Friday, October 29, 2010

Aku, Ibu dan anak

Mengemban tugas menjadi Ibu ternyata sangatlah sulit..walaupun gw sudah berusaha sesantai mungkin menjalani tugas ini...segala sikap kebungsuan..kemanjaan, seperti satu sisi pada mata koin dalam sikap kesulungan, menjadi tempat tergantung mahluk kecil yang know nothing..
peran serta suami, sebagai sahabat -guru dan 'teman curhat' ,juga sebagai ayah tentunya sangat dibutuhkan demi kelancaran pertumbuhan si kecil secara cerdas dalam edukasi dan moralitas...

Tuesday, October 26, 2010

DIBISIKI

DIBISIKI

Martono yakin, bahwa Zul adalah ‘seekor’ iblis yang menyusup, meski Zul masih seorang anak kecil, yang juga belum sampai enam tahun umurnya. Entah kapan iblis itu menyusup, tapi menurut Martono, sejak anak tanpa ayah itu lahir, Martono sudah melihat banyak kejanggalan dari diri si Zul. Beberapa kali Martono bertatap tanpa sengaja dengan cucunya itu yang sedang duduk di kasur -mata jernih anak kecil itu seketika menjadi merah marah sambil terus memelototinya, kulitnya nampak lebih gelap dari biasanya, ada urat-urat yang menonjol secara tiba-tiba dari lengannya. Lalu Sumi mengejutkan Martono dari belakang, “Nopo pak?” Bingung anaknya, melihat bagaimana Bapaknya memandangi cucunya sendiri dengan tatapan tegang.

Menurut Pak Haji Darman, itu hanya perasaan Martono saja yang belum bisa menghilangkan rasa benci pada keadaan, bukan benci pada Zul –cucunya sendiri. “Tidak ada yang salah pada Zul, “ Pak Haji Darman mengajak Martono duduk di tangga musholla, “ pak Martono ikhlaskan saja keadaaan tentang siapa ayah si Zul, tentang dosa si Sumi, tentang kenapa ini harus terjadi. Kasihan Sumi, sekarang dia harus menjadi Ibu sekaligus jadi Bapak.” Martono hanya mengangguk-anggukan kepalanya pelan, dia mencoba membenarkan apa yang dikatakan Pak Haji Darman, bahwasanya mungkin itu hanya perasaannya saja yang lalu menimbulkan halusinasi buruk terhadap cucunya. Pak Haji Darman tersenyum tenang memandang warganya yang sudah hampir berusia enam puluh itu, “Saiki, Pak Martono benar-benar diberikan amanah oleh Gusti Alloh, dititipi anak , dan cucu.” Ya, setelah dia ditinggal mendiang istrinya, sekarang di bawah atap rumah sederhananya mereka hanya hidup bersama -bertiga. Garis matahari mulai merah , sedang di atasnya langit mulai gelap, sebentar lagi maghrib. Pak Haji Darman berdiri, mengajak Martono untuk berwudhu dan bersiap-siap untuk berjamaah di musholla.

Sekarang, sejak Sumi datang dari Kudus, rumah mereka banyak berubah, setelah banyak perubahan-perubahan lain sebelumnya. Sumi membangun tenda kecil di depan rumah orang tuanya itu, dia menjual gorengan dan nasi bungkus kecil-kecilan di malam hari. Dan seperti biasa, saat Martono berjalan pulang dengan sarung dan kemeja kokonya, dari kejauhan sudah nampak warung Sumi yang agak ramai, teras rumah mereka jadi meriah. Martono menghela nafasnya panjang, dia benar- benar akan menghapus pikiran ‘benci’ yang bila memang ada di dalam hatinya, seperti kata pak Haji Darman. Sumi berhenti melayani pembelinya, segera menyalami tangan Bapaknya yang baru datang, dan mencium punggung tangannya, Martono hanya mengeluarkan suara serak yang tertahan , lalu masuk tanpa menyapa orang-orang di warung anaknya.

Lelaki tua itu duduk di ruang tamu, menyandarkan punggungnya pada kursi, sampai sesuatu membuatnya terkejut. Ada bayangan hitam melesat cepat lari menuju dapur, bayangan itu pendek dan berkesan gemuk, dengan ekor yang mirip ekor si iblis -panjang meruncing. Mata Martono terbelalak, nafasnya berhenti sejenak. Semenjak dia menikah dengan istrinya dan kemudian mereka dikaruniai dua orang putri, tidak pernah sebelumnya sampai sekarang ada jin, atau ruh gentayangan di rumah mereka. Martono bangkit dari duduknya, bibirnya komat-kamit membaca ayat kursi. Zul berdiri di dapur , tersenyum memandanginya, matanya merah menyala. “Ko-koe sopo?” Martono mencari-cari sosok cucunya yang lain, tapi mereka hanya berdua di sana. Anak berusia enam tahun itu tertawa, giginya besar-besar berbaris, lalu mulutnya terbuka membuat tawa yang keras, lidah anak kecil itu hitam , sedang tampak tenggorokannya merah membara, seperti ada banyak bongkahan batu-batu di dalamnya. “Astagfirullah!!” Martono menjerit, tubuhnya gemetar seperti masuk ke dalam mulut anak kecil itu. Dia jatuh, samar-samar dia mendengar Sumi panik menjerit-jerit memanggilnya . Segera orang-orang masuk menolong Martono, malam itu heboh di kampung tempat Martono tinggal.

Martono menceritakan semuanya lagi pada Pak Haji Darman yang keesokan paginya menjenguk ia, yang masih berbaring di ranjang. Sumi juga nampak sibuk mengurus Bapaknya, sedang Zul asyik menonton acara kartun di televisi. Martono bertutur dengan terbata-bata, air mata sampai menitik di pipnya, bahwasanya apa yang ia lihat bukan lagi khayalannya, tapi kenyataan. Kali ini Pak Haji Darman yang terus mengangguk-anggukan kepalanya, sambil sesekali berkata ‘ya, baik’, ‘ya’-lagi, dan ‘baik’ lagi. Kemudian Pak Haji Darman mengajak keluarga Sumi untuk mengadakan pengajian rutin, yang seharusnya giliran jatuh pada rumah warga yang lain, tapi khusus karena masalah ini, besok Kamis , pengajian dilaksanakan di rumah Pak Martono. Pak Haji Darman juga menyarankan agar Sumi mengundang adiknya yang tengah merantau di kota Surabaya untuk pulang sebentar, guna meramaikan rumah mereka, mungkin saja Pak Martono masih terpukul sepeninggal istrinya, dan masih terpukul atas kelahiran cucu tanpa ayah itu. Apalagi bila dihitung-hitung sesungguhnya sudah hampir enam tahun , Martono menyimpan armarah atas kelahiran anak Sumi. Sumi mengerti, dia akan menjalankan perintah Pak Haji Darman sesegera mungkin, wanita itu sudah merasa cukup bersalah atas dosanya hamil di luar menikah, dia telah membuat mendiang Ibunya sakit-sakitan sebelum menemui ajal, karena dia adalah anak sulung dalam keluarga, seharusnya dialah anak harapan dalam keluarga.

Sumi menangis di tangan Bapaknya, dia meminta ampun bila telah melukai perasaan Bapaknya itu. Tapi Martono hanya diam, rahangnya kaku menahan kebencian. Zul bangkit dari duduknya di depan televisi mendengar tangis Ibunya. Anak kecil itu kebingungan melihat ibunya menangis meraung –raung, sedang Kakeknya berbaring diam , wajahnya keras karena armarah. “Bu`e nopo??” Zul memeluk punggung Ibunya, tapi Sumi terus menangis. Martono memandangani Zul yang memeluk punggung Sumi. Anak kecil itu mulai ikut-ikutan menangis, tanpa berani menatap wajah kakeknya, dia tahu Martono benci dirinya, kakeknya itu tidak pernah menggendong dia seperti para kakek pada umumnya, dia tahu memang benar Martono membencinya, dia tidak merasakan kelembutan dari kakeknya, sampai sekarang di usianya yang hampir enam tahun. Martono terus melihat sosok cucunya yang masih kecil, dia perlahan merasa bersalah, bahwa benar adanya, Zul hanyalah seorang anak kecil. Namun tiba-tiba Zul mengangkat kepalanya memandang tajam Martono kala tangis Sum semakin meraung. Martono tersentak, diraihnya gelas di meja sampingnya, disiramnya Zul yang berpelukan pada Sumi. Sumi menjerit kaget, menangis meninggalkan bapaknya sambil menggendong Zul.

Hampir pukul satu dini hari, Martono terjaga dari baringnya. Dia mendengar suara bisik-bisik di telinganya, lalu bisik-bisik itu terdengar dari dapur. Lagi., Martono sudah mengerti tentang iblis itu. Dia segera keluar dari kamarnya, dan pertama dia mencari Sumi juga Zul di kamar mereka. Sumi sudah tertidur dalam gelisahnya, dan tidak ada Zul berbaring bersamanya. Martono tersenyum, dia yakin, di dapur adalah Zul anak si Sumi. Dapur gelap, Martono meraih saklar lampu dapur, seketika dapur terang, ada Zul di sana.

“ Ngopo neng kene?” Martono berjalan mendekat sambil tersenyum puas.

Zul nampak ketakutan, “Meh, mimi…”

Martono tertawa, ‘mau minum dalam keadaan gelap-gelap?’

“Iblis koe…” bisik Martono.

Lelaki tua itu makin mendekat pada Zul, anak kecil itu terpojok ke dinding, terlihat wajah kakeknya penuh armarah.

Tangan keriput Martono meraih pundak Zul, diguncang-guncangkannya tubuh Zul kuat-kuat, “Ta` pateni koe….ta` pateni ibliiis….!”

Mata Zul melotot, lehernya mulai tercekik, telapak tangan kakek tua itu seketika seperti muda kembali, kekuatannya begitu terasa oleh tubuh mungil Zul. Martono tertawa besar seiring dengan membesarnya tubuh yang sebelumnya ringkih.

Gelas di tangan Zul terjatuh, dia tidak lagi mengenali sosok di depannya.

Prangg!!

Bumi bergoncang!

Lampu di dapur bergoyang-goyang, dinding mulai runtuh.

Zul menjerit kesakitan dan ketakutan, lelaki tua itu menyeringai, lidahnya berwarna hitam sedikit menjulur -ujungnya runcing, sedang mata kakeknya sekarang merah menyala, kepalanya sedikit miring mencoba menikmati kesakitan Zul, tangannya tidak lepas dari leher.

Lantai berderak, retak membelah, pecahan lantai terangkat berhamburan.

Gempa!!

Gempa!!

Ribut seisi kampung -diguncang gempa bumi.

Runtuh dinding jatuh ke kepala Martono, lelaki itu langsung roboh melepaskan cekikannya dari leher Zul, tubuhya menimpa cucunya yang masih menjerit-jerit. Bumi terus bergoncang, jeritan terus sesak menggema dimana-mana. Sumi terjaga, matanya terbelalak , tubuhnya terus bergetar sambil berlari kesana kemari mencari sosok si kecil, menjerit-jerit Sumi menyebut nama anaknya. Lalu sebuah lemari mendorongnya terjepit di sudut tembok. Sumi menutupi kepalanya,dadanya rapat di dinding, jongkok sambil menjerit-jerit memanggil nama Gusti Allah.Sedang Zul terus berusaha keluar dari rangkulan jasad kakeknya, tiba-tiba dia tertegun, air mata mengalir tanpa tangis saat dilihatnya iblis keluar dari punggung kakeknya sambil membuang sumpah serapah.

penulis

Lahir di Bandung, 1980. Yeanny Suryadi sempat menempuh study di Universitas Dian Nuswantoro Semarang. Tulisannya telah dimuat di beberapa media cetak, juga puisi dan aforismanya. Cerita pendeknya yang telah dimuat berulang adalah Di Muka Rumah-Mu Tuhan ( Sinar Harapan,2005 & Surabaya post,2008 ). Karya-karya lainnya, Di Atas Meja Persegi Empat ( Sinar Harapan 2004), Hamid ( Sinar Harapan, 2005),Mesin Cuci Di Ujung Ruangan ( Suara Karya,2004), Nurdin ( Pos Indo 2005), Sajak-sajak Di atas Jembatan ( Waspada, 2004), Setan dan Lebah Kecil (RadarBanjarmasin,2004), Secangkir Kopi Terakhir ( Al-Mihrab,2004).

Monday, October 25, 2010

menulis lagi...dan lagi...untuk diri sendiri dan oranglain..

menulis lagi, setelah hampir empat tahun menulis tidak pernah selesai..membaca lagi, setelah hampir empat tahun membaca segala yang 'berbau' perkembangan anak, bayi..dan perkembangan diri untuk suami. Saya pikir, wanita memang berbeda dengan pria...meski waktu saya tidak selesai -selesai membaca atau menulis, tapi saya sangat bahagia saat harus trully be a mother , focus being a friend for the little one...
Selamat menulis kembali, dan selamat membaca kembali! Selamat berkarya untuk masyarakat, untuk perubahan yang hakiki

DIBISIKI

DIBISIKI

Martono yakin, bahwa Zul adalah ‘seekor’ iblis yang menyusup, meski Zul masih seorang anak kecil, yang juga belum sampai enam tahun umurnya. Entah kapan iblis itu menyusup, tapi menurut Martono, sejak anak tanpa ayah itu lahir, Martono sudah melihat banyak kejanggalan dari diri si Zul. Beberapa kali Martono bertatap tanpa sengaja dengan cucunya itu yang sedang duduk di kasur -mata jernih anak kecil itu seketika menjadi merah marah sambil terus memelototinya, kulitnya nampak lebih gelap dari biasanya, ada urat-urat yang menonjol secara tiba-tiba dari lengannya. Lalu Sumi mengejutkan Martono dari belakang, “Nopo pak?” Bingung anaknya, melihat bagaimana Bapaknya memandangi cucunya sendiri dengan tatapan tegang.

Menurut Pak Haji Darman, itu hanya perasaan Martono saja yang belum bisa menghilangkan rasa benci pada keadaan, bukan benci pada Zul –cucunya sendiri. “Tidak ada yang salah pada Zul, “ Pak Haji Darman mengajak Martono duduk di tangga musholla, “ pak Martono ikhlaskan saja keadaaan tentang siapa ayah si Zul, tentang dosa si Sumi, tentang kenapa ini harus terjadi. Kasihan Sumi, sekarang dia harus menjadi Ibu sekaligus jadi Bapak.” Martono hanya mengangguk-anggukan kepalanya pelan, dia mencoba membenarkan apa yang dikatakan Pak Haji Darman, bahwasanya mungkin itu hanya perasaannya saja yang lalu menimbulkan halusinasi buruk terhadap cucunya. Pak Haji Darman tersenyum tenang memandang warganya yang sudah hampir berusia enam puluh itu, “Saiki, Pak Martono benar-benar diberikan amanah oleh Gusti Alloh, dititipi anak , dan cucu.” Ya, setelah dia ditinggal mendiang istrinya, sekarang di bawah atap rumah sederhananya mereka hanya hidup bersama -bertiga. Garis matahari mulai merah , sedang di atasnya langit mulai gelap, sebentar lagi maghrib. Pak Haji Darman berdiri, mengajak Martono untuk berwudhu dan bersiap-siap untuk berjamaah di musholla.

Sekarang, sejak Sumi datang dari Kudus, rumah mereka banyak berubah, setelah banyak perubahan-perubahan lain sebelumnya. Sumi membangun tenda kecil di depan rumah orang tuanya itu, dia menjual gorengan dan nasi bungkus kecil-kecilan di malam hari. Dan seperti biasa, saat Martono berjalan pulang dengan sarung dan kemeja kokonya, dari kejauhan sudah nampak warung Sumi yang agak ramai, teras rumah mereka jadi meriah. Martono menghela nafasnya panjang, dia benar- benar akan menghapus pikiran ‘benci’ yang bila memang ada di dalam hatinya, seperti kata pak Haji Darman. Sumi berhenti melayani pembelinya, segera menyalami tangan Bapaknya yang baru datang, dan mencium punggung tangannya, Martono hanya mengeluarkan suara serak yang tertahan , lalu masuk tanpa menyapa orang-orang di warung anaknya.

Lelaki tua itu duduk di ruang tamu, menyandarkan punggungnya pada kursi, sampai sesuatu membuatnya terkejut. Ada bayangan hitam melesat cepat lari menuju dapur, bayangan itu pendek dan berkesan gemuk, dengan ekor yang mirip ekor si iblis -panjang meruncing. Mata Martono terbelalak, nafasnya berhenti sejenak. Semenjak dia menikah dengan istrinya dan kemudian mereka dikaruniai dua orang putri, tidak pernah sebelumnya sampai sekarang ada jin, atau ruh gentayangan di rumah mereka. Martono bangkit dari duduknya, bibirnya komat-kamit membaca ayat kursi. Zul berdiri di dapur , tersenyum memandanginya, matanya merah menyala. “Ko-koe sopo?” Martono mencari-cari sosok cucunya yang lain, tapi mereka hanya berdua di sana. Anak berusia enam tahun itu tertawa, giginya besar-besar berbaris, lalu mulutnya terbuka membuat tawa yang keras, lidah anak kecil itu hitam , sedang tampak tenggorokannya merah membara, seperti ada banyak bongkahan batu-batu di dalamnya. “Astagfirullah!!” Martono menjerit, tubuhnya gemetar seperti masuk ke dalam mulut anak kecil itu. Dia jatuh, samar-samar dia mendengar Sumi panik menjerit-jerit memanggilnya . Segera orang-orang masuk menolong Martono, malam itu heboh di kampung tempat Martono tinggal.

Martono menceritakan semuanya lagi pada Pak Haji Darman yang keesokan paginya menjenguk ia, yang masih berbaring di ranjang. Sumi juga nampak sibuk mengurus Bapaknya, sedang Zul asyik menonton acara kartun di televisi. Martono bertutur dengan terbata-bata, air mata sampai menitik di pipnya, bahwasanya apa yang ia lihat bukan lagi khayalannya, tapi kenyataan. Kali ini Pak Haji Darman yang terus mengangguk-anggukan kepalanya, sambil sesekali berkata ‘ya, baik’, ‘ya’-lagi, dan ‘baik’ lagi. Kemudian Pak Haji Darman mengajak keluarga Sumi untuk mengadakan pengajian rutin, yang seharusnya giliran jatuh pada rumah warga yang lain, tapi khusus karena masalah ini, besok Kamis , pengajian dilaksanakan di rumah Pak Martono. Pak Haji Darman juga menyarankan agar Sumi mengundang adiknya yang tengah merantau di kota Surabaya untuk pulang sebentar, guna meramaikan rumah mereka, mungkin saja Pak Martono masih terpukul sepeninggal istrinya, dan masih terpukul atas kelahiran cucu tanpa ayah itu. Apalagi bila dihitung-hitung sesungguhnya sudah hampir enam tahun , Martono menyimpan armarah atas kelahiran anak Sumi. Sumi mengerti, dia akan menjalankan perintah Pak Haji Darman sesegera mungkin, wanita itu sudah merasa cukup bersalah atas dosanya hamil di luar menikah, dia telah membuat mendiang Ibunya sakit-sakitan sebelum menemui ajal, karena dia adalah anak sulung dalam keluarga, seharusnya dialah anak harapan dalam keluarga.

Sumi menangis di tangan Bapaknya, dia meminta ampun bila telah melukai perasaan Bapaknya itu. Tapi Martono hanya diam, rahangnya kaku menahan kebencian. Zul bangkit dari duduknya di depan televisi mendengar tangis Ibunya. Anak kecil itu kebingungan melihat ibunya menangis meraung –raung, sedang Kakeknya berbaring diam , wajahnya keras karena armarah. “Bu`e nopo??” Zul memeluk punggung Ibunya, tapi Sumi terus menangis. Martono memandangani Zul yang memeluk punggung Sumi. Anak kecil itu mulai ikut-ikutan menangis, tanpa berani menatap wajah kakeknya, dia tahu Martono benci dirinya, kakeknya itu tidak pernah menggendong dia seperti para kakek pada umumnya, dia tahu memang benar Martono membencinya, dia tidak merasakan kelembutan dari kakeknya, sampai sekarang di usianya yang hampir enam tahun. Martono terus melihat sosok cucunya yang masih kecil, dia perlahan merasa bersalah, bahwa benar adanya, Zul hanyalah seorang anak kecil. Namun tiba-tiba Zul mengangkat kepalanya memandang tajam Martono kala tangis Sum semakin meraung. Martono tersentak, diraihnya gelas di meja sampingnya, disiramnya Zul yang berpelukan pada Sumi. Sumi menjerit kaget, menangis meninggalkan bapaknya sambil menggendong Zul.

Hampir pukul satu dini hari, Martono terjaga dari baringnya. Dia mendengar suara bisik-bisik di telinganya, lalu bisik-bisik itu terdengar dari dapur. Lagi., Martono sudah mengerti tentang iblis itu. Dia segera keluar dari kamarnya, dan pertama dia mencari Sumi juga Zul di kamar mereka. Sumi sudah tertidur dalam gelisahnya, dan tidak ada Zul berbaring bersamanya. Martono tersenyum, dia yakin, di dapur adalah Zul anak si Sumi. Dapur gelap, Martono meraih saklar lampu dapur, seketika dapur terang, ada Zul di sana.

“ Ngopo neng kene?” Martono berjalan mendekat sambil tersenyum puas.

Zul nampak ketakutan, “Meh, mimi…”

Martono tertawa, ‘mau minum dalam keadaan gelap-gelap?’

“Iblis koe…” bisik Martono.

Lelaki tua itu makin mendekat pada Zul, anak kecil itu terpojok ke dinding, terlihat wajah kakeknya penuh armarah.

Tangan keriput Martono meraih pundak Zul, diguncang-guncangkannya tubuh Zul kuat-kuat, “Ta` pateni koe….ta` pateni ibliiis….!”

Mata Zul melotot, lehernya mulai tercekik, telapak tangan kakek tua itu seketika seperti muda kembali, kekuatannya begitu terasa oleh tubuh mungil Zul. Martono tertawa besar seiring dengan membesarnya tubuh yang sebelumnya ringkih.

Gelas di tangan Zul terjatuh, dia tidak lagi mengenali sosok di depannya.

Prangg!!

Bumi bergoncang!

Lampu di dapur bergoyang-goyang, dinding mulai runtuh.

Zul menjerit kesakitan dan ketakutan, lelaki tua itu menyeringai, lidahnya berwarna hitam sedikit menjulur -ujungnya runcing, sedang mata kakeknya sekarang merah menyala, kepalanya sedikit miring mencoba menikmati kesakitan Zul, tangannya tidak lepas dari leher.

Lantai berderak, retak membelah, pecahan lantai terangkat berhamburan.

Gempa!!

Gempa!!

Ribut seisi kampung -diguncang gempa bumi.

Runtuh dinding jatuh ke kepala Martono, lelaki itu langsung roboh melepaskan cekikannya dari leher Zul, tubuhya menimpa cucunya yang masih menjerit-jerit. Bumi terus bergoncang, jeritan terus sesak menggema dimana-mana. Sumi terjaga, matanya terbelalak , tubuhnya terus bergetar sambil berlari kesana kemari mencari sosok si kecil, menjerit-jerit Sumi menyebut nama anaknya. Lalu sebuah lemari mendorongnya terjepit di sudut tembok. Sumi menutupi kepalanya,dadanya rapat di dinding, jongkok sambil menjerit-jerit memanggil nama Gusti Allah.Sedang Zul terus berusaha keluar dari rangkulan jasad kakeknya, tiba-tiba dia tertegun, air mata mengalir tanpa tangis saat dilihatnya iblis keluar dari punggung kakeknya sambil membuang sumpah serapah.