Saturday, September 18, 2004

DIATAS HUMA KEBUN JAGUNG


Burhan masih menahan rasa sakit pada rahang kanannya. Kali ini nyerinya begitu terasa sampai ke dasar hati. Bisa jadi yang terluka bukan hanya gusi di sebelah kanan itu saja atau bisa jadi yang hancur bukan hanya gerahamnya, tapi hati juga rangka jiwanya mungkin ikut hancur dan runtuh. Satu pukulan ringan mendarat lagi di geraham lelaki muda itu, bapaknya, Narto memang paling jago dalam hal memukul, tidak di lapangan –di rumah, bahkan kali inipun di dalam rumah Pak RT dia tetap berniat menghabisi Burhan, putra satu-satunya itu, entah memang hobinya memukul atau memang cita – citanya jadi petinju tidak kesampaian, tapi yang jelas hobinya itu tidak disukai Burhan dan ibunya, Ummi, yang sudah hampir 7 tahun lari ke Jakarta untuk bekerja jadi pembantu rumah tangga karena sudah tidak tahan lagi tinggal bersama Narto.
“ Ibumu itu memang pelacur! “ teriaknya penuh armarah, Narto terus mengumpat dan melepaskan amarahnya, sedang Pak RT berusaha menariknya menjauh dari Burhan. “Ibunya pelacur dan anaknya jadi sepertimu, tak tahu diuntung memang punya anak sepertimu!” Narto terus menghujat, sambil mencoba kembali meraih Burhan dan berniat kembali menghajarnya
Tapi kali ini pukulan bapak bukan karena hal sepele yang biasa dihadapi Burhan sehari – hari, bukan urusan uang yang kurang untuk beli minuman, atau urusan tidak ada hidangan untuk makan, urusan ini menyangkut nama ibunya yang Burhan sendiri tidak mengerti.
Pagi tadi, sekitar pukul sembilan, Rosmini pulang dari Jakarta. Wah, ributnya seluruh orang kampung berduyun – duyun menyambut kepulangan gadis itu yang tiba dengan baju mentereng dan rupa yang jauh sama sekali berbeda, lebih ‘medok’, wajahnya jauh lebih cantik, apalagi sekarang leher dan telinganya dihiasi gandul – gandul emas. Tidak terasa tujuh tahun sudah berlalu, Rosmini akhirnya pulang ke kampung, dulu tujuh tahun yang lalu dia pergi ke Jakarta bersama Ummi , untuk mencari uang bagi keluarga di kampung , “Ketimbang di rumah saja gak ada penghasilan lebih baik sambil cari uang meski jadi pembantu rumah tangga yang penting bisa ngirim uang tiap bulan sama yang dirumah!” ujarnya dulu sambil membujuk Ummi pergi ke Jakarta.
Ribut-ributnya kepulangan gadis itu sampai juga di telinga Narto, maklumlah rumah mereka tidak terlalu jauh, apalagi satu kampung, biar dari ujung ke ujung asal satu kampung pasti semua gosip sampai dengan selamat dan merata. Tanpa mandi dan cuci muka lelaki itu dengan sarung dan kaos bututnya ikut berlari – lari menghampiri rumah Rosmini, bukan untuk menyambutnya , tapi untuk mencari tahu kabar istrinya, Ummi. Semua orang kampung tahu kalau Narto dulu tergila – gila dengan seorang gadis bernama Ummi, lelaki yang dulunya kerja di pabrik sepatu itu memang pantang menyerah, apalagi wajahnya memang lumayan ganteng. Malam minggu pertama bertandang kerumah si gadis dibawanya oleh – oleh duren, besok Minggu bawa rambutan, besoknya lagi bawa ubi sama singkong, pokoknya buat calon mertua kegirangan! Kontan gadis semata wayang Bu Janah itu kelimpungan, setiap Sabtu sepulangnya bekerja dari pabrik tenun, pasti wajah pemuda ganteng itu sudah nampang di teras rumahnya. Semakin sering Narto bertandang kerumahnya, semakin rajin gadis manis itu pergi mengaji, bagaimana tidak, gadis itu sudah dengar banyak gosip kalau lelaki tampan yang gemar memberikan oleh – oleh pada ibunya itu suka minum – minuman keras. Sebenarnya Ummi senang dengan kedatangan Narto setiap Sabtu, selain gemar memberikan oleh –oleh, lelaki itu suka memberikan uang jajan buat ibunya, maklum bapak sudah meninggal sejak Ummi berusia 12 tahun, gara – gara demam berdarah! Waktu lamaran itu datang hati Ummi tak tentu arahnya, bingung, takut dan gembira campur aduk jadi satu. Perempuan berkulit pulit itu jadi was-was kalau ketemu calon suaminya itu, “Bilang saja saya gak dirumah bu!” ujarnya dari balik pintu kamar, lalu biasanya dia mengendap – ngendap pergi ke mesjid lewat pintu belakang. Tapi atas saran Kang Haris, akhirnya Ummi mengajak Narto bicara terus terang tentang rasa cinta dan rasa gelisahnya terhadap kebiasaan minum lelaki yang juga anak semata wayang dikeluarganya. Dan sejak malam pertemuan mereka itu di huma kebun jagung, Narto berjanji akan berhenti minum – minum, “ Ha ha ha, aku minum hanya karena kesepian saja, sejak berjumpa denganmu aku sudah jarang minum kok,” kilahnya.
Rumah reyot Rosmini benar – benar penuh oleh orang – orang sekampung, anak – anak kecil sudah ngantri minta uang jajan sambil mengagumi pakaian Ros, pakaian milik orang Jakarta! Tapi Narto punya urusan penting yang tidak bisa disuruh untuk mengantri, dari kejauhan sudah terlihat wajah Pak Narto, kontan orang – orang yang bergombol memilih untuk menyingkir dari pada berurusan dengan pemabuk. Tergopoh – gopoh Narto mendesak – desak untuk masuk. “ Keur naon Kang ??” Rosmini tampak terkejut melihat Narto tiba –tiba sudah muncul didepannya , wajahnya terlihat sekali baru bangun tidur apalagi rambutnya masih berdiri begitu. Dia paham betul watak Narto ini, selain gemar mabuk, kabarnya Narto suka memukuli Burhan, Narto - Burhan dan Ummi itu memang gosip paling hangat dikampung kabupaten Cianjur itu.
“ Mana istriku?” Tanya Narto sambil celingukan kanan kiri , mencoba – coba mengintip isi rumah. Rosmini tidak mengacuhkan lelaki itu, dia tetap asyik menghitung – hitung uang ribuan untuk dibagikan pada anak – anak yang sudah pada ngantri di depannya. “Mana istriku??!” kali ini Narto menyingkirkan anak – anak yang mengantri, anak – anak itu langsung menjerit dan terjatuh sambil memanggil nama ibunya, sedang Rosmini terkejut bukan kepalang begitu tahu Narto sudah menyambar kerah bajunya, “Astaga! Apa- apaan kamu ,To?” Hampir gadis itu jatuh dari kursinya,
“ Buuuu! Ibuuu!” kontan Rosmini menjerit – jerit memanggil ibunya yang sedang repot membuka oleh – oleh makanan dari Jakarta di dapur.
“ Eh, eh , eh !” pekik ibunya sambil mendorong Narto hingga terjatuh, “ Aya naon iyeuh! Heh!”
Narto berusaha berdiri dari jatuhnya, lalu kembali menghampiri Rosmini , “ Apa salahku menanyakan istriku?”
Perempuan menor itu mencibir , “ Mana aku tahu istrimu dimana, memang aku babysitter nya?!”
Plak! Satu tamparan mendarat di pipi Rosmini, terkejut bukan kepalang, Ibu Rosmini langsung menjerit ketakutan, disusul jeritan Rosmini sendiri sambil mendorong jatuh lelaki yang hampir tua itu. “ Tolong!” jerit Ibu Rosmini sambil berlari keluar rumah minta bantuan, “ Tolong!!” Kontan pagi itu Narto langsung digiring kerumah Pak RT .
Husin, salah seorang pemuda dikampung itu mencari – cari Burhan untuk memberitahukan kalau bapaknya berurusan di rumah Pak RT. Burhan anak yang rajin, pagi – pagi dia sudah pergi ke rumah Kang Haris, disana dia membantu Kang Haris membuat beragam kerajinan tangan dari manik – manik, bukan pekerjaan rumit yang diberikan Kang Haris pada Burhan, Burhan cukup memasukan butiran manik – manik kedalam benang kenur , mengikatnya, lalu memasukannya lagi satu persatu. Kang Haris selalu membayar hasil kerja Burhan, setiap hari Kang Haris memberikan Burhan uang sebesar sepuluh ribu rupiah, untuk beli beras dan sayuran. Kang Haris sudah kenal dengan Ummi sejak dulu sebelum dia menikah, usia mereka hampir sama, tapi Kang Haris sudah menikah lebih dulu sebelum Ummi mengenal Narto, menjaga Burhan sepertinya sudah menjadi amanah bagi Kang Haris.
“ Han, bapakmu dibawa kerumah Pak RT!” Husin tergesa- gesa menghampiri Burhan yang sedang tekun memilah manik – manik, lalu dengan teliti memasukannya ke benang. “ Apa?” Burhan terkejut mendengar berita bapaknya dibawa ke rumah Pak RT , juga terkejut karena Husin muncul tiba-tiba diteras. “ Naha kitu ?” Burhan buru – buru meletakan pekerjaan tangannya lalu mendekat pada Husin. “ Ah, ikut sajalah ke rumah Pak RT, dia habis menghajar Teh Mimin!” jawab Husin. Dan dengan segera setelah pamit dengan Kang Haris, Burhan mencari bapaknya di rumah Pak RT.
Rumah Pak RT, dikerumuni banyak orang, di ruang tamu tampak Narto, Rosmini atau yang biasa dipanggil Mimin, dan ibunya serta seorang tetangga, bapaknya Husin, Pak Jono.Tampak dari kejauhan Pak RT sedang mengajak orang – orang itu untuk menjelaskan duduk perkaranya.
“Jadi kamu di Jakarta sudah jarang bertemu dengan istri Pak Narto ini?” Pak RT mencoba bertanya lagi . Rosmini mengangguk, sambil melirik melihat Burhan menaiki tangga teras menuju ruang tamu. “ Nah ini Burhan datang pak, Burhan lebih bisa diajak bicara pak ,” lanjut perempuan muda itu sambil tersenyum melihat Burhan datang. “ Duh , kasepnya,” dia mendecak kagum melihat Burhan yang sudah menginjak usia lewat dari remaja, semakin tampan saja kolaborasi ayah dan ibunya begitu nampak nyata di wajah Burhan. Tapi tiba – tiba Rosmini terdiam, seketika dia teringat akan sahabatnya Ummi. Dia tidak berani memberikan surat titipan kawannya itu pada Burhan didepan Narto.
“ Lah, Teh Mimin, ibu mana?” Burhan bertanya serta merta. Rosmini kali ini tambah bingung, apakah dia harus menjawab pertanyaan Burhan didepan Narto. Sebuah amplop berisi uang titipan Ummi dilengkapi surat yang isinya mungkin akan menyakiti hati Narto yang sebenarnya begitu terluka hatinya karena ditinggal Ummi, juga Burhan yang masih membutuhkan ibunya? “ Anu pak, saya permisi sebentar , mau kebelakang, “ tiba – tiba Rosmini menggeliat – geliat seperti menahan pergi ke belakang untuk buang air kecil. “ Oh ya, silahkan, “ Pak RT segera meluluskan permintaan Rosmini sambil menyuruh istrinya membuatkan satu gelas air putih.
Tanpa pikir panjang Rosmini langsung mengambil amplop yang dimasukan ke saku celananya sejak tadi, tanpa perduli dia merobek ujung amplop itu, mengeluarkan uang ratusan ribu dari dalamnya dan memasukannya kedalam saku celananya sendiri, hingga dalam amplop itu hanya tersisa kertas surat saja isinya. “ Ah jangan pakai amplop,” bisiknya tergesa, lalu segera kembali ke ruangan Pak RT.
“ Bagaimana Min, anda benar – benar tidak berkomunikasi lagi dengan Ummi?” Pak RT bertanya lagi. Rosmini mengangguk sambil menyodorkan kertas surat dari Ummi untuk Burhan, “ Saya minta maaf Burhan, Ummi hanya menitipkan ini .” Tanpa perduli Narto langsung merebut lipatan kertas surat yang disodorkan Rosmini. Semua terdiam, Rosmini menutup telinganya, sedang dengan mata panas dan hati tercabik – cabik Narto membaca setiap barisan tulisan istrinya, wanita yang sampai detik ini ditunggu – tunggu kepulangannya. Wanita yang masih dia cintai. Semua diam, Pak RT sendiri tidak bisa melarang Narto membaca surat dari istrinya.
Tiba – tiba lelaki itu bangkit dari duduknya, dan langsung mencengkram baju Burhan, dan memukulinya. Semua menjerit, Pak RT segera berusaha menarik Narto menjauh dari anaknya, semua orang didalam ruang tamu Pak RT menjerit – jerit ketakutan, orang - orang yang menonton sejak tadi langsung masuk dan menolong Pak RT menenangkan Narto. Narto langsung lari meninggalkan rumah Pak RT sambil menjerit – jerit, entah apa yang terjadi. Burhan langsung berdiri hendak menyusul bapaknya, tapi Rosmini langsung meraih tangannya, “ Ini ada titipan uang dari Ibumu, “ ujarnya sambil menyerahkan uang ratusan ribu dengan canggung pada Burhan. Burhan terkesima, lalu langsung memasukan uang itu ke saku, dan mengejar Narto sambil menahan sakit pada gerahamnya.
Narto tidak ditemukan dimanapun, tidak di rumah, juga di warung kopi tempatnya biasa memasang nomor buntut. Apa isi surat itu? Kenapa bapak harus lari dan menghilang.Hari itu jam sudah menunjukan hampir pukul dua belas, cuaca sangat terik , panasnya menggigit kulit. Burhan terus memanggil – manggil nama bapaknya, dan langkahnya terhenti saat dia melihat bapaknya sedang berdiri di sisi huma reyot di kebun jagung tak jauh dari kampung . Lelaki yang sudah hampir tua itu berdiri gemetar sambil memegang tiang bambu yang dipasang untuk menopang huma itu. Burhan mendekatinya perlahan, “ Pak?” dengan lembut Burhan menyentuh pundak bapaknya. Tapi Narto diam, dia tidak lagi memukul Burhan, bahkan dia tidak menjawab pertanyaan Burhan. Dia diam dan tenggelam dalam pikirannya sendiri, di huma bilik ini dulu Narto dan Ummi sering memandangi matahari tenggelam, di huma ini juga mereka berjanji akan selalu setia. Di huma tua ini Narto memberikan Ummi setangkai mawar dan berjanji berhenti minum. Lelaki itu lalu menangis. “Kami janji selalu setia, “ tiba – tiba suara Narto terdengar gemetar. Burhan terkejut , dia tidak pernah melihat bapaknya menangis, bahkan dulu waktu Ibu pergi, bapaknya tidak menangis sedikitpun. Tubuh lelaki tua itu tiba – tiba berguncang hebat, lalu menangis begitu keras. Buru – buru Burhan memeluk tubuh bapaknya yang kurus, “ Istighfar pak, ada apa?” Tapi lelaki itu hanya menangis , suaranya begitu menyayat, mulutnya seperti mengatakan sesuatu tapi yang keluar hanya suara tangis.
Adzan bergema, tangis Narto tidak berhenti. “ Pak , tenanglah, nyebut pak,” Burhan mencoba menenangkan bapaknya. Tapi Narto menggeleng, air mata terus mengalir tanpa henti sedang tubuhnya seperti kejang – kejang karena demam tinggi. Burhan langsung menarik pundak bapaknya, seketika tubuh bapaknya melemas dan jatuh begitu pada pelukan Burhan. “Pak, Pak?!” panggil Burhan sambil menahan tubuh bapaknya yang sudah tidak lagi bernyawa.
Sebuah photo keluarga bahagia terselip dalam surat itu, Ummi tersenyum ceria sambil memangku dua anaknya, sedang seorang lelaki berdarah bule tampak bangga berdiri dibelakang mereka.



Keterangan tambahan :
Teteh : panggilan kakak perempuan bagi masyarakat seputar Pasundan. Kakang/Kang : panggilan untuk laki-laki. Keur Naon : Hendak apa , Nanaoan yeuh : ada apa ini.

Biografi singkat penulis :
Yeanny Suryadi, lahir tahun 1980 di Bandung bulan September tanggal 2. Beberapa karya tulisnya telah dimuat majalah Islam lokal (edisi cetak ), Al – Mihrab Semarang, dikomentari secara hangat oleh JJ Kusni, sedang karya tulis lainnya dimuat pada media elektronik www.penulislepas.com , juga pada milist panggung.







































No comments: