Saturday, September 18, 2004

DI ATAS MEJA PERSEGI EMPAT

Seharusnya akang belum pulang jam segini. Tapi kalau bukan akang , siapa yang berjingkat- jingkat didapur disusul terdengar seperti suara seseorang membuka lemari makanan? Laras mencoba bangkit dari tidurnya sambil menahan berat dari perutnya yang tengah buncit. Sekilas matanya melirik pada jam dinding yang menggantung ditembok kamarnya, “ Baru jam sebelas , masak akang sudah pulang?”
Dengan rasa ingin tahu Laras berjalan hampir tanpa suara menuju dapur. Rumah kecil yang dia kontrak bersama Kang Wawan seketika terasa begitu luas , kosong dan dingin.Perempuan itu menggigil sedikit, menahan senyap yang merayapi kaki telanjang diatas ubin putih tempatnya melangkah menuju suara aneh itu. Sambil menyentuh ujung perutnya yang tengah mengandung janin berusia empat bulan Laras memiringkan kepalanya, melihat akang sedang berjingkat-jingkat membuka tutup rice cooker didekat lemari makan, “Akang ?” Seperti terkejut lelaki itu lalu membalikan tubuhnya, lalu tersenyum ,”Masak apa nih neng geulis?”
“Akang gak kerja?” buru-buru Laras menghampiri suaminya yang terlihat hanya mengenakan kaos singlet putih dengan celana panjang berwarna hitam, tanpa alas kaki.
Lelaki berwajah bersih itu menggeleng sambil masih tersenyum, “ Sekali – kali libur gak papa dong, akang lapar!”
“Ya kalau mau libur gak usah berangkat dari tadi pagi dong,” gumam Laras mencoba mengusir rasa gelisah yang tiba-tiba muncul begitu saja disusul tendangan halus dari perutnya yang seperti detak kejutan dirongga hati.

“Ini lo kang, ada ikan kuning sama sambal terasi,” Laras membuka pintu lemari makan , lalu mengeluarkan se piring lauk ikan kuning dan satu buah piring kecil berisi sambal terasi. Kemudian mereka duduk berhadapan diatas meja makan persegi diruang makan yang satu atap dengan dapur . Mereka selalu makan bersama diatas meja persegi berukuran 80 x 80 cm.itu, duduk berhadap-hadapan sambil tersenyum.Kala menikmati makan siang mereka duduk tepat dibawah langit-langit dapur yang tanpa warna, sehingga matahari telihat begitu saja memancar menerangi wajah – wajah mereka. Sedang kala malam, bulan bertengger mengintip dari eternit transparant tepat diatas kepala mereka, membawa cahaya pada hidangan sederhana yang tidak berubah bentuknya dengan menu tadi siang.
“Kenapa akang gak berangkat kerja hari ini?” perempuan itu kembali bertanya sambil mulai menumbuk-numbuk lembut bahu suaminya.
“Ah, “ Kang Wawan berusaha menelan makanannya, “ Minta istirahat saja hari ini , menemani istri tercinta.”
Laras terkejut, pipinya langsung bersemu merah, sambil mengkulum bibirnya yang tiba-tiba tersenyum ,Laras mencoba membuat raut wajahnya seperti marah . Tapi kemudian lebih mirip dengan wajah para remaja yang bersemu saat digoda sang pacar, “Ah , setiap hari juga nemani.Ya , gak pagi, sore dan malam. “
Lelaki itu tertawa, “Iya, ya.”
“Kang, “ tiba – tiba wajah Laras kembali serius, “ Kalau bisa mah cari kerja yang lain sajalah. Kerja dengan Bang Tibron mah agak kurang bagus kelihatannya.”
Wawan terdiam, dipandanginya wajah Laras dalam – dalam. Apakah istrinya paham akan perasaaan gelisahnya?Bahwa dia merasa sangat tersiksa dengan pekerjaan ini? Bahwa sejak pertama dia akhirnya harus bekerja dengan Bang Tibron , perasaannya begitu gundah tak menentu, dirinya seperti semakin masuk pada ruangan gelap tanpa suara, tidak ada kejelasaan selain rasa takut yang terlalu.Tanpa sadar Wawan membelai kepala istrinya, mata mereka bersimborok.
“Ada apa kang?” tiba-tiba Laras merasakan getaran yang begitu aneh berdesir disekujur tubuhnya.
Suaminya menggeleng sambi tersenyum, “Kenapa kau tiba – tiba mengkhawatirkan pekerjaan akang?”
Seperti tak mampu menjawab Laras menarik dirinya agak menjauh dari Wawan, “Lah, akang kan sudah lihat dengan mata kepala kang sendiri, bagaimana Bang Tibron itu, dia kalau sudah malam suka mabuk-mabukan diujung gang, “
“Suka judi lagi, kayak orang gila!” tambahnya tanpa ragu-ragu.

“Kau benar sayang ,” Wawan meraih tubuh istrinya, mendekapnya sebentar sambil mencium ubun-ubun wanita yang dicintainya itu, nafasnya begitu dalam tertahan diatas kepala Laras, seketika Laras membeku.
“Akang , akang baik-baik saja kan?” Laras menatap bingung suaminya.
“Ya!” tiba-tiba Kang Wawan menjawab dengan tegas sambil memberikan tanda hormat pada Laras.Istrinya kembali terkejut, lalu tersenyum simpul.

“Mau kemana?” Wawan langsung berdiri terkejut dari kursi makan melihat istrinya beranjak pergi meninggalkannya sendiri dimeja makan persegi itu.”Laras !” ulangnya sambil berusaha meraih tubuh istrinya dari balik meja. Kaki meja makan itu lalu terangkat sedikit , gelas minum Wawan terguling begitu saja, lalu jatuh membentur lantai hingga pecah berantakan disusul seperti suara meledak menusuk telinga.
“Kenapa kang?!!” Laras begitu terkejut lalu buru-buru mendekati suaminya, “Ada apa kang?!”
“Kamu mau kemana?” ulang Wawan terengah-engah.
“Laras mau angkat jemuran kang!” tiba-tiba Laras merasa kalau dia harus menangis, kalau dia harus menjerit sekeras mungkin. Ada sesuatu yang masih menggumpal dibatinnya, menyumbat hatinya seperti hendak meledak. “Kenapa jadi begini kang? “ bibir perempuan itu gemetar sambil memandangi pecahan gelas dilantai, lalu tanpa pikir panjang dia langsung jongkok memunguti pecahan gelas itu .
Kang Wawan kemudian ikut jongkok disebelah istrinya. “Neng, “ Wawan kemudian menyentuh punggung tangan Laras. Dia senang memanggil Laras dengan panggilan Neng, dengan begitu seolah –olah dia telah menegaskan pada perempuan itu , bahwa dia selalu cantik kapanpun dan dimanapun.
“Kang!” tiba-tiba Laras berbalik menatap tajam mata suaminya, lalu digenggamnya bahu Wawan kuat – kuat, “ Gelas sekecil ini kenapa suaranya begitu keras dan besar?!”
Wajah mereka seketika memucat. “Ada apa kang?! “ desak Laras sambil terus menatap mata suaminya.”Katakan kang ada apa?!!”
“Hush!” Wawan menepis gelisah Laras, “Kamu terlalu berlebihan!”
“Aku perempuan kang!” elaknya , “Perasaan perempuan tidak bisa dibohongi!”
Wawan menggeleng, sambil tersenyum,“Tidak ada apa-apa, biar akang bantu membersihkan pecahan gelas ini.”
Tapi perempuan itu tetap diam, matanya kosong menatap pecahan gelas dilantai yang sedikit demi sedikit telah diangkat satu persatu oleh Wawan. “Jangan pernah berpikir yang tidak – tidak. Tetaplah tenang kalau memang ada sesuatu yang membuatmu risau istriku.”
“ Neng, “lanjutnya, “ Kalau memang nantinya terjadi sesuatu yang tidak pernah kita harapkan, Neng harus percaya, bahwa itu sudah kehendak Allah. Jalani saja peran yang Allah berikan itu baik-baik. Jangan menentang takdir.”
Kali ini Laras seperti dikejutkan oleh kalimat yang diucapkan Kang Wawan, tanpa sadar dia telah berdiri memandangi suaminya. Mulutnya tidak mampu bersuara, matanya mulai berair sehingga Wawan semakin tidak jelas dimatanya, buram. “Kematian, jodoh dan rejeki itu ditangan Allah. Ingat, tidak ada kematian yang tidak wajar didunia ini. Semua wajar apapun keadaannya, sebab hanya Allah-lah yang berkuasa atas nyawa segala mahluk hidup didunia ini.”
Perempuan itu tak bergeming sama sekali. Suara Kang Wawan seperti bergema ditelinganya, terus menyusup terbentur- bentur dikepalanya, lalu seperti jatuh pada lorong yang panjang menyisakan gema yang terus menerus membuat perih kedua bola matanya,”A-apa maksud akang?”
“Tidak ada, “jawab Wawan singkat, “Akang hanya tidak ingin Neng cengeng , gara-gara terhanyut perasaan. “
Laras menggeleng , itu tidak benar. Perasaan ini berbeda! Apakah karena dia sedang mengandung sehingga rasanya begitu peka dan mudah gelisah ? Benarkah dia terlalu berlebihan hari ini?
Wawan menempelkan tangannya pada perut buncit Laras, lalu tersenyum. “ Kau adalah seorang ibu yang kuat, itu sebabnya Allah mengijinkan kita punya anak,” bisiknya. Laras menundukan kepalanya ,airmata terjatuh diatas perut buncit itu. “Banyak loh orang yang sudah nikah sampai lima tahun tapi belum dikasih anak sama Allah, padahal kata dokter baik suami atau istrinya sehat,” tambah lelaki itu lagi.
“Jaga baik – baik ya anak kita,” Suara wawan tiba – tiba seperti berbisik, disusul suara tangisan panjang dari luar rumah dan ribut – ribut yang begitu bising dan mengejutkan.

“Larasss!!” seorang perempuan berlari sambil menjerit menuju rumahnya , diikuti banyak kerumunan orang berduyun – duyun dibelakangnya. “Larassssss!” ulangnya. Tanpa pikir panjang Laras langsung lari keluar rumah menghampiri Titin , kakak iparnya.
“Aya naon teh?” tanyanya bingung sambil menahan tubuh perempuan yang menghambur begitu saja dipelukannya, “Teh, aya naon?”
Perempuan itu begitu berkeringat, tubuhnya basah dengan bibir gemetar membiru.Kepalanya menggeleng – geleng kencang, disusul jeritan panjang melolong, “Ya, gustiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii!!!”
“Kunaonnn??” ulang Laras tak mengerti,”Astagfirullah.Aya naonn??”
Titin menggeleng kencang sambil menangis, “ Wawan!Wawan!”
“Wawan?” Laras mengenyitkan dahinya , lalu dia langsung berbalik menatap orang yang berkerumun dibelakangnya, “Kenapa??” Tapi semua diam.”Aya naonnn??” tapi semua tetap membisu.

“Digebukan ku massa,” Titin merintih.
Mata Laras langsung mendelik terkejut, “Jangggaaaannnnn!!”
Tanpa menghiraukan pelukan erat kakak iparnya Laras berlari menerobos masuk kerumah, “Akangggg!!” jeritnya, disusul beberapa orang yang berusaha menahannya dan menenangkan perempuan muda itu.”Tenang, masyallah, istighfar!”
“Akang!” panggil Laras, “ Akangggg!!” Perempuan itu memanggil kesal suaminya, “Akang gak mungkin dipukulin masa.Akang tadi lagi makan disini!” tegasnya.
“Masyallah ,Laras!” kali ini Titin baru menyadari bahwa keterkejutan itu lebih memukul istri dari adiknya, “Istighfar, astagfirullahhh.Laras!!”

“Tidak teh, “ Laras berbalik menatap kakak iparnya penuh dengan airmata, “Akang baru makan disini sama Laras. Tadi teh!!
Titin menggeleng, sambil mendekati sosok Laras, lalu dipeluknya perempuan muda itu yang kemudian menangis keras dipelukannya, “ Metromini Bang Tibron nubrukan bocah dihareup. Lantas langsung di amukan ku massa…”
“Ulahhh!!” jerit Laras, “ Astagfirullah. Ulahhh!! “
Titin berusaha memeluk Laras kuat – kuat, yang berusaha melepaskan dirinya dari tubuh Titin.
“Awas! Awas, Laras mau berdiri!!” ujar Laras menepis lengan Titin. Lalu perempuan yang tengah mengandung itu tertatih – tatih menghampiri tong sampah didekat lemari makan, tidak ada pecahan gelas disana, bahkan meja makan persegi itu bersih , tidak ada piring bekas makan tersisa disana.
Lalu dia pingsan begitu saja.

*
“Suami saya meninggal, “ rintihnya, “ Dipukuli massa.” Tiba-tiba Laras seperti merasakan sakit yang mengkerubungi tubuh suaminya. Sakit, menjerit minta tolong, menyebut nama Allah berkali – kali.Matanya nanar mencari-cari jalan selamat,berlari sekencang mungkin, mencoba menyelamatkan diri.
“Ehem..” jawab perempuan didepannya dengan dehaman sambil terus menantap wajah pucat Laras.
“Dia tidak bersalah, dia hanya kenek. Kenek Bang Tibro yang masih buron sampai sekarang!” Laras melanjutkan pilunya tanpa berani menatap lawan bicaranya, dia terus menunduk sambil meremas – remas rok bercorak garis-garis coklat itu.
“Baiklah, “ perempun didepannya itu menyudahi cerita Laras, ”Mulai besok bekerjalah disini.Pekerjaan anda cukup membuat kopi untuk tamu dan seluruh karyawan dikantor ini. Untuk menyapu dan mengepel biar saja Ujang yang melakukannya selama anda tengah hamil.”

“Eh, “ panggil perempuan itu lagi, “ Diujung sana ada rak payung, ambilah sebab diluar terik sekali. Jaga baik – baik anak dijaninmu.”

*






No comments: