilih tinggal disini mas!”
“ Oh begitu?” Adam mengangguk mengerti, “ Aku tidak pernah memaksamu tinggal disini, aku juga tidak butuh kasihan dari kamu atau bapakmu, dan aku tidak mau istriku kurang ajar pada suaminya!”
Plak!! Satu tamparan panas terasa di pipi Farah!
Astaga Tuhan, Adam memukulnya!
“ Kau memukulku, “ rintih Farah sambil menahan sakit pada pipinya.
“ Kau!” tegas Adam sambil menunjuk istrinya, “ Kau menampar hatiku lebih dari ini!”
Tanpa banyak bicara lagi Farah berlari menuju kamar, dikuncinya pintu kayu kamar itu kuat – kuat,. Adam boleh marah, asal tidak memukulnya! Terlalu! Lalu dengan gegas perempuan berwajah molek itu mengemasi beberapa helai baju dari lemari , mendesaknya masuk kedalam koper, kemudian meninggalkan rumah dari jendela kamarnya.

Masih jelas di ingatan Adam tentang bagaimana untuk pertamakalinya Pak Sulchan mengernyitkan dahinya penuh curiga, saat dia tahu kalau kini putrinya berpacaran dengan lelaki biasa. Bagaimana tidak mengernyitkan dahi, saat dilihatnya sang tuan putri tercinta turun dari becak bersama sang pacar. Becak? Memang di seantero Jakarta ini tidak ada taksi lewat didepan hidungnya? Dan kalau separah – parahnya mereka berpacaran menghabiskan waktu di hutan, apa tidak bisa dihubunginya taksi via telephone? Makin kecewa pak Sulchan begitu dia tahu anak muda berupa tampan ini tidak juga memiliki sebatang telephone genggam.
“ Ayah rasa main – mainmu sudah cukup, besok sore kita ke rumah om Rahman,” ujar bapaknya di depan Adam yang masih duduk malu – malu di ruang tamu keluarga Farah yang mewah.
“ Main – main bagaimana ayah? “ Farah tidak mengerti, seingatnya baru kali ini dia berpacaran, keluar sendiri saja baru kali ini, biasanya bersama si Dino, supir keluarga mereka. Dan lagi mereka tidak pulang larut malam, ini masih jam enam kurang empat puluh menit!
“ Main – main lelakinya, besok mau ayah kenalkan kamu dengan David, putra pak Rahman,” jawab Pak Sulchan ringan.
“ Ayah!” malu bukan main Farah dengan Adam mendengar ucapan bapaknya , “ Apa – apaan sih ayah!”
Pak Sulchan tidak menjawab, tapi dia merasa segalanya sudah jelas, putrinya bukan untuk dipermainkan, apalagi sekarang Farah sudah berusia 24 tahun, dia harus menjaga anaknya dengan seksama dan kewaspadaan penuh.
“ Ayah jangan suka membanding – bandingkan kesetiaan dengan harta!” Farah membalas tatapan remeh ayahnya.
“ Setia dan harta memang tidak ada hubungannya, mungkin, “ balas Pak Sulchan sambil menaikan alisnya tanda dia tidak mengerti.
“ Memang sekarang Adam masih kuliah sambil bekerja, tapi entah besok selulusnya nanti , “ Farah tidak berani menatap Adam yang sejak tadi hanya diam mendengar pembicaraan bapak dan anak itu.
“ Bagus!” Pak Sulchan menahan tawa, “ Kalau begitu tunggu sampai kau lulus sekolah, baru pacari anakku.”
Tapi nyatanya, Adam putus kuliah ditengah jalan. Tapi rasa cinta Farah tidak berkurang, dengan sabar dan penuh kasih sayang Farah membantu Adam mencari pekerjaan dari sekedar part time menjadi full time. Rasa kasih sayang Farah bertambah setelah semakin diketahuinya bahwa Adam adalah tulang punggung keluarga semenjak ibunya menjanda, keluarga yang terdiri dari ibu dan dua adiknya yang masih sekolah itu otomatis menjadi tanggungjawab Adam. Perasaan kagum akan pribadi dan ketenangan Adam semakin menambah keyakinan Farah untuk menjadikan Adam sebagai sang suami dengan pribadi yang mencintai keluarga.Pernikahanpun digelar secara sederhana, bukan pernikahan yang mengecewakan dimata Sulchan tapi tidak juga terlalu istimewa dimatanya. Meski nampaknya hubungan menantu mertua itu tidak terlalu bagus.

Ada perasaan menyesal dihati Adam setelah dia memukul istrinya. Farah yang selalu tersenyum dengan keadaan yang ada, Farah yang setia mensupportnya dalam setiap keadaan yang mengecewakan bahkan saat kepergian ibu karena diabetesnya dulu, yang begitu memukul hati Adam. Farah benar, dia tidak pernah rewel akan ini dan itu, menikah dengan sederhana diterimanya meski dia berasal dari keluarga dokter yang kaya raya, menempati rumah kontrakan murah inipun diterimanya dengan ikhlas, meski dia terbiasa tinggal dirumah mewah dengan pelayan yang siap mengerjakan semua pekerjaan rumah! Berapa harga mesin cuci itu? Berapa biaya uang muka kredit awalnya ? Apa benar uang ditabungannya itu cukup? Tapi lalu bagaimana dia harus membayar kontrakan yang telah dimintanya dibayar perbulan saja sebab terlalu besar nilai nominalnya bila dibayar langsung pertahun diawal pertama kali mengontrak, bagaimana membayar rekening listrik dan air, biaya kesehatan, belum lagi menabung kalau – kalau istrinya mengandung, uang saku untuk kedua adiknya yang kini sudah cukup mandiri ?? “Ya Tuhan , “ erangnya sambil menghempaskan tubuhnya dikursi rotan ruang tamu mungil mereka, matanya seketika menatap sebuah photo besar hasil jepretan saat mereka menikah. Senyum dibibir Farah menambah keindahaan pesona dari rupa wajahnya yang cantik, matanya menyorotkan kecerdasan. Tapi Adam-pun disana tidak kalah ganteng rupanya, senyumnya selalu memikat dengan sorotan mata yang tidak kalah cerdas serta hangat.Ah, serasi! Itu kata- kata yang tepat untuk pasangan pengantin baru didalam pigura itu. “ Tidak , aku tidak pernah bermaksud untuk marah padamu, apalagi memukulmu, “ Adam memejamkan matanya pekat – pekat.

Pintu kamar itu tidak dikunci, padahal tadi Adam mendengar kalau Farah mengunci kamar tidur mereka setelah membantingnya dengan keras. Dan ketika pintu kamar itu sudah terbentang, yang ada hanyalah jendela yang terbuka begitu saja memberikan lukisan indah matahari yang mulai tenggelam dengan warna kekuningan dan dahan – dahan pohon yang seperti lengan – lengan berpelukan. Wajahnya yang basah air mata terasa sejuk saat angin menghembus membelai pipinya.



Kabar itu sangat menggemparkan dada Adam. Tiba – tiba mertuanya menelephone dan mengatakan kalau dia dan putri bungsunya yang selama ini belajar di Australia akan mampir untuk berkunjung kerumah untuk menengok Farah. Kepalanya tiba – tiba sakit luar biasa. Dimana Farah? Kenapa belum pulang juga? Dia sudah mencoba menghubungi Bi Narsih pembantu dirumah keluarga Sulchan, tapi kabarnya Farah tidak pernah berkunjung lagi kerumah bapaknya selama ini. Beberapa kawan selama Farah kuliahpun sudah dihubunginya, tapi semua tidak tahu dimana Farah berada! Aduh Tuhan, harus bagaimana lagi dia? Sudah dua hari Farah belum pulang, sedang dua hari lagi tepat dihari Minggu mertuanya akan berkunjung!
Jam 23.00 telephone dirumah itu berdering nyaring, suara telephone itu seperti terbentur – bentur bertubrukan pada dinding sempit rumah mungil mereka. Malam itu Adam telah tertidur dikursi , hampir dua hari ini dia tidak bisa tidur, kepalanya penuh dengan kerinduan pada Farah, perasaan bersalah, lelah fisik dan mental. Segala- galanya memuncak dihari kepergian Farah yang kedua. Dengan terkejut hampir melompat dari kursinya Adam terbangun, matanya langsung menatap jam dinding yang tergantung disamping photo pernikahan mereka.
“ Astaga, jam sebelas malam!” pekiknya, lalu terhuyung- huyung dia mendekati lemari kaca tak jauh dari tempatnya duduk diruang tamu, telephone itu terus menjerit seperti kesakitan.
“ Halo, Farah??” pasti Farah! Jam segini menelephone! Farah!
“ Iya mas, “ ujar suara diujung sana, dan memang suara Farah.
“ Kamu dimana, pulanglah, maafkan mas, mas memang salah!” rintih Adam menahan tangis yang tidak lagi sanggup dibendung saat Farah menanyakan apakah dia sudah makan malam.
Adam menggeleng, makan? Dia tidak merasa lapar sama sekali! “ Belum.”
“ Kenapa??” tanya Farah khawatir, bodoh sekali lelaki ini! Menikah baru setahun sudah lupa bagaimana cara makan! Dulu waktu masih bujang rakusnya bukan main kalau sudah urusan kewarung makan!
“ Pulanglah, maafkan mas!” tangis Adam terdengar jelas ditelephone.
“ Tidak bisa sekarang mas,” bisik Farah sambil menahan senyumnya, dia tahu kalau Adam tidak pernah berhenti mencintainya, dia juga tahu kalau setiap orang pernah khilaf dengan emosinya.
“ Kenapa??” tanya Adam kecewa, digenggamnya telephone itu erat – erat sambil dia berlutut didepan lemari kaca, “ Maafkan mas, pulanglah! Biar mas jemput, kamu dimana sekarang??”
“ Tidak bisa mas, tidak sekarang, “ jawab Farah sambil sesekali melirik keluar jendela kaca wartel sambil memberikan isyarat pendek pada seorang lelaki yang berdiri menunggunya di luar, “ Tunggu saja aku nanti akan pulang.”
“ Kau belum memaafkan aku ?” isak Adam.
Sedikit gemetar tangan Farah menahan gagang telephone itu, “ Tunggu saja mas aku akan pulang, tidak lama lagi. Aku harus pergi mas, ini interlokal.”
“ Apa,” terkejut Adam mendengar jawaban istrinya, “ Kamu dimana Farah??”
“ Aku akan pulang nanti, “ jawab Farah , matanya menatap lurus keluar jendela kaca wartel ditengah terminal itu, sebuah bus besar pergi begitu saja, disusul bis berikut yang mengetem pada garis halaman parkir, lalu lelaki muda di depan pintu itu melambaikan tangannya pada Farah, “ Aku harus pergi mas!”
“ Tunggu, “ Adam menahan istrinya, “ Katakan kau masih mencintaiku…”
Bibir Farah membeku, apakah cinta harus diucapkan berkali – kali. Tidakkah kau lihat aku, aku begitu mencintaimu tanpa perlu merangkai kata ? “ Aku mencintaimu, jadi jangan sakiti aku.”
Dengan haru Adam mengangguk ,menahan isaknya ditelephone “ Maafkan mas.”

*
Akhirnya mobil mewah itu sampai juga. Warna hitamnya benar – benar hitam yang berkelas, meski dia sendiri tidak bisa membedakan warna hitam dari mobil berkelas dan hitam dari mobil tak berkelas, sebab dia belum pernah memiliki mobil. Kendaraan satu – satunya hanya motor yang setiap hari dipakainya pulang pergi kekantor. Masih sama saja wajah mertuanya itu sejak dulu sampai sekarang, tidak sedap dipandang, congkak!Masih berbadan besar dengan kemeja – kemeja mahal dan kacamata reben pelindung dari cahaya matahari yang jatuh begitu terang pagi itu. Butuh kerja keras untuk membenarkan kerusakan – kerusakan pada atap rumah kecil mereka, membersihkan kamar mandi dan dinding, juga menata taman mungil didepan teras. Dia melakukan ini semua buka semata – mata untuk menyambut bapak mertuanya, tapi juga menunggu kepulangan Farah yang entah kapan!
“ Wah, segar sekali udara di sini, “ ujar pak Sulchan sambil menghirup udara dalam – dalam, “ Ini Aida, adik Farah yang sekolah di Australia!”
Dengan rasa bangga pak Sulchan memperkenalkan putri bungsunya yang sejak tadi sudah berdiri di depan pintu rumah tidak sabar masuk kerumah kakak iparnya itu. “ Ha ha ha, sudah tiga tahun Aida tidak bertemu dengan kakaknya, “ tawanya terdengar begitu besar dan tidak berubah , “ Ayo perkenalkan dirimu dulu.” Tapi gadis dengan rambut dicat pirang itu langsung mengeloyor masuk kedalam rumah sebelum dipersilahkan , tanpa membuka sepatunya dia memanggil – manggil nama kakaknya. Tapi tidak ada jawaban.
“ Kok sepi mas, kak Farah dimana?” tanya Aida heran.
“ Oh, iya, “ jawab Adam ringkuh, “ Kakakmu pergi kerumah kawannya, mendadak!”
Pak Sulchan menggeleng- gelengkan kepalanya, “ Dasar si keras kepala, bapaknya datang dari jauh, masih juga pakai acara pergi kerumah kawan. Urusan apa sampai harus tidak perduli akan kedatangan ayahnya?”
Adam mengangkat bahu seolah – olah membenarkan perkataan mertuanya, bahwa si Farah itu anak keras kepala, “ Katanya membantu temannya itu mau melahirkan.”
“ Hah!” Pak Sulchan dan Aida terkejut sama – sama.
“ Memang kak Farah kemarin kuliah ambil fak apa sih ,Yah?” Aida melepaskan tubuhnya dikursi tamu, sambil memandangi photo mesra kakaknya.
“ Ekonomi, “ jawab ayahnya singkat sambil memandang bingung Aida yang juga memandangi ayahnya dengan bingung.

Satu jam lepas menemani perbincangan mereka. Dua cangkir teh hangat harum semerbak memenuhi ruangan. “ Rumah kakak meski kecil tapi indah, “ ujar Aida sambil tersenyum mengagumi rumah mungil Adam.
“ Kalau bisa beli rumah agak besar dan dekat kota sedikit, “ sergah bapaknya.
“ Ah , enak disini Yah, tenang dan damai, tidak bising!” timpal Aida.
“ Itu juga yang pacarmu bilangkan ? “ pak Sulchan menatap putrinya, “ Pacarmu itu waktu ayah tanya kalau menikah mau tinggal dimana, malah jawab didesa!”
Aida tertawa kecil, sedang Adam mengernyitkan dahinya, “ Dia-kan sarjana pertanian Yah, calon pegawai negri! Didinaskan dimana saja harus mau!”
Pak Sulchan mengangguk – nganggukan kepalanya, “ Kalau sudah dinas dari pemerintah ya mau apa! Asal ada mobil dan tinggal di rumah yang baik.”
Putri bungsunya melirik nakal, “ Habis tahun ini kami menikah ya , Yah?”
“ Hah ?” pak Sulchan hampir tersedak saat hendak menyeruput tehnya.
“ Memang kenapa, “ tanya Aida heran.
“ Apa – apaan , kerja juga belum, “ pak Sulchan menggeleng kesal, “ Belum tentu juga dia bisa belikan kamu mesin cuci!”
Detak jantungnya seperti langsung berhenti mendengar kalimat mertuanya. Ada apa dengan mesin cuci? Seumur – umur dia tinggal bersama ibu , tidak pernah ada ribut-ribut urusan mesin cuci, tetangganya juga di kampung tidak pernah mengeluh meski telah kerja keras mencari uang, tetap dibebankan mencuci pakaian seabrek , tidak pernah ada cerita risau gara – gara mesin cuci.
“ Huh, “ pak Sulchan tiba – tiba mencibir, “ Aku jadi ingin tahu apakah Farah bahagia atau tidak hidup bersamamu!” Adam tersentak saat tanpa ramah pak Sulchan menunjuknya.
“ Aida, coba kau lihat kebelakangan, kakakmu Farah punya mesin cuci tidak ?” perintah bapaknya. Tanpa perduli akan etika bertamu Aida langsung bangkit dari duduknya sambil mengangkat bahu, dan berjalan kebelakang.

Tidak lama kemudian dia kembali sambil terus memandangi rumah mungil Adam.
“ Ada tidak ?” tanya pak Sulchan.
Aida mengangguk menginyakan pertanyaan bapaknya.
Adam tersenyum bangga.

Mesin cuci itu sudah dibelinya kemarin, seperti kata Farah, dia akan mengkreditnya. Lalu dengan segera sepulangnya dari toko electronik, dicobanya dengan malu – malu mesin cuci berwarna putih itu. Kata penjualnya sih mesin ini banyak kehebatannya, selain tidak berisik, daya cucinya ampuh! Yang lebih istimewa adalah si pemakai tidak perlu pusing – pusing beli detergen khusus mesin cuci lagi, untuk mesin yang ini sudah dirancang khusus tentang apapun detergentnya dia tetap bekerja ampuh, asal jangan pakai sabun colek! Wajahnya memerah saat Adam merobek plastik-plastik dari pinggir tubuh si mesin, lalu dengan gemas dimasukan baju- baju kotornya selama ini sambil bersiul riang, memang sejak Farah pergi dia tidak sempat mencuci baju! Tapi dia tidak menemukan pakaian kotor milik istrinya, Farah memang rajin mencuci,jadi wajar kalau semua pakaian rapih terlipat wangi didalam lemari setiap hari.
“Shhnggg… “,mesin cuci berbisik dengan halus. Adam tersenyum – senyum geli. Sambil membayangkan Farah kembali kerumahnya dengan wajah kagum akan mesin cuci diujung ruangan dekat kamar mandi.

*