Geger! Si tukang becak -Pak Dayat,
si Hidayat kaya mendadak. Becaknya diberikan cuma-cuma pada Naryo, pengangguran
yang sudah tua masih juga membujang. Tak ada becak parkir lagi di gubuknya,
kali ini sebuah motor bagus berkilau mentereng di tanah kumuh. Dalam semalam
dia kaya mendadak!
Orang-orang kampung sesak berkumpul
di rumah berbau jamur milik Pak Dayat .
Selain Dayat , adalah juga istrinya tinggal di gubuk itu, tubuhnya gemuk dengan
baju lusuh yang sobek di sana-sini. Semua ingin tahu apa yang terjadi, tapi
baik Pak Dayat dan istrinya hanya tersenyum-senyum, sambil sesekali bertatapan
mesra dan berbisik mengucapkan syukur alhamdulillah. Dari jauh tampak Pak RT
datang tergesa bersama orang-orang yang sengaja menjemputnya, jalan sempit
menuju rumah Pak Dayat yang hanya dari tanah
becek -membuat Pak RT sesekali berjingkat dalam tergesanya.
“Pamit..pamit,” Pak RT mencoba
menembus kerumunan di rumah si Dayat itu.
Ah,
yang ditunggu-tunggu sudah datang, Dayat langsung berdiri, dibersihkannya tikar
bakal duduk pemimpinnya.Singkong bakal sarapan pagi masih mengepul hangat.
“Assalamualaikum!” dilepasnya selop
, lagi dia jalan berjingkat menuju tikar.
Si Dayat langsung menyalaminya,
menjawab salam, dan mempersilahkan duduk tamunya, warga makin penuh sesak di
pintu gubuk, suasana jadi gelap, semua lubang ditutupi tubuh warga yang sesak
pada jendela, sesak pada pintu, dan dinding bilik si Dayat. Tergugup si istri
datang membawakan air putih,” Sarapan, Pak RT.” Darto manggut – manggut,
memandangi si singkong rebus. Lalu
mereka bertiga berbicara. Tidak ada yang bisa didengar warga barang sedikit,
tiga orang itu lebih mirip sedang berbisik-bisik, seperti tengah menyusun
rencana perang.
Wajah
Pak RT mengernyit, wajah para warga yang sesak memenuhi gubuk si Dayat , juga
ikut mengernyit, kerut-kerutan muncul di dahi semua orang. Si istri yang gemuk
bersusah payah untuk bangkit , lalu berlari kecil , tergesa lagi menuju lemari
pakaian dari kain, dan mengambil segenggam kunir- kunyit dari dalam toples, ada
tiga atau empat di telapaknya.
Pak RT menggerakkan tubuhnya
menyambut ketergesaan wanita gemuk itu. Diraihnya sebatang kunyit, dia lihatnya
lekat-lekat, diangkatnya sepotong kunyit itu agar diterangi cahaya. Ah, hanya
sepotong kunyit. Tapi, lantas si Dayat berbicara lagi dengan suara pelannya.
Pak RT menarik tubuhnya seolah menolak pernyataan si Dayat, si tukang
becak.Tapi Pak Dayat mengangguk, dan terus meyakinkan Pak RT, lagi lelaki yang
disegani itu mengernyit, juga kemudian warga yang berkumpul sesak ikut
mengernyit. Pak RT memanggil si Nurdin , kepala bagian Siskamling. Sambil
membungkukkan badan si gagah itu menghampiri Pak Darto, lalu dianggukan
kepalanya setelah dia dibisiki Pak Darto.
“Pamit-pamit, “ ujarnya pada warga
yang berkumpul menutupi pintu dengan tubuhnya.
Kreet,
klek. Pintu rumah reyot Pak Dayat ditutup, lalu semua jendela reyotnya juga.
Tak lama nampak lampu gubuk dinyalakan.
Hampir satu setengah jam kemudian,
Pak RT keluar dari dalam rumah dengan tubuh penuh keringat, bersama si Nurdin,
kepala bagian Siskamling RT dua. Seperti para wartawan berita ,warga kampung
yang kumuh itu bertanya – tanya tanpa koma pada Pak RT. “Ono opo toh Pak?”
warga terus mendesak, “ pripun toh , Pak?!”. Pak Darto hanya diam membungkukkan
badan untuk meminta permisi agar diberi jalan untuk pulang, Nurdin membuntutinya dari belakang. Pintu
rumah si Dayat dikunci lagi dari dalam. Anak-anak ingusan sibuk mengerubuni
motor bagus Pak Dayat, mengeluarkan suara-suara seru, “berruumm..beruumm, “
muka ingusan mereka serius berpura-pura mengendarai si motor bagus, yang
lainnya mulai merengek minta gantian naik motor bagus hitam itu. -
Jadi begitu ceritanya. Semalam, Pak
Dayat si tua renta itu masih pantang menyerah menunggu rejeki datang, padahal
waktu sudah hampir pukul dua puluh tiga. Tapi yang diselipkan pada topi di
kepala baru dua lembar uang dua puluh
ribuan, sedang beras di rumahnya sudah benar-benar habis -cerita istrinya. Lalu
seorang nenek tua berjalan ke arahnya dengan banyak bawaan, katanya dia baru
mengunjungi putranya di Ungaran, Semarang atas, lalu kendaraanya mogok di
tengah jalan, dia terpaksa menumpang angkutan umum, dan minta diantar becak
menuju rumahnya daerah Borgota. Setelah bersusah payah, sampailah mereka di
ujung gang, Pak Dayat tidak sanggup kalau harus mengantar masuk gang yang
menanjak tajam. si Nenek tua mengerti, tapi, “Oala mbah!” dia kebingungan,
tidak ada dompetnya. Mereka berdua kebingungan, diajaknya si Dayat ikut ke
rumah untuk mengambil uangnya, tapi Dayat menolak, ‘memang belum rejeki,’
begitu pikirnya. Nenek tua itu menyesal, disodorkannya sekaleng kaleng biskuit
-oleh-oleh anaknya dari Ungaran dan segenggam kunir-kunyit. Wajah Pak Dayat merekah, sekaleng biskuit bisa untuk mereka makan di
rumah, sedang kunyit untuk apa, tapi tak mengapalah. Setelah berterimakasih,
dan bermaaf-maafan, nenek tua dan Pak Dayat lantas berpisah.
Sehabis
sholat subuh, istri si Dayat mengupasi dua potong kunir bakal memasak. Dan
emaslah yang ada di bawah kulit kunyit, bukan daging kunir-kunyit. Dan waktu
mereka bingung akan kebenaran kilau kuning di bawah kulit si kunyit, motor
bagus yang mereka beli dengan kunyit-kunir itu membenarkannya.
Perintah
Darto jadi pikiran Dayat dan istrinya. Tapi mereka yakin, bahwasanya pemimpin
mereka selama ini, adalah pemimpin yang
selalu berpikir dan menjalankan segalanya dengan baik, demi
kesejahteraan warganya, ibarat iman : diyakini dalam hati, diucapkan dengan
benar , lantas diamalkan dalam laku, begitulah polah Darto hidup dimata Dayat
dan warga Kueli. Lantaran itu juga, belum ada yang sanggup memilih pengganti
Darto untuk tahun ketiga masa kepemimpinannya. Dayat menghela nafas panjang
dalam lamunnya, mereka harus meninggalkan kampung ini, hidup dengan berjualan
dari modal emas yang ada. Hidup meninggalkan kebobrokan di tanah Kueli.
“Pripun, Pak?” istrinya
mendekat.
“ Panjenengan percoyo
kagem Darto toh ?” dipandanginya si istri tanpa keraguan.
Si istri mengangguk,
meski pikirannya bimbang.
“ Yo wes, “ Dayat
bangkit dari duduknya, dipandanginya si langit-langit rumah yang bobrok, “
sesok kita pindahan.”
Istrinya terdiam, sebab
Darto menyuruh mereka pindah hari ini juga, sebelum malam.
*
Apalah
yang buat si Dayat belum minggat dari Kueli ?! Urusan bawa barangkah? Barang
apa yang mau mereka bawa, semua barangnya sudah bau busuk dan berjamur. Cukup
bawa badan , sisanya tinggal diurus si kunyit emas itu! Resah Darto dibuatnya,
nyawa Dayat jadi pikirannya, seharusnya dia mengurus segalanya sendiri, tapi
sekarang Nurdin juga sudah tahu perkara kunir itu! Darto curiga, belakangan
Nurdin tidak kelihatan, istri dan anaknya cuma bilang , “Ndak ngerti, tindak
endi, wes rong dino ra wangsul-wangsul. ”
Rintik-rintik
gerimis turun. Selesai isya , Darto panjatkan doa , pikirannya penuh dengan
rasa sesal, segala usaha sudah dibuatnya, bila si Dayat belum juga minggat,
bisa jadi memang sudah takdirnya apabila ada hal buruk menimpanya malam ini. Bu
Letik iba memandangi isak suaminya dalam doa, dia ikut duduk di belakang
sajadah si suami, ikut juga dipanjatkan doa. “Aku ya ora dipercaya karo wargaku
dewe…” Darto menundukan kepalanya. Bu Letik tersenyum, “ Sing penting kita
sampun berusaha Pak, sisane dipasrahke
karo gusti Alloh. Ben, Dayat milih jalane dewe…”
*
Kekurangajaran
tikus bawa petaka. Mereka berbaris-baris dengan cekatan lewat lubang bilik
rumah Dayat, ditembusnya pawon , ditengoknya rumah bau busuk itu. Dayat
dan istrinya sudah tidur dalam kelegaan, besok akan jadi hari yang melelahkan,
malam ini mereka harus istrirahat lebih awal, begitu pikirannya. Tikus-tikus
kebingungan mata mereka tertarik melihat kunir-kunir tertata rapih dalam toples
di lemari, harumnya bisa sampai di moncong mereka. Lincah mereka sampai di atas
lemari doyong, satu gerakan , toples jatuh pecah berantakan. Suaranya nyaring
buat Dayat terjaga. Matanya terbelalak, tikus-tikus sudah merampok
kunyit-kunirnya. “Masyallah!” dia bangkit, segera dicobanya menahan tikus-tikus
tidak kabur dengan kunyitnya. “Bu!Bu!
Tulung Bu, tulung, wungu !!” istrinya masih lelap dalam dengkuran. Dayat
terengah-engah dibuat berkejar-kejaran dengan tikus, usianya bukan tandingan
dengan para pengerat. Tiba-tiba pintu rumah terbuka, tamu mana yang bertandang
di hampir dini hari tanpa sopan dan santun?
Sebilah
golok dihunuskan ke arah leher keriput Dayat. “Atas nama La ilaha illallah,”
begitu Nurdin bicara, untuk yang agung- layaknya Khidir dia berpolah, “ endi
kunir’e?”
Dayat
gelagapan, dua orang lagi dengan wajah yang sama ditutup kain hitam menggugah
istri Dayat, begitu perempuan itu menjerit, langsung ditutupnya mulut dengan
kain. Perempuan itu menggeleng ketakutan.
Dayat
jatuh berlutut, bukan memohon pada para perampok itu, tapi dilihatnya wajah si
pemimpin dalam pikiran. Darto! Dia dan istrinya
adalah orang bodoh, lama dalam kebodohan dan lama dalam kemiskinan, segala
kebimbangan dalam mengambil keputusan tetaplah keputusan dari dua orang bodoh.
Air mata bergulir dari pipinya, dia paham benar, itu suara si Nurdin. Dia masih
ingat bagaimana hari itu lagi Darto menjambanginya, tanpa Nurdin. Lagi masih
dia ingat bagaimana Darto menyuruhnya lekas Dayat meninggalkan Kueli dengan
motor barunya, menghilang dari Kueli untuk hidup yang lebih baik.
“Endi??!!”
sekarang istrinya yang jadi ancaman, golok pindah ke leher si istri.
Endi
opone? Kunir? Kunyit? Wes dicangking werok!
Menoleh
Dayat pada istrinya, sudah basah air mata dan keringat muka istrinya yang
memang sudah jelek itu. Tapi dia mencintai Titin sebagaimana cinta seorang
lelaki pada perempuan. Titin yang telah memberikan dua anak, yang kini sudah
meninggalkan mereka, pola asuh mereka bisa jadi yang membuat anak-anak mereka
minggat, kemiskinan harta , kemiskinan ilmu. Lengkap sudah siksa dalam
hidupnya, dan kala dunia itu dibuka Darto, kebodohan itu tetap mengakar dalam
nafas dan akal. Apalah yang menahannya di
tanah Kueli selain kebodohan yang menggelayutnya bersama bau busuk
Kueli?!
“Endi??!!”
Nurdin melotot dari balik topeng kainnya.
“Wes..
mbo, mboten onten, Din,” Dayat berbisik.
Din??!
Nurdin terbelalak!
“Endi??!!”
golok memutus urat leher perempuan Dayat, terlanjur sudah, tua bangka ini sudah
tahu siapa dirinya.
Gerimis
rintik-rintik seperti air mata Dayat.
“Wes
ora ono,” begitu Dayat berbisik lagi dalam marah, lalu bibirnya mengucap syahadat,
dirampasnya golok dari tangan perampok, dibacoknya kepala Nurdin, lalu cepat dua bacokan terasa kemudian di
punggungnya.
*
Tikus-tikus
kurang ajar itu tertipu, kunir yang beraroma lezat itu tak seenak bau harumnya,
begitu digigit rasanya pahit. Benar, segigit dua gigit, benar memang rasanya
dari ujung ke ujung tidak ada yang manis atau gurih, semua sudutnya pahit,
rasanya tidak seharum baunya! Kunir-kunir ditinggal berserakan di tepi selokan
tanah becek Kueli, butiran-butiran emasnya berceceran, sebagian
butiran-butirannya terbawa arus selokan ke kampung sebelah.
*
Pagi itu, semua orang menjerit-
jerit di tanah Kueli!
Anak- anak ingusan menjerit senang
menemukan emas berceceran di tepi selokan, ibu – ibu mereka segera mencari
kebenaran ucapan anak-anak bodohnya, lalu mereka ikut menjerit kegirangan! Apa
yang mereka lihat memang benar dengan apa yang anak-anak ingusan mereka ucap.
Semua berebutan masih dengan tubuh hanya berbalut handuk lusuh, atau dengan
kulit kering hitam yang hanya berbalut kutang
dan handuk rombeng di bawah pusar. “Iki gon aku!Gebleg koe?!” saling dorong
satu sama yang lain.
Jeritan
lain juga terdengar , dari rumah Dayat, warga menemukan pintu rumah Dayat
terbuka begitu saja dengan pemandangan mengerikan dari dalamnya, tiga mayat
terbelalak di dalamnya, darah mengecer berantakan.
Dari
kampung sebelah jeritan juga terdengar, perempuan-perempuan sibuk menyaring air
yang keluar dari pancuran membawa butiran emas, entah dari mana datangnya!
Kegirangan mereka dibuatnya!”Emas!Emas!” mereka menjerit-jerit seperti orang
kesurupan.
Dayat
berdiri di tengah Kueli, warganya semua sibuk
di bawah matahari pagi yang
kuning hangat, tak lama Totok , putra sulungnya sudah datang bersama sebuah
mobil pickup bertuliskan POLISI.