Saturday, April 27, 2013

KUNYIT EMAS, REPUBLIKA September 2012



            Geger! Si tukang becak -Pak Dayat, si Hidayat kaya mendadak. Becaknya diberikan cuma-cuma pada Naryo, pengangguran yang sudah tua masih juga membujang. Tak ada becak parkir lagi di gubuknya, kali ini sebuah motor bagus berkilau mentereng di tanah kumuh. Dalam semalam dia kaya mendadak!
            Orang-orang kampung sesak berkumpul di rumah berbau jamur  milik Pak Dayat . Selain Dayat , adalah juga istrinya tinggal di gubuk itu, tubuhnya gemuk dengan baju lusuh yang sobek di sana-sini. Semua ingin tahu apa yang terjadi, tapi baik Pak Dayat dan istrinya hanya tersenyum-senyum, sambil sesekali bertatapan mesra dan berbisik mengucapkan syukur alhamdulillah. Dari jauh tampak Pak RT datang tergesa bersama orang-orang yang sengaja menjemputnya, jalan sempit menuju rumah Pak Dayat yang hanya dari tanah  becek -membuat Pak RT sesekali berjingkat dalam tergesanya.
            “Pamit..pamit,” Pak RT mencoba menembus kerumunan di rumah si Dayat itu.
Ah, yang ditunggu-tunggu sudah datang, Dayat langsung berdiri, dibersihkannya tikar bakal duduk pemimpinnya.Singkong bakal sarapan pagi masih mengepul hangat.
            “Assalamualaikum!” dilepasnya selop , lagi dia jalan berjingkat menuju tikar.
            Si Dayat langsung menyalaminya, menjawab salam, dan mempersilahkan duduk tamunya, warga makin penuh sesak di pintu gubuk, suasana jadi gelap, semua lubang ditutupi tubuh warga yang sesak pada jendela, sesak pada pintu, dan dinding bilik si Dayat. Tergugup si istri datang membawakan air putih,” Sarapan, Pak RT.” Darto manggut – manggut, memandangi si singkong rebus.  Lalu mereka bertiga berbicara. Tidak ada yang bisa didengar warga barang sedikit, tiga orang itu lebih mirip sedang berbisik-bisik, seperti tengah menyusun rencana perang.
Wajah Pak RT mengernyit, wajah para warga yang sesak memenuhi gubuk si Dayat , juga ikut mengernyit, kerut-kerutan muncul di dahi semua orang. Si istri yang gemuk bersusah payah untuk bangkit , lalu berlari kecil , tergesa lagi menuju lemari pakaian dari kain, dan mengambil segenggam kunir- kunyit dari dalam toples, ada tiga atau empat di telapaknya.
            Pak RT menggerakkan tubuhnya menyambut ketergesaan wanita gemuk itu. Diraihnya sebatang kunyit, dia lihatnya lekat-lekat, diangkatnya sepotong kunyit itu agar diterangi cahaya. Ah, hanya sepotong kunyit. Tapi, lantas si Dayat berbicara lagi dengan suara pelannya. Pak RT menarik tubuhnya seolah menolak pernyataan si Dayat, si tukang becak.Tapi Pak Dayat mengangguk, dan terus meyakinkan Pak RT, lagi lelaki yang disegani itu mengernyit, juga kemudian warga yang berkumpul sesak ikut mengernyit. Pak RT memanggil si Nurdin , kepala bagian Siskamling. Sambil membungkukkan badan si gagah itu menghampiri Pak Darto, lalu dianggukan kepalanya setelah dia dibisiki Pak Darto.
            “Pamit-pamit, “ ujarnya pada warga yang berkumpul menutupi pintu dengan tubuhnya.
Kreet, klek. Pintu rumah reyot Pak Dayat ditutup, lalu semua jendela reyotnya juga. Tak lama nampak lampu gubuk dinyalakan.
            Hampir satu setengah jam kemudian, Pak RT keluar dari dalam rumah dengan tubuh penuh keringat, bersama si Nurdin, kepala bagian Siskamling RT dua. Seperti para wartawan berita ,warga kampung yang kumuh itu bertanya – tanya tanpa koma pada Pak RT. “Ono opo toh Pak?” warga terus mendesak, “ pripun toh , Pak?!”. Pak Darto hanya diam membungkukkan badan untuk meminta permisi agar diberi jalan untuk pulang,  Nurdin membuntutinya dari belakang. Pintu rumah si Dayat dikunci lagi dari dalam. Anak-anak ingusan sibuk mengerubuni motor bagus Pak Dayat, mengeluarkan suara-suara seru, “berruumm..beruumm, “ muka ingusan mereka serius berpura-pura mengendarai si motor bagus, yang lainnya mulai merengek minta gantian naik motor bagus hitam itu.                                                       -
            Jadi begitu ceritanya. Semalam, Pak Dayat si tua renta itu masih pantang menyerah menunggu rejeki datang, padahal waktu sudah hampir pukul dua puluh tiga. Tapi yang diselipkan pada topi di kepala baru dua lembar  uang dua puluh ribuan, sedang beras di rumahnya sudah benar-benar habis -cerita istrinya. Lalu seorang nenek tua berjalan ke arahnya dengan banyak bawaan, katanya dia baru mengunjungi putranya di Ungaran, Semarang atas, lalu kendaraanya mogok di tengah jalan, dia terpaksa menumpang angkutan umum, dan minta diantar becak menuju rumahnya daerah Borgota. Setelah bersusah payah, sampailah mereka di ujung gang, Pak Dayat tidak sanggup kalau harus mengantar masuk gang yang menanjak tajam. si Nenek tua mengerti, tapi, “Oala mbah!” dia kebingungan, tidak ada dompetnya. Mereka berdua kebingungan, diajaknya si Dayat ikut ke rumah untuk mengambil uangnya, tapi Dayat menolak, ‘memang belum rejeki,’ begitu pikirnya. Nenek tua itu menyesal, disodorkannya sekaleng kaleng biskuit -oleh-oleh anaknya dari Ungaran dan segenggam kunir-kunyit. Wajah Pak Dayat merekah,  sekaleng biskuit bisa untuk mereka makan di rumah, sedang kunyit untuk apa, tapi tak mengapalah. Setelah berterimakasih, dan bermaaf-maafan, nenek tua dan Pak Dayat lantas berpisah.
Sehabis sholat subuh, istri si Dayat mengupasi dua potong kunir bakal memasak. Dan emaslah yang ada di bawah kulit kunyit, bukan daging kunir-kunyit. Dan waktu mereka bingung akan kebenaran kilau kuning di bawah kulit si kunyit, motor bagus yang mereka beli dengan kunyit-kunir itu membenarkannya.
Perintah Darto jadi pikiran Dayat dan istrinya. Tapi mereka yakin, bahwasanya pemimpin mereka selama ini, adalah pemimpin yang  selalu berpikir dan menjalankan segalanya dengan baik, demi kesejahteraan warganya, ibarat iman : diyakini dalam hati, diucapkan dengan benar , lantas diamalkan dalam laku, begitulah polah Darto hidup dimata Dayat dan warga Kueli. Lantaran itu juga, belum ada yang sanggup memilih pengganti Darto untuk tahun ketiga masa kepemimpinannya. Dayat menghela nafas panjang dalam lamunnya, mereka harus meninggalkan kampung ini, hidup dengan berjualan dari modal emas yang ada. Hidup meninggalkan kebobrokan di tanah Kueli.
“Pripun, Pak?” istrinya mendekat.
“ Panjenengan percoyo kagem Darto toh ?” dipandanginya si istri tanpa keraguan.
Si istri mengangguk, meski pikirannya bimbang.
“ Yo wes, “ Dayat bangkit dari duduknya, dipandanginya si langit-langit rumah yang bobrok, “ sesok kita pindahan.”
Istrinya terdiam, sebab Darto menyuruh mereka pindah hari ini juga, sebelum malam.
*
Apalah yang buat si Dayat belum minggat dari Kueli ?! Urusan bawa barangkah? Barang apa yang mau mereka bawa, semua barangnya sudah bau busuk dan berjamur. Cukup bawa badan , sisanya tinggal diurus si kunyit emas itu! Resah Darto dibuatnya, nyawa Dayat jadi pikirannya, seharusnya dia mengurus segalanya sendiri, tapi sekarang Nurdin juga sudah tahu perkara kunir itu! Darto curiga, belakangan Nurdin tidak kelihatan, istri dan anaknya cuma bilang , “Ndak ngerti, tindak endi, wes rong dino ra wangsul-wangsul. ”
Rintik-rintik gerimis turun. Selesai isya , Darto panjatkan doa , pikirannya penuh dengan rasa sesal, segala usaha sudah dibuatnya, bila si Dayat belum juga minggat, bisa jadi memang sudah takdirnya apabila ada hal buruk menimpanya malam ini. Bu Letik iba memandangi isak suaminya dalam doa, dia ikut duduk di belakang sajadah si suami, ikut juga dipanjatkan doa. “Aku ya ora dipercaya karo wargaku dewe…” Darto menundukan kepalanya. Bu Letik tersenyum, “ Sing penting kita sampun berusaha Pak, sisane  dipasrahke karo gusti Alloh. Ben, Dayat milih jalane dewe…”
*
Kekurangajaran tikus bawa petaka. Mereka berbaris-baris dengan cekatan lewat lubang bilik rumah Dayat, ditembusnya pawon  , ditengoknya rumah bau busuk itu. Dayat dan istrinya sudah tidur dalam kelegaan, besok akan jadi hari yang melelahkan, malam ini mereka harus istrirahat lebih awal, begitu pikirannya. Tikus-tikus kebingungan mata mereka tertarik melihat kunir-kunir tertata rapih dalam toples di lemari, harumnya bisa sampai di moncong mereka. Lincah mereka sampai di atas lemari doyong, satu gerakan , toples jatuh pecah berantakan. Suaranya nyaring buat Dayat terjaga. Matanya terbelalak, tikus-tikus sudah merampok kunyit-kunirnya. “Masyallah!” dia bangkit, segera dicobanya menahan tikus-tikus tidak kabur dengan kunyitnya. “Bu!Bu!  Tulung Bu, tulung, wungu !!” istrinya masih lelap dalam dengkuran. Dayat terengah-engah dibuat berkejar-kejaran dengan tikus, usianya bukan tandingan dengan para pengerat. Tiba-tiba pintu rumah terbuka, tamu mana yang bertandang di hampir dini hari tanpa sopan dan santun?
Sebilah golok dihunuskan ke arah leher keriput Dayat. “Atas nama La ilaha illallah,” begitu Nurdin bicara, untuk yang agung- layaknya Khidir dia berpolah, “ endi kunir’e?”
Dayat gelagapan, dua orang lagi dengan wajah yang sama ditutup kain hitam menggugah istri Dayat, begitu perempuan itu menjerit, langsung ditutupnya mulut dengan kain. Perempuan itu menggeleng ketakutan.
Dayat jatuh berlutut, bukan memohon pada para perampok itu, tapi dilihatnya wajah si pemimpin dalam pikiran. Darto!  Dia dan istrinya adalah orang bodoh, lama dalam kebodohan dan lama dalam kemiskinan, segala kebimbangan dalam mengambil keputusan tetaplah keputusan dari dua orang bodoh. Air mata bergulir dari pipinya, dia paham benar, itu suara si Nurdin. Dia masih ingat bagaimana hari itu lagi Darto menjambanginya, tanpa Nurdin. Lagi masih dia ingat bagaimana Darto menyuruhnya lekas Dayat meninggalkan Kueli dengan motor barunya, menghilang dari Kueli untuk hidup yang lebih baik.
“Endi??!!” sekarang istrinya yang jadi ancaman, golok pindah ke leher si istri.
Endi opone? Kunir? Kunyit? Wes dicangking werok!
Menoleh Dayat pada istrinya, sudah basah air mata dan keringat muka istrinya yang memang sudah jelek itu. Tapi dia mencintai Titin sebagaimana cinta seorang lelaki pada perempuan. Titin yang telah memberikan dua anak, yang kini sudah meninggalkan mereka, pola asuh mereka bisa jadi yang membuat anak-anak mereka minggat, kemiskinan harta , kemiskinan ilmu. Lengkap sudah siksa dalam hidupnya, dan kala dunia itu dibuka Darto, kebodohan itu tetap mengakar dalam nafas dan akal. Apalah yang menahannya di  tanah Kueli selain kebodohan yang menggelayutnya bersama bau busuk Kueli?!
“Endi??!!” Nurdin melotot dari balik topeng kainnya.
“Wes.. mbo, mboten onten, Din,” Dayat berbisik.
Din??! Nurdin terbelalak!
“Endi??!!” golok memutus urat leher perempuan Dayat, terlanjur sudah, tua bangka ini sudah tahu siapa dirinya.
Gerimis rintik-rintik seperti air mata Dayat.
“Wes ora ono,” begitu Dayat berbisik lagi dalam marah, lalu bibirnya mengucap syahadat, dirampasnya golok dari tangan perampok, dibacoknya kepala Nurdin, lalu  cepat dua bacokan terasa kemudian di punggungnya.
*
Tikus-tikus kurang ajar itu tertipu, kunir yang beraroma lezat itu tak seenak bau harumnya, begitu digigit rasanya pahit. Benar, segigit dua gigit, benar memang rasanya dari ujung ke ujung tidak ada yang manis atau gurih, semua sudutnya pahit, rasanya tidak seharum baunya! Kunir-kunir ditinggal berserakan di tepi selokan tanah becek Kueli, butiran-butiran emasnya berceceran, sebagian butiran-butirannya terbawa arus selokan ke kampung sebelah.
*
            Pagi itu, semua orang menjerit- jerit di tanah Kueli!
            Anak- anak ingusan menjerit senang menemukan emas berceceran di tepi selokan, ibu – ibu mereka segera mencari kebenaran ucapan anak-anak bodohnya, lalu mereka ikut menjerit kegirangan! Apa yang mereka lihat memang benar dengan apa yang anak-anak ingusan mereka ucap. Semua berebutan masih dengan tubuh hanya berbalut handuk lusuh, atau dengan kulit kering hitam yang hanya berbalut kutang dan handuk rombeng di bawah pusar. “Iki gon aku!Gebleg koe?!” saling dorong satu sama yang lain.
Jeritan lain juga terdengar , dari rumah Dayat, warga menemukan pintu rumah Dayat terbuka begitu saja dengan pemandangan mengerikan dari dalamnya, tiga mayat terbelalak di dalamnya, darah mengecer berantakan.
Dari kampung sebelah jeritan juga terdengar, perempuan-perempuan sibuk menyaring air yang keluar dari pancuran membawa butiran emas, entah dari mana datangnya! Kegirangan mereka dibuatnya!”Emas!Emas!” mereka menjerit-jerit seperti orang kesurupan.
Dayat berdiri di tengah Kueli, warganya semua sibuk  di bawah  matahari pagi yang kuning hangat, tak lama Totok , putra sulungnya sudah datang bersama sebuah mobil pickup bertuliskan POLISI.


           


No comments: