Ini sudah keterlaluan, berani – beraninya Adam memukulnya. Jangankan memukul, dulu – dulu bahkan dia tidak pernah berani membentaknya sekalipun, tapi sekarang? Seingat Farah selama ini dia belum pernah mengajukan permintaan apapun pada suaminya itu. Dia telah melakukan segala tugasnya sebagai istri dengan baik, mulai dari mengurus rumah, menghidangkan makanan, menyiapkan pakaian kerja Adam, hingga dia menurut saja saat Adam melarangnya untuk bekerja dikantor dari perusahaan kawan ayahnya . Jadi bukanlah keputusan yang tepat untuk membentak Farah lalu berani memukulnya gara- gara urusan mesin cuci!
“ Tidak bisakah kamu tidak lagi meributkan urusan mesin cuci??” Adam memandang kesal istrinya yang kembali mengungkit masalah niatnya untuk mengkredit mesin cuci sore itu.
“ Tapi mas, “ Farah mengelak , “ Aku tidak pernah minta apa – apa sebelumnya dengan mas!”
Adam menahan nafasnya, itu memang benar, sejak pacaran dulu sampai sekarang mereka menikah hampir satu tahun , istrinya , Farah tidak pernah meminta apapun. Farah memang pengertian, kondisi ekonomi keluarga ini belum stabil, biaya kontrak rumah, dan cicilan hutang untuk acara pernikahan setahun yang lalu harus dipikirkan dan diselesaikan secara baik – baik, semasa berpacaranpun Farah selalu maklum kalau Adam hanya mengajaknya lagi – lagi piknik ke telaga, tempat yang tidak banyak makan ongkos biaya , “ Iya sayang, tapi apakah kebutuhan itu sudah benar – benar mendesak?”
Apa sih beratnya mencuci pakaian hanya dari sepasang suami istri yang belum punya anak? Seharian cuma pakai baju kantor, sampai dirumah lepas kemeja cukup bersalin dengan kaos oblong tipis dan sarung, sedang Farah? Tidak ada acara kekantor, jadi tidak akan mencuci jas atau blazer, sehari – hari pakai daster atau kaos dan celana pendek. Mudahkan? Sekarang sudah banyak detergent yang ampuhnya luar biasa, cukup rendam , kucek – kucek sedikit , selesai, dibilas dan dijemur.Aneh! Kenapa lagi – lagi istrinya meributkan urusan mesin cuci, mesin cuci lagi?!
Tapi bagi Farah ini bukan perkara tenaga, tapi ini urusan harga diri! Harga diri Adam sendiri! Jadi wajar – wajar saja kalau permintaan ini harus diperjuangkan, tokh dia tahu Adam masih punya simpanan uang yang bisa dikatakan cukup untuk membayar kredit uang muka mesin cuci!
“ Uang tabungan??” sambil memelototi istrinya Adam bertanya bingung, petang itu saat kembali ditemukannya sang istri meributkan urusan mesin cuci.
“ Iya, mas, uang tabungan mas kan cukup untuk bayar uang muka,” kilah Farah.
“ Lalu kalau salah satu dari kita ada yang jatuh sakit? Mau bayar dokter atau Rumah Sakit dari mana,” tanya Adam tak habis pikir.
“ Mas, “ Farah langsung memotong kalimat yang akan diucapkan Adam lagi, “ Kalau urusan sakit kan ada ayah, kok repot amat sih??”
Inilah yang mengesalkan bagi Adam. Memang dipikirnya aku tidak mampu bayar dokter kalau misalkan Farah atau dirinya sakit? Meski hanya bekerja sebagai staf design grafis disebuah perusahaan percetakan kecil , bukan berarti dia tidak bisa menyisihkan uang kesehatan sedikit untuk istrinya, tidak perlu minta – minta bantuan mertua! Sudah cukup mertuanya itu melakukan penghinaan padanya dulu, dan itu tidak boleh terulang kembali saat Farah sudah menjadi istrinya. Dia adalah kepala keluarga, keluarga ini adalah miliknya dan Farah, bagi Adam, mertua adalah orang ketiga atau keempat, tidak perlu ikut – ikutkan mengatur perkara intern keluarganya meski dengan alasan ‘kebaikan’ atau apapun namanya itu, “ Aku masih punya harga diri Rah!”
Nah itu dia, harga diri! Justru dibenak Farah sekarang ini dia sedang memperjuangkan harga diri suaminya, tidakkah Adam mengerti bahwa mesin cuci ini berhubungan keras dengan harga dirinya?
“ Mas, dengar dulu, “ potong istrinya.
“ Kalau memang urusannya benar, patut diperjuangkan Rah, “ tolak Adam, “ Tapi ini bukan hal yang bagus untuk kau paksa!”
“ Mas!” balas Farah kecewa , “ Aku selama ini tidak pernah minta apa – apa pada mas, aku ikhlas menerima mas apa adanya mas.”
“ Apa maksudmu ??” kali ini Adam tersinggung, seketika semua beban seperti menyerangnya, hutang dari pinjaman uang pesta pernikahannya kemarin, belum lagi urusan kontrakan rumah, menabung kalau nanti sang istri hamil, mengurus uang untuk bayi, kesehatan, biaya listrik dan air! Apa harus lagi ditambah dengan permintaan aneh – aneh??
“ Mas, mas dengar dulu, “ Farah mencoba menarik kata- katanya.
“ Apa maksudmu bicara begitu, aku tahu aku miskin, aku juga tidak memaksa kau untuk menikah dengan lelaki miskin macam aku!” kali ini semua emosi meluap begitu saja, “ Aku sudah bosan dihina oleh keluarga bapakmu! Sudah ampun aku tahan segala pikiran bejatnya!”
“ Mas!” Farah meninggikan suaranya, “ Dengar dulu!”
Hilang sudah nafsu Adam untuk menikmati teh hangat buatan istrinya, semua palsu! “ Dengar apa? Apa yang harus kudengarkan untuk memuaskan nafsumu??”
Seperti ditampar rasanya wajah Farah dikatakan sedemikian rupa, nafsu!! Nafsu yang mana, dia rela tinggal dirumah kontrakan rusak seperti ini bersama Adam, dia rela mengurungkan niatnya untuk tidak bekerja meski gelar sarjana sudah ditangan demi menjaga nama baik Adam didepan ayahnya, dia rela mengurungkan segala keinginannya untuk membeli perabot rumah tangga lebih dari ini! Dia rela hidup sederhana bersama Adam, berani betul Adam mengatainya demikian, nafsu?!
“ Nafsu mana mas!” kali ini Farah berbalik memelototi Adam, “ Nafsu apa mas! Jawab mas!” Ini benar – benar tidak adil, Adam buta akan dirinya, Adam tidak berperasaan! “ Mas pikir pakai kepala mas sendiri, apa ini nafsu? Kalau aku memang orang yang penuh nafsu aku tidak memilih tinggal disini mas!”
“ Oh begitu?” Adam mengangguk mengerti, “ Aku tidak pernah memaksamu tinggal disini, aku juga tidak butuh kasihan dari kamu atau bapakmu, dan aku tidak mau istriku kurang ajar pada suaminya!”
Plak!! Satu tamparan panas terasa di pipi Farah!
Astaga Tuhan, Adam memukulnya!
“ Kau memukulku, “ rintih Farah sambil menahan sakit pada pipinya.
“ Kau!” tegas Adam sambil menunjuk istrinya, “ Kau menampar hatiku lebih dari ini!”
Tanpa banyak bicara lagi Farah berlari menuju kamar, dikuncinya pintu kayu kamar itu kuat – kuat,. Adam boleh marah, asal tidak memukulnya! Terlalu! Lalu dengan gegas perempuan berwajah molek itu mengemasi beberapa helai baju dari lemari , mendesaknya masuk kedalam koper, kemudian meninggalkan rumah dari jendela kamarnya.
Masih jelas di ingatan Adam tentang bagaimana untuk pertamakalinya Pak Sulchan mengernyitkan dahinya penuh curiga, saat dia tahu kalau kini putrinya berpacaran dengan lelaki biasa. Bagaimana tidak mengernyitkan dahi, saat dilihatnya sang tuan putri tercinta turun dari becak bersama sang pacar. Becak? Memang di seantero Jakarta ini tidak ada taksi lewat didepan hidungnya? Dan kalau separah – parahnya mereka berpacaran menghabiskan waktu di hutan, apa tidak bisa dihubunginya taksi via telephone? Makin kecewa pak Sulchan begitu dia tahu anak muda berupa tampan ini tidak juga memiliki sebatang telephone genggam.
“ Ayah rasa main – mainmu sudah cukup, besok sore kita ke rumah om Rahman,” ujar bapaknya di depan Adam yang masih duduk malu – malu di ruang tamu keluarga Farah yang mewah.
“ Main – main bagaimana ayah? “ Farah tidak mengerti, seingatnya baru kali ini dia berpacaran, keluar sendiri saja baru kali ini, biasanya bersama si Dino, supir keluarga mereka. Dan lagi mereka tidak pulang larut malam, ini masih jam enam kurang empat puluh menit!
“ Main – main lelakinya, besok mau ayah kenalkan kamu dengan David, putra pak Rahman,” jawab Pak Sulchan ringan.
“ Ayah!” malu bukan main Farah dengan Adam mendengar ucapan bapaknya , “ Apa – apaan sih ayah!”
Pak Sulchan tidak menjawab, tapi dia merasa segalanya sudah jelas, putrinya bukan untuk dipermainkan, apalagi sekarang Farah sudah berusia 24 tahun, dia harus menjaga anaknya dengan seksama dan kewaspadaan penuh.
“ Ayah jangan suka membanding – bandingkan kesetiaan dengan harta!” Farah membalas tatapan remeh ayahnya.
“ Setia dan harta memang tidak ada hubungannya, mungkin, “ balas Pak Sulchan sambil menaikan alisnya tanda dia tidak mengerti.
“ Memang sekarang Adam masih kuliah sambil bekerja, tapi entah besok selulusnya nanti , “ Farah tidak berani menatap Adam yang sejak tadi hanya diam mendengar pembicaraan bapak dan anak itu.
“ Bagus!” Pak Sulchan menahan tawa, “ Kalau begitu tunggu sampai kau lulus sekolah, baru pacari anakku.”
Tapi nyatanya, Adam putus kuliah ditengah jalan. Tapi rasa cinta Farah tidak berkurang, dengan sabar dan penuh kasih sayang Farah membantu Adam mencari pekerjaan dari sekedar part time menjadi full time. Rasa kasih sayang Farah bertambah setelah semakin diketahuinya bahwa Adam adalah tulang punggung keluarga semenjak ibunya menjanda, keluarga yang terdiri dari ibu dan dua adiknya yang masih sekolah itu otomatis menjadi tanggungjawab Adam. Perasaan kagum akan pribadi dan ketenangan Adam semakin menambah keyakinan Farah untuk menjadikan Adam sebagai sang suami dengan pribadi yang mencintai keluarga.Pernikahanpun digelar secara sederhana, bukan pernikahan yang mengecewakan dimata Sulchan tapi tidak juga terlalu istimewa dimatanya. Meski nampaknya hubungan menantu mertua itu tidak terlalu bagus.
Ada perasaan menyesal dihati Adam setelah dia memukul istrinya. Farah yang selalu tersenyum dengan keadaan yang ada, Farah yang setia mensupportnya dalam setiap keadaan yang mengecewakan bahkan saat kepergian ibu karena diabetesnya dulu, yang begitu memukul hati Adam. Farah benar, dia tidak pernah rewel akan ini dan itu, menikah dengan sederhana diterimanya meski dia berasal dari keluarga dokter yang kaya raya, menempati rumah kontrakan murah inipun diterimanya dengan ikhlas, meski dia terbiasa tinggal dirumah mewah dengan pelayan yang siap mengerjakan semua pekerjaan rumah! Berapa harga mesin cuci itu? Berapa biaya uang muka kredit awalnya ? Apa benar uang ditabungannya itu cukup? Tapi lalu bagaimana dia harus membayar kontrakan yang telah dimintanya dibayar perbulan saja sebab terlalu besar nilai nominalnya bila dibayar langsung pertahun diawal pertama kali mengontrak, bagaimana membayar rekening listrik dan air, biaya kesehatan, belum lagi menabung kalau – kalau istrinya mengandung, uang saku untuk kedua adiknya yang kini sudah cukup mandiri ?? “Ya Tuhan , “ erangnya sambil menghempaskan tubuhnya dikursi rotan ruang tamu mungil mereka, matanya seketika menatap sebuah photo besar hasil jepretan saat mereka menikah. Senyum dibibir Farah menambah keindahaan pesona dari rupa wajahnya yang cantik, matanya menyorotkan kecerdasan. Tapi Adam-pun disana tidak kalah ganteng rupanya, senyumnya selalu memikat dengan sorotan mata yang tidak kalah cerdas serta hangat.Ah, serasi! Itu kata- kata yang tepat untuk pasangan pengantin baru didalam pigura itu. “ Tidak , aku tidak pernah bermaksud untuk marah padamu, apalagi memukulmu, “ Adam memejamkan matanya pekat – pekat.
Pintu kamar itu tidak dikunci, padahal tadi Adam mendengar kalau Farah mengunci kamar tidur mereka setelah membantingnya dengan keras. Dan ketika pintu kamar itu sudah terbentang, yang ada hanyalah jendela yang terbuka begitu saja memberikan lukisan indah matahari yang mulai tenggelam dengan warna kekuningan dan dahan – dahan pohon yang seperti lengan – lengan berpelukan. Wajahnya yang basah air mata terasa sejuk saat angin menghembus membelai pipinya.
Kabar itu sangat menggemparkan dada Adam. Tiba – tiba mertuanya menelephone dan mengatakan kalau dia dan putri bungsunya yang selama ini belajar di Australia akan mampir untuk berkunjung kerumah untuk menengok Farah. Kepalanya tiba – tiba sakit luar biasa. Dimana Farah? Kenapa belum pulang juga? Dia sudah mencoba menghubungi Bi Narsih pembantu dirumah keluarga Sulchan, tapi kabarnya Farah tidak pernah berkunjung lagi kerumah bapaknya selama ini. Beberapa kawan selama Farah kuliahpun sudah dihubunginya, tapi semua tidak tahu dimana Farah berada! Aduh Tuhan, harus bagaimana lagi dia? Sudah dua hari Farah belum pulang, sedang dua hari lagi tepat dihari Minggu mertuanya akan berkunjung!
Jam 23.00 telephone dirumah itu berdering nyaring, suara telephone itu seperti terbentur – bentur bertubrukan pada dinding sempit rumah mungil mereka. Malam itu Adam telah tertidur dikursi , hampir dua hari ini dia tidak bisa tidur, kepalanya penuh dengan kerinduan pada Farah, perasaan bersalah, lelah fisik dan mental. Segala- galanya memuncak dihari kepergian Farah yang kedua. Dengan terkejut hampir melompat dari kursinya Adam terbangun, matanya langsung menatap jam dinding yang tergantung disamping photo pernikahan mereka.
“ Astaga, jam sebelas malam!” pekiknya, lalu terhuyung- huyung dia mendekati lemari kaca tak jauh dari tempatnya duduk diruang tamu, telephone itu terus menjerit seperti kesakitan.
“ Halo, Farah??” pasti Farah! Jam segini menelephone! Farah!
“ Iya mas, “ ujar suara diujung sana, dan memang suara Farah.
“ Kamu dimana, pulanglah, maafkan mas, mas memang salah!” rintih Adam menahan tangis yang tidak lagi sanggup dibendung saat Farah menanyakan apakah dia sudah makan malam.
Adam menggeleng, makan? Dia tidak merasa lapar sama sekali! “ Belum.”
“ Kenapa??” tanya Farah khawatir, bodoh sekali lelaki ini! Menikah baru setahun sudah lupa bagaimana cara makan! Dulu waktu masih bujang rakusnya bukan main kalau sudah urusan kewarung makan!
“ Pulanglah, maafkan mas!” tangis Adam terdengar jelas ditelephone.
“ Tidak bisa sekarang mas,” bisik Farah sambil menahan senyumnya, dia tahu kalau Adam tidak pernah berhenti mencintainya, dia juga tahu kalau setiap orang pernah khilaf dengan emosinya.
“ Kenapa??” tanya Adam kecewa, digenggamnya telephone itu erat – erat sambil dia berlutut didepan lemari kaca, “ Maafkan mas, pulanglah! Biar mas jemput, kamu dimana sekarang??”
“ Tidak bisa mas, tidak sekarang, “ jawab Farah sambil sesekali melirik keluar jendela kaca wartel sambil memberikan isyarat pendek pada seorang lelaki yang berdiri menunggunya di luar, “ Tunggu saja aku nanti akan pulang.”
“ Kau belum memaafkan aku ?” isak Adam.
Sedikit gemetar tangan Farah menahan gagang telephone itu, “ Tunggu saja mas aku akan pulang, tidak lama lagi. Aku harus pergi mas, ini interlokal.”
“ Apa,” terkejut Adam mendengar jawaban istrinya, “ Kamu dimana Farah??”
“ Aku akan pulang nanti, “ jawab Farah , matanya menatap lurus keluar jendela kaca wartel ditengah terminal itu, sebuah bus besar pergi begitu saja, disusul bis berikut yang mengetem pada garis halaman parkir, lalu lelaki muda di depan pintu itu melambaikan tangannya pada Farah, “ Aku harus pergi mas!”
“ Tunggu, “ Adam menahan istrinya, “ Katakan kau masih mencintaiku…”
Bibir Farah membeku, apakah cinta harus diucapkan berkali – kali. Tidakkah kau lihat aku, aku begitu mencintaimu tanpa perlu merangkai kata ? “ Aku mencintaimu, jadi jangan sakiti aku.”
Dengan haru Adam mengangguk ,menahan isaknya ditelephone “ Maafkan mas.”
*
Akhirnya mobil mewah itu sampai juga. Warna hitamnya benar – benar hitam yang berkelas, meski dia sendiri tidak bisa membedakan warna hitam dari mobil berkelas dan hitam dari mobil tak berkelas, sebab dia belum pernah memiliki mobil. Kendaraan satu – satunya hanya motor yang setiap hari dipakainya pulang pergi kekantor. Masih sama saja wajah mertuanya itu sejak dulu sampai sekarang, tidak sedap dipandang, congkak!Masih berbadan besar dengan kemeja – kemeja mahal dan kacamata reben pelindung dari cahaya matahari yang jatuh begitu terang pagi itu. Butuh kerja keras untuk membenarkan kerusakan – kerusakan pada atap rumah kecil mereka, membersihkan kamar mandi dan dinding, juga menata taman mungil didepan teras. Dia melakukan ini semua buka semata – mata untuk menyambut bapak mertuanya, tapi juga menunggu kepulangan Farah yang entah kapan!
“ Wah, segar sekali udara di sini, “ ujar pak Sulchan sambil menghirup udara dalam – dalam, “ Ini Aida, adik Farah yang sekolah di Australia!”
Dengan rasa bangga pak Sulchan memperkenalkan putri bungsunya yang sejak tadi sudah berdiri di depan pintu rumah tidak sabar masuk kerumah kakak iparnya itu. “ Ha ha ha, sudah tiga tahun Aida tidak bertemu dengan kakaknya, “ tawanya terdengar begitu besar dan tidak berubah , “ Ayo perkenalkan dirimu dulu.” Tapi gadis dengan rambut dicat pirang itu langsung mengeloyor masuk kedalam rumah sebelum dipersilahkan , tanpa membuka sepatunya dia memanggil – manggil nama kakaknya. Tapi tidak ada jawaban.
“ Kok sepi mas, kak Farah dimana?” tanya Aida heran.
“ Oh, iya, “ jawab Adam ringkuh, “ Kakakmu pergi kerumah kawannya, mendadak!”
Pak Sulchan menggeleng- gelengkan kepalanya, “ Dasar si keras kepala, bapaknya datang dari jauh, masih juga pakai acara pergi kerumah kawan. Urusan apa sampai harus tidak perduli akan kedatangan ayahnya?”
Adam mengangkat bahu seolah – olah membenarkan perkataan mertuanya, bahwa si Farah itu anak keras kepala, “ Katanya membantu temannya itu mau melahirkan.”
“ Hah!” Pak Sulchan dan Aida terkejut sama – sama.
“ Memang kak Farah kemarin kuliah ambil fak apa sih ,Yah?” Aida melepaskan tubuhnya dikursi tamu, sambil memandangi photo mesra kakaknya.
“ Ekonomi, “ jawab ayahnya singkat sambil memandang bingung Aida yang juga memandangi ayahnya dengan bingung.
Satu jam lepas menemani perbincangan mereka. Dua cangkir teh hangat harum semerbak memenuhi ruangan. “ Rumah kakak meski kecil tapi indah, “ ujar Aida sambil tersenyum mengagumi rumah mungil Adam.
“ Kalau bisa beli rumah agak besar dan dekat kota sedikit, “ sergah bapaknya.
“ Ah , enak disini Yah, tenang dan damai, tidak bising!” timpal Aida.
“ Itu juga yang pacarmu bilangkan ? “ pak Sulchan menatap putrinya, “ Pacarmu itu waktu ayah tanya kalau menikah mau tinggal dimana, malah jawab didesa!”
Aida tertawa kecil, sedang Adam mengernyitkan dahinya, “ Dia-kan sarjana pertanian Yah, calon pegawai negri! Didinaskan dimana saja harus mau!”
Pak Sulchan mengangguk – nganggukan kepalanya, “ Kalau sudah dinas dari pemerintah ya mau apa! Asal ada mobil dan tinggal di rumah yang baik.”
Putri bungsunya melirik nakal, “ Habis tahun ini kami menikah ya , Yah?”
“ Hah ?” pak Sulchan hampir tersedak saat hendak menyeruput tehnya.
“ Memang kenapa, “ tanya Aida heran.
“ Apa – apaan , kerja juga belum, “ pak Sulchan menggeleng kesal, “ Belum tentu juga dia bisa belikan kamu mesin cuci!”
Detak jantungnya seperti langsung berhenti mendengar kalimat mertuanya. Ada apa dengan mesin cuci? Seumur – umur dia tinggal bersama ibu , tidak pernah ada ribut-ribut urusan mesin cuci, tetangganya juga di kampung tidak pernah mengeluh meski telah kerja keras mencari uang, tetap dibebankan mencuci pakaian seabrek , tidak pernah ada cerita risau gara – gara mesin cuci.
“ Huh, “ pak Sulchan tiba – tiba mencibir, “ Aku jadi ingin tahu apakah Farah bahagia atau tidak hidup bersamamu!” Adam tersentak saat tanpa ramah pak Sulchan menunjuknya.
“ Aida, coba kau lihat kebelakangan, kakakmu Farah punya mesin cuci tidak ?” perintah bapaknya. Tanpa perduli akan etika bertamu Aida langsung bangkit dari duduknya sambil mengangkat bahu, dan berjalan kebelakang.
Tidak lama kemudian dia kembali sambil terus memandangi rumah mungil Adam.
“ Ada tidak ?” tanya pak Sulchan.
Aida mengangguk menginyakan pertanyaan bapaknya.
Adam tersenyum bangga.
Mesin cuci itu sudah dibelinya kemarin, seperti kata Farah, dia akan mengkreditnya. Lalu dengan segera sepulangnya dari toko electronik, dicobanya dengan malu – malu mesin cuci berwarna putih itu. Kata penjualnya sih mesin ini banyak kehebatannya, selain tidak berisik, daya cucinya ampuh! Yang lebih istimewa adalah si pemakai tidak perlu pusing – pusing beli detergen khusus mesin cuci lagi, untuk mesin yang ini sudah dirancang khusus tentang apapun detergentnya dia tetap bekerja ampuh, asal jangan pakai sabun colek! Wajahnya memerah saat Adam merobek plastik-plastik dari pinggir tubuh si mesin, lalu dengan gemas dimasukan baju- baju kotornya selama ini sambil bersiul riang, memang sejak Farah pergi dia tidak sempat mencuci baju! Tapi dia tidak menemukan pakaian kotor milik istrinya, Farah memang rajin mencuci,jadi wajar kalau semua pakaian rapih terlipat wangi didalam lemari setiap hari.
“Shhnggg… “,mesin cuci berbisik dengan halus. Adam tersenyum – senyum geli. Sambil membayangkan Farah kembali kerumahnya dengan wajah kagum akan mesin cuci diujung ruangan dekat kamar mandi.
*
No comments:
Post a Comment